Ternyata Ada Desa Konservasi di Yogyakarta

Ternyata Ada Desa Konservasi di Yogyakarta
info gambar utama
  • Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kulon Progo, Yogyakarta adalah desa yang menyimpan potensi keragaman fauna dan flora serta potensi alam yang luar biasa.
  • Desa Jatimulyo mempunyai keanekeragaman hayati yang besar seperti 97 jenis burung, 30-an jenis moluska, 30 jenis capung, 100-an jenis kupu-kupu, dan 30-an jenis anggrek.
  • Keinginan untuk mengkonservasi kekayaan alam berawal dari inisiatif warga desanya sendiri setelah banyak eksploitasi alam dan perburuan burung di wilayah tersebut
  • Desa Jatimulyo patut sebagai wilayah cagar alam atau perlindungan khusus

Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta adalah desa yang sangat unik. Desa ini menyimpan potensi keragaman fauna dan flora serta potensi alam yang luar biasa.

Beberapa penelitian dan pendataan, baik dari pihak luar maupun internal desa, menyebutkan bahwa paling tidak ada sekitar 20 gua, 97 jenis burung, 30-an jenis moluska (siput), 30 jenis capung, 100-an jenis kupu-kupu, 30-an jenis anggrek, dan ada banyak ditemukan fosil terumbu karang. Belum lagi jenis fauna lainnya seperti serangga dan yang lainnya.

Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kulon Progo, Yogyakarta adalah desa yang menyimpan potensi keragaman fauna dan flora serta potensi alam yang luar biasa. Desa Jatimulyo mempunyai keanekeragaman hayati yang besar seperti 97 jenis burung, 30-an jenis moluska, 30 jenis capung, 100-an jenis kupu-kupu, dan 30-an jenis anggrek. Keinginan untuk mengkonservasi kekayaan alam berawal dari inisiatif warga desanya sendiri setelah banyak eksploitasi alam dan perburuan burung di wilayah tersebut Desa Jatimulyo patut sebagai wilayah cagar alam atau perlindungan khusus Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta adalah desa yang sangat unik. Desa ini menyimpan potensi keragaman fauna dan flora serta potensi alam yang luar biasa. Beberapa penelitian dan pendataan, baik dari pihak luar maupun internal desa, menyebutkan bahwa paling tidak ada sekitar 20 gua, 97 jenis burung, 30-an jenis moluska (siput), 30 jenis capung, 100-an jenis kupu-kupu, 30-an jenis anggrek, dan ada banyak ditemukan fosil terumbu karang. Belum lagi jenis fauna lainnya seperti serangga dan yang lainnya. Kondisi alam Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kulon Progo, Yogyakarta adalah desa yang menyimpan potensi keragaman fauna dan flora serta potensi alam yang luar biasa. Foto : Anton Wisuda/Mongabay Indonesia Ini luar biasa untuk potensi sebuah desa. Apalagi dahulu kala banyak pemburu burung yang dibiarkan bertahun-tahun. Kesadaran mulai timbul sekitar 5 tahun yang lalu, ketika beberapa orang yang tinggal di desa itu, diantaranya Kepala Desa Jatimulyo, Anom Sucondro dan warganya Kelik Suparno, merasa kehidupan alami desanya mulai hilang. Anom memulainya dengan Peraturan Desa No.8/2014 tentang lingkungan hidup, yang tentunya disertakan sanksi pidana dan perdata (denda Rp5-10 juta). Menurutnya, masyarakat yang dulunya seperti menelantarkan potensi alam yang luar biasa, yang dipunyai desa ini, didorongnya untuk berubah dengan Perdes itu. Dan ini juga masuk ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) Selain itu, seperti dikutip Kompas.com, ada Perdes Pengelolaan Sumber Daya Air Desa, Perdes Perlindungan Karst Mandiri Desa, dan Perdes Lembaga Kemasyarakatan Desa. Anakan burung cabe api Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kulon Progo, Yogyakarta. Foto : Anton Wisuda/Mongabay Indonesia Air berlimpah yang dimiliki desa ini karena banyak sumber air, dulunya justru hanya dinikmati desa lain, tetapi sekarang mulai dikelola dengan baik. Desa jatimulyo kini menikmati air dengan bersama dengan desa lainnya, dengan pengaturan yang baik pula. Dan yang lebih penting lagi adalah, tidak diperbolehkannya perburuan hewan apapun, terutama burung di desa ini. Selain juga pelarangan pemetikan dan pengambil berbagai jenis floranya. Misalnya saja, penebangan pohon harus mendapatkan surat izin dari desa walaupun di tanah sendiri dan diwajibkan menanam pohon pengganti. Seekor bunglon desa konservasi Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kulon Progo, Yogyakarta. Foto : Anton Wisuda/Mongabay Indonesia Keanekaragaman hayati Desa Jatimulyo memang luar biasa. Bahkan ditemukan beberapa spesies unik. Pada awalnya, Anom merasa tidak mengenal konservasi. Hanya merasa bahwa kekayaan alamnya harus dirawat agar alam desanya asri dan lestari. Hal itu diamini Kelik. Pada awalnya Kelik adalah pemburu burung. Dia tersadar berburu itu salah ketika suara-suara burung mulai menghilang dari kebun dan hutan desanya. Kehidupannya berburu bersama teman-teman desanya harus diakhiri. Dia khawatir anak cucunya nanti tidak pernah lagi melihat burung-burung yang dia lihat di masa lalu. Ditambah lagi, kedatangan teman-teman dari berbagai komunitas lingkungan serta fotografer burung ke desanya, semakin memantapkan niatnya untuk melestarikan desanya. Bersama teman-teman, Kelik mulai belajar mencintai alam. Dari pemburu menjadi pelestari. Seekor burung cekakak jawa di desa konservasi Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo, Yogyakarta. Foto : Anton Wisuda/Mongabay Indonesia Sekarang Kelik dengan keahlian khususnya tentang burung selama menjadi pemburu pada masa lalu, dipergunakannya untuk menjaga burung-burung, menemani para peneliti, serta fotografer alam liar. Menurutnya, ada beberapa species unik yang ada di desa ini, seperti gelatik jawa, suling, pelatuk, dan cekakak jawa. Bahkan melalui usahanya sebagai petani dan pemilik kedai kopi suling, mereka membuat program adopsi sarang burung, yaitu bila warga menemukan sarang burung di lahan pertaniannya, kemudian memberitahu dan menjaganya dari perburuan, maka akan diberikan imbalan uang dari keuntungan kedai kopi mereka. Seekor burung pijantung desa Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo, Yogyakarta. Foto : Anton Wisuda/Mongabay Indonesia Seorang pemerhati lingkungan, Sidik Harjanto, yang juga sekarang menggerakkan warga Desa Jatimulyo beternak madu klanceng menjelaskan Peneliti dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cahyo Rahmadi bersama Peneliti dari Leiden, Belanda, Jeremy Miller menemukan spesies laba-laba gua eksotis di kawasan Bukit Manoreh pada 2012. Spesies itu dinamai Amauropelma mata kecil. Usaha pelestarian di Desa Jatimulyo menunjukan perkembangan yang signifikan. Burung-burung yang dulu menghilang mulai berdatangan kembali. Potensi-potensi alam desa, benar-benar dijaga dan dirawat dengan baik. Setidaknya ada 12 destinasi wisata yang memanfaatkan kekayaan alam di desa Jatimulyo, seperti air terjun Kedung Pedut, Taman Ekowisata Sungai Mudal, air terjun Kembang Soka, Goa Kiskendo, yang bernilai ekonomis bagi warga desa. Belum lagi turis mancanegara yang datang untuk melakukan aktivitas pengamatan burung. Seekor ulat bulu, salah satu kekayaan fauna di desa konservasi Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kulon Progo, Yogyakarta. Foto : Anton Wisuda/Mongabay Indonesia Dengan aktivitas dan potensinya itu, Desa Jatimulyo dapat ditetapkan sebagai wilayah cagar alam atau perlindungan khusus sebagai penguatan untuk warga mengelola desanya. Alam akan menunjukan caranya berterimakasih, ketika dirinya dirawat dengan baik. Suara alam pun kini seakan bernyanyi bersahutan di pagi hari menyapa kehidupan di desa ini. Desa Jatimulyo.
info gambar

Ini luar biasa untuk potensi sebuah desa. Apalagi dahulu kala banyak pemburu burung yang dibiarkan bertahun-tahun. Kesadaran mulai timbul sekitar 5 tahun yang lalu, ketika beberapa orang yang tinggal di desa itu, diantaranya Kepala Desa Jatimulyo, Anom Sucondro dan warganya Kelik Suparno, merasa kehidupan alami desanya mulai hilang.

Anom memulainya dengan Peraturan Desa No.8/2014 tentang lingkungan hidup, yang tentunya disertakan sanksi pidana dan perdata (denda Rp5-10 juta). Menurutnya, masyarakat yang dulunya seperti menelantarkan potensi alam yang luar biasa, yang dipunyai desa ini, didorongnya untuk berubah dengan Perdes itu. Dan ini juga masuk ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes)

Selain itu, seperti dikutip Kompas.com, ada Perdes Pengelolaan Sumber Daya Air Desa, Perdes Perlindungan Karst Mandiri Desa, dan Perdes Lembaga Kemasyarakatan Desa.

Anakan burung cabe api Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kulon Progo, Yogyakarta | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
info gambar

Air berlimpah yang dimiliki desa ini karena banyak sumber air, dulunya justru hanya dinikmati desa lain, tetapi sekarang mulai dikelola dengan baik. Desa jatimulyo kini menikmati air dengan bersama dengan desa lainnya, dengan pengaturan yang baik pula.

Dan yang lebih penting lagi adalah, tidak diperbolehkannya perburuan hewan apapun, terutama burung di desa ini. Selain juga pelarangan pemetikan dan pengambil berbagai jenis floranya. Misalnya saja, penebangan pohon harus mendapatkan surat izin dari desa walaupun di tanah sendiri dan diwajibkan menanam pohon pengganti.

Seekor bunglon desa konservasi Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kulon Progo, Yogyakarta | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
info gambar

Keanekaragaman hayati Desa Jatimulyo memang luar biasa. Bahkan ditemukan beberapa spesies unik. Pada awalnya, Anom merasa tidak mengenal konservasi. Hanya merasa bahwa kekayaan alamnya harus dirawat agar alam desanya asri dan lestari.

Hal itu diamini Kelik. Pada awalnya Kelik adalah pemburu burung. Dia tersadar berburu itu salah ketika suara-suara burung mulai menghilang dari kebun dan hutan desanya. Kehidupannya berburu bersama teman-teman desanya harus diakhiri. Dia khawatir anak cucunya nanti tidak pernah lagi melihat burung-burung yang dia lihat di masa lalu.

Ditambah lagi, kedatangan teman-teman dari berbagai komunitas lingkungan serta fotografer burung ke desanya, semakin memantapkan niatnya untuk melestarikan desanya. Bersama teman-teman, Kelik mulai belajar mencintai alam. Dari pemburu menjadi pelestari.

Seekor burung cekakak jawa di desa konservasi Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo, Yogyakarta | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
info gambar

Sekarang Kelik dengan keahlian khususnya tentang burung selama menjadi pemburu pada masa lalu, dipergunakannya untuk menjaga burung-burung, menemani para peneliti, serta fotografer alam liar.

Menurutnya, ada beberapa species unik yang ada di desa ini, seperti gelatik jawa, suling, pelatuk, dan cekakak jawa.

Bahkan melalui usahanya sebagai petani dan pemilik kedai kopi suling, mereka membuat program adopsi sarang burung, yaitu bila warga menemukan sarang burung di lahan pertaniannya, kemudian memberitahu dan menjaganya dari perburuan, maka akan diberikan imbalan uang dari keuntungan kedai kopi mereka.

Seekor burung pijantung desa Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo, Yogyakarta | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
info gambar

Seorang pemerhati lingkungan, Sidik Harjanto, yang juga sekarang menggerakkan warga Desa Jatimulyo beternak madu klanceng menjelaskan Peneliti dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cahyo Rahmadi bersama Peneliti dari Leiden, Belanda, Jeremy Miller menemukan spesies laba-laba gua eksotis di kawasan Bukit Manoreh pada 2012. Spesies itu dinamai Amauropelma mata kecil.

Usaha pelestarian di Desa Jatimulyo menunjukan perkembangan yang signifikan. Burung-burung yang dulu menghilang mulai berdatangan kembali. Potensi-potensi alam desa, benar-benar dijaga dan dirawat dengan baik.

Setidaknya ada 12 destinasi wisata yang memanfaatkan kekayaan alam di desa Jatimulyo, seperti air terjun Kedung Pedut, Taman Ekowisata Sungai Mudal, air terjun Kembang Soka, Goa Kiskendo, yang bernilai ekonomis bagi warga desa. Belum lagi turis mancanegara yang datang untuk melakukan aktivitas pengamatan burung.

Seekor ulat bulu, salah satu kekayaan fauna di desa konservasi Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kulon Progo, Yogyakarta | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
info gambar

Dengan aktivitas dan potensinya itu, Desa Jatimulyo dapat ditetapkan sebagai wilayah cagar alam atau perlindungan khusus sebagai penguatan untuk warga mengelola desanya.

Alam akan menunjukan caranya berterimakasih, ketika dirinya dirawat dengan baik. Suara alam pun kini seakan bernyanyi bersahutan di pagi hari menyapa kehidupan di desa ini. Desa Jatimulyo.


Sumber: Ditulis oleh Anton Wisuda dan diposting dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini