Cap Go Meh Singkawang yang Menyerukan Perdamaian dalam Kehidupan Para Penghuninya

Cap Go Meh Singkawang yang Menyerukan Perdamaian dalam Kehidupan Para Penghuninya
info gambar utama

Matahari pukul 10 pagi pada hari Selasa lalu di Singkawang, Kalimantan Barat bersinar terang, menambah sensasi dan kegembiraan yang dibawa oleh kelompok-kelompok tatung (kata dari Tionghoa Hakka untuk orang-orang yang dirasuki oleh para dewa atau roh nenek moyang) yang mengenakan pakaian suku Dayak.

Kelompok tatung dan penonton berkumpul di pusat Singkawang hari itu, hari ke 15 bulan pertama kalender lunar, untuk puncak dari festival Cap Go Meh.

Seorang tatung wanita yang diarak di perayaan Cap Go Meh 2019 di Singkawang duduk di atas pisau parang | Foto: Severianus Endi / Jakarta Post
info gambar

Di antara kelompok-kelompok tatung adalah wanita yang mengenakan kostum yang terinspirasi oleh bangsawan Tiongkok dari masa lalu, bercampur dengan gaya suku Dayak. Mereka berdiri, menari, atau melompat-lompat di atas pisau parang. Tatung yang lain memamerkan keterampilan luar biasa mereka dengan ditusuk di mulut, pipi, bibir, dan telinga dengan tongkat logam tanpa menderita rasa sakit atau luka.

Panitia Cap Go Meh dari Singkawang mengatakan 860 tatung berpartisipasi dalam perayaan utama Cap Go Meh pada hari Selasa lalu. Acara ini, perayaan seluruh kota, menarik ribuan pengunjung dan menyebabkan kemacetan lalu lintas. Hotel dan jenis akomodasi lainnya telah dipesan penuh untuk perayaan tersebut.

Berkah tahunan ini menguntungkan banyak orang, termasuk A Khun, pemilik kedai kopi Warung Kopi Ajun. Toko ini terletak dekat dengan lokasi festival. Meskipun A Khun tidak menaikkan harga makanannya, keuntungannya meningkat cukup signifikan selama dua hari.

Bagian dari tatung dengan kostum mewahnya yang menjadi bagian dari Cap Go Meh 2019 | Foto: Severianus Endi / Jakarta Post
info gambar

“Pada malam sebelum parade lentera, kota ini sangat sibuk. Sulit untuk bergerak karena ada begitu banyak orang di jalan. Pada jadwal hari ini adalah parade tatung dan bagi saya itu lebih menguntungkan daripada biasanya,” kata A Khun seperti dikutip dari The Jakarta Post.

Sebagaimana Cap Go Meh selalu sangat dinanti oleh orang-orang baik dari dalam dan luar Pulau Kalimantan, pintu gerbang ke kota benar-benar macet pada hari Selasa. Bendahara daerah asosiasi pemandu wisata Kalimantan Barat, Eni Yusnita, mengatakan bahwa kliennya harus memesan tiket dan akomodasi jauh sebelumnya.

“Kali ini saya menemani sekelompok dokter yang sedang dalam perjalanan reuni, dengan menonton tatung tertera di jadwal. Saya memiliki tanggung jawab untuk mengomunikasikan kisah nyata tatung. Ini lebih dari sekedar [cerita] hantu, tetapi ritual pembersihan untuk kota sambil melestarikan tradisi,” kata Eni.

Walikota Singkawang, Tjhai Chui Mie, mengatakan bahwa Cap Go Meh memperkuat posisi kota ini sebagai kota yang paling toleran di Indonesia, sejalan dengan gelar yang diterima dari Setara Institute (lembaga kebijakan berbasis di Indonesia yang melakukan penelitian dan advokasi mengenai demokrasi, kebebasan politik dan hak asasi manusia) pada tahun 2018.

Salah satu alasannya adalah karena warga dari berbagai etnis didorong untuk mengambil bagian dalam festival ini.

“Orang-orang dari banyak etnis di Singkawang ikut serta dalam acara ini. Saya sangat berterima kasih. Harmoni terletak di dasar perkembangan kami,” kata Tjhai Chui Mie.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan bahwa Cap Go Meh di Singkawang adalah salah satu dari 100 acara nasional yang disoroti. Dia juga mengatakan setiap acara selalu mewujudkan dua nilai: budaya dan komersial.

“Di sisi budaya, Cap Go Meh adalah identitas budaya yang menyatukan bangsa. Sementara itu, di sisi komersial, acara ini diharapkan berdampak pada kesejahteraan sosial,” kata Arief.

Sebelum acara utama, Cap Go Meh di Singkawang terdiri dari serangkaian kegiatan, termasuk "membuka mata naga", yang bertujuan untuk menanamkan arwah para leluhur ke dalam 12 replika naga yang kemudian dilakukan di sekitar kota. Pertunjukan itu diharapkan dapat menangkal kejahatan, nasib buruk, dan menyerukan perdamaian dalam kehidupan para penghuninya.

Pengunjung yang menghadiri perayaan Cap Go Meh 2019 di Singkawang | Foto: Severianus Endi
info gambar

Cap Go Meh telah menarik perhatian internasional, yang mengarah ke penerbitan Surat Inventaris Kekayaan Intelektual Komunal. Dokumen itu diserahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna H. Laoly kepada Walikota Tjhai Chui Mie pada hari Senin.

Yasonna mengatakan bahwa Cap Go Meh di Singkawang adalah bagian dari kekayaan budaya Indonesia dan merupakan magnet bagi pengunjung Indonesia dan asing, memberikan kontribusi terhadap pendapatan dan pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut.


Sumber: Jakarta Post

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini