Apa Bedanya MRT, LRT, dan KRL?

Apa Bedanya MRT, LRT, dan KRL?

Rangkaian MRT tiba di Depo Stasiun Lebak Bulus © jakartamrt.co.id

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

  • Jakarta akan memiliki moda transportasi umum baru, MRT namanya.
  • Selanjutnya akan disusul LRT, menemani MRT dan sang saudara tua, KRL.
  • Namun, apakah kamu sudah tahu perbedaan tiga jenis kereta itu?

Jakarta bersiap menyambut moda transportasi umum baru yang mulai dioperasikan bulan ini. Kereta MRT dengan nama Ratangga, akan segera diluncurkan untuk mengangkut para penumpang di ibu kota negara Indonesia.

Dengan melintasi rel, moda transportasi ini akan menjadi opsi baru bagi warga Jakarta yang hendak bepergian di dalam kota dan ingin menghindari kemacetan. Solusi ini mirip seperti yang terdapat di beberapa negara maju, yang menjadikan kereta sebagai transportasi umum andalannya.

Di Jakarta sendiri sebelumnya sudah ada Commuter Line atau yang juga dikenal sebagai KRL. Lalu, apa yang membedakan MRT (Mass Rapid Transit) dengan KRL (Kereta Rel Listrik), dan LRT (Light Rapid Transit) yang juga akan segera dioperasikan di Jakarta.

Mari kita mulai menelisik perbedaannya dari MRT. Kereta berjumlah 6 gerbong ini memiliki waktu tempuh lebih cepat, karena tidak melewati perlintasan sebidang. MRT akan melintas di rel layang dan bawah tanah, sehingga tidak bentrok dengan KRL atau kereta jarak jauh. Ini memungkinkan frekuensi keberangkatannya tiap 5-10 menit.

Adanya MRT juga tidak akan menghambat laju kendaraan di jalan raya, karena membuat palang pintu perlintasan rel tidak lebih sering tertutup dibandingkan saat ini. Untuk tarifnya belum ditentukan, tapi tiket kereta yang berkapasitas 1.900 penumpang ini diperkirakan berkisar antara Rp 8.500-10.000.

Lalu bagaimana dengan LRT? Konsepnya mirip dengan MRT, tapi dengan jumlah gerbong yang lebih sedikit. Di Jakarta, LRT akan berjumlah 3-4 gerbong dengan kapasitas 600-an penumpang. Jalurnya juga beda, karena hanya melewati jalur layang, tidak melintasi jalur bawah tanah.

Kemudian untuk KRL sang ‘saudara tua’, per rangkaian keretanya bisa menampung lebih dari 2.000 penumpang. Ini dikarenakan satu rangkaian KRL berjumlah 8-10 gerbong. Jalur lintasannya berada di atas tanah, dan sebagian besar berupa perlintasan sebidang. Hanya rute Manggarai-Stasiun Kota yang dilewati jalur layang bukan perlintasan sebidang.


Sumber: KOMPAS.com

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga60%
Pilih SedihSedih3%
Pilih SenangSenang18%
Pilih Tak PeduliTak Peduli3%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi5%
Pilih TerpukauTerpukau13%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Martha Tilaar, Sariayu, dan Semangat untuk Terus Maju Sebelummnya

Martha Tilaar, Sariayu, dan Semangat untuk Terus Maju

Siapa Sangka, Inilah Produk-Produk Buatan Indonesia yang Ternyata Mendunia Selanjutnya

Siapa Sangka, Inilah Produk-Produk Buatan Indonesia yang Ternyata Mendunia

Aditya Jaya Iswara
@adityajoyo

Aditya Jaya Iswara

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.