Guru Besar IPB Manfaatkan Kayu Merbau untuk Pencerah Kulit

Guru Besar IPB Manfaatkan Kayu Merbau untuk Pencerah Kulit
info gambar utama

Prof. Dr. Irmanida Batubara, S.Si, M.Si, Guru Besar Tetap Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Pertanian Bogor (IPB), memanfaatkan limbah kayu merbau sebagai bahan aktif untuk antipenuaan terutama untuk mencerahkan kulit.

Dalam konferensi pers Pra Orasi Ilmiah di Kampus IPB Baranangsiang, Bogor (21/2), Prof. Irmanida menjelaskan bahwa untuk dikembangkan sebagai produk pencerah kulit, kayu merbau sudah sulit ditemukan.

“Senyawa aktif pada kayu merbau adalah robidanol. Karena kayu merbau ini langka, maka perlu dibuat sintesis robidanol untuk kemudian digunakan menjadi produk pencerah kulit,” ujarnya.

Dalam paparannya, Prof. Irmanida banyak menjelaskan mengenai sumber biofarmaka yang banyak tersedia di Indonesia dan dapat dimanfaatkan untuk kebugaran dan kecantikan. Seleksi biofarmaka untuk kebugaran dapat dieksplorasi melalui pendekatan kimia bioanalitik (salah satu cabang ilmu kimia).

Dalam beberapa risetnya, Prof. Irmanida menggunakan teknik bioasai sebagai salah satu bagian dari kimia bioanalitik. Dari teknik ini, Prof. Irmanida berhasil memanfaatkan kayu secang sebagai anti jerawat.

“Untuk menentukan biofarmaka yang potensial sebagai anti jerawat, kami menggunakan teknik bioasai anti bakteri, penghambat kerja enzim lipase, antioksidan dan penghambat produksi TNF-a (tahapan munculnya jerawat). Kayu secang merupakan sumber biofarmaka yang paling berpotensi dengan brazilin sebagai senyawa aktif yang dapat digunakan sebagai senyawa penciri antijerawat,” terangnya.

Selain itu, Prof. Irmanida juga menemukan bahwa minyak atsiri Indonesia memiliki efek menurunkan bobot badan hewan uji yang menghirup atau menginhalasi minyak tersebut. Menghirup minyak sereh wangi mampu menurunkan berat bobot badan, namun efek penurunan paling besar pada inhalasi sitronelol, yaitu senyawa pada minyak sereh wangi.

Inhalasi ini menurunkan bobot badan dengan cara meningkatkan aktivitas syaraf simpatetik sehingga terjadi lipolisis yang mengubah lemak menjadi asam lemak dengan melepaskan kalor.

“Hasil-hasil riset ini merupakan hasil kerjasama dengan berbagai pihak baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Usaha konservasi dan budidaya berbasis bahan aktif untuk menyediakan bahan baku biofarmaka sangat diperlukan. Oleh karena itu, dengan kerja sama harmonis semua pihak, biofarmaka Indonesia dapat dijaga, dilestarikan dan dikembangkan untuk kebugaran dan kesejahteraan masyarakat,” imbuhnya.


Sumber: www.ipb.ac.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

YI
AI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini