Petualangan Mapala UI Menjelajah Bumi Cenderawasih

Petualangan Mapala UI Menjelajah Bumi Cenderawasih

Foto bersama panitia, pembicara, dan peserta Nobar Pace pada 1/3/19 di CGV FX Sudirman © Mapala UI

Siapa bilang destinasi wisata di Papua Barat hanya Raja Ampat? Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) berhasil membuktikan bahwa di Papua Barat masih menyimpan segudang keindahan alam yang potensial untuk dijadikan destinasi wisata. Melalui Ekspedisi Bumi Cenderawasih, Mapala UI berhasil menemukan lokasi-lokasi yang belum banyak diketahui publik.

Pada Januari 2018 lalu, persiapan dan riset dilakukan, berbagai data yang dibutuhkan dikumpulkan untuk bekal perjalanan. Selama kurang lebih enam bulan memersiapkan segala hal yang diperlukan, Juli 2018, tim advance berangkat terlebih dulu untuk mencari relasi dari pemerintah daerah dan warga lokal. Kemudian, Agustus 2018, seluruh tim besar berangkat menuju Papua.

“Tim besar terdiri dari tim pelayanan kesehatan Bhakti Papua dan atlet ekspedisi,” kata Muhammad Jazmi, Ketua Mapala UI, dikutip dari Liputan6.com.

Sejak awal direncanakannya kegiatan, Mapala UI memang menargetkan Papua sebagai tujuan ekspedisi. Mereka melihat masih banyak potensi wisata di Papua Barat yang belum tereksplorasi. Usai menimbang situasi dan kondisi, Mapala UI memilih tempat yang masih mungkin mereka jangkau serta direkomendasikan sebagai destinasi baru wisata petualangan. Tempat tersebut adalah Pegunungan Arfak, yang juga dekat dengan Kabupaten Manokwari.

Tempat Strategis untuk Wisata Petualangan

Pegunungan Arfak dipilih karena jadi tempat strategis untuk melakukan tiga wisata petualangan yang meliputi; arus deras, paralayang, serta telusur gua.

Untuk olahraga arus deras, Mapala UI mengeksplorasi Sungai Prafi di Kabupaten Manokwari. Berdasarkan hasil uji coba empat kayaker dan satu instruktur arung jeram. Terdapat beberapa grade jeram di sungai itu. Ada beberapa bagian sungai yang jeramnya hanya cocok dilalui kayaker berpengalaman. Namun, ada juga yang bisa diarungi wisatawan dengan menggunakan perahu karet.

Pengarungan perdana Sungai Prafi di Papua Barat menggunakan kayak oleh pengarung jeram Mapala UI pada Agustus 2018 lalu dalam kegiatan Ekspedisi Bumi Cenderawasih

Pengarungan perdana Sungai Prafi di Papua Barat menggunakan kayak oleh pengarung jeram Mapala UI pada Agustus 2018 lalu dalam kegiatan Ekspedisi Bumi Cenderawasih. (dok. Mapala UI)

Tak hanya itu, di dekat Sungai Prafi juga terdapat Mokwam Bird Watch. Di sana wisatawan disuguhkan eksotika burung khas Papua langsung di habitatnya. Pegunungan di sekitar Sungai Prafi juga bisa menjadi wahana bagi wisatawan yang senang trekking dan camping.

Sementara untuk kegiatan paralayang telah diuji coba dari dua bukit, yakni Bukit Kobrey dan Bukit Tombrok. Pemandangan danau kembar, Anggi Giji dan Anggi Gida, menjadi sensasi tersendiri selama melayang-layang di langit Pegunungan Arfak. "Kami yang pertama menerbangkan paralayang di situ," ujar Jazmi. Untuk titik mendarat, dapat ditemui di berbagai lapangan yang ada di pemukiman sekitar danau kembar tersebut. Mapala UI merekomendasikan lokasi itu untuk menjadi tempat penerbangan paralayang tandem.

Lepas landas pertama oleh penerbang paralayang Mapala UI di Pegunungan Arfak pada 17 Agustus 2018 silam dalam kegiatan Ekspedisi Bumi Cenderawasih. (dok. Mapala UI)

Rekomendasi lainnya dari Mapala UI adalah wisata petualangan telusur gua. Di kawasan karst Distrik Testega, Pegunungan Arfak, terdapat 17 mulut gua yang dipetakan oleh tim Mapala UI. Sebagian besar mulut gua yang ditemukan, masih dalam kondisi tertutup tanah dan pepohonan. Berdasarkan riset yang dilakukan, terdapat black hole di kawasan tersebut yang masih belum ditemui keberadaanya.

Penelusur gua Mapala UI di kawasan karst Distrik Testega, Papua Barat dalam kegiatan Ekspedisi Bumi Cenderawasih pada Agustus 2018 silam. (dok. Mapala UI)

Dari sekian banyaknya potensi wisata yang bisa dikembangkan, masih ada pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan bersama, yakni sulitnya medan untuk sampai ke sana. Akses jalan menuju Pegunungan Arfak masih belum beraspal. Namun, jika dilihat dari perspektif berbeda, hal ini merupakan potensi lain yang ada di sana. Sulitnya medan justru bisa dikemas menjadi arena off-road. Tempat menginap pun tidak kalah unik, wisatawan bisa mencoba pengalaman baru bermalam di rumah kaki seribu khas Pegunungan Arfak.

Ketua Pelaksana Ekspedisi Bumi Cenderawasih ketika disambut oleh penduduk Pegunungan Arfak di depan Rumah Kaki Seribu pada Agustus 2018 silam. (dok. Mapala UI)

Nobar Pace dan Berbagai Harapan

Berbagai hasil temuan dari Ekspedisi Bumi Cenderawasih nantinya akan disusun sebagai bentuk rekomendasi untuk diberikan kepada pemerintah daerah setempat dan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Selain itu, Mapala UI yang juga bekerja sama dengan Unit Kegiatan Mahasiswa Seni dan Alam Institut Kesenian Jakarta (UKM Sendal IKJ) mengabadikan ekspedisi ini ke dalam film pendek berjudul “Pesona Alam Cenderawasih” (Pace).

Jumat, 1 Maret 2019 lalu, bertempat di CGV FX Sudirman, Jakarta, dihelat sebuah acara bertajuk “Nonton Bareng Pesona Alam Cenderawasih” (Nobar Pace). Tujuan diselenggarakan acara ini adalah memaparkan hasil temuan potensi pariwisata di Papua barat kepada para pemangku kepentingan. Pemangku kepentingan yang dimaksud ialah perusahaan yang bergerak di industri pariwisata dan calon turis yang berminat berwisata ke Papua Barat.

Bincang Wisata bersama Amalia Yunita (Ketua FAJI dan pelaku bisnis petualangan), Wahyu Adityo P. (travel journalist Kompas.com), dan Gregorius Benhard (atlet Ekspedisi Bumi Cenderawasih) djmoderatori oleh Satya Winnie (travel blogger, social media specialist) dalam acara Nobar Pace di CGV FX Sudirman pada 1/3/19. (dok. Mapala UI)

Selain menyaksikan film tentang keindahan bumi cenderawasih. Pada kesempatan itu juga diselenggarakan bincang wisata bersama Amalia Yunita, Ketua Federasi Arung Jeram dan pelaku bisnis wisata petualangan; Wahyu Adityo Projo, travel journalist di Kompas.com; Gregorious Benhard, salah satu atlet dalam Ekspedisi Bumi Cenderawasih. Bincang wisata itu dipandu oleh Satya Winnie, seorang travel blogger yang juga pilot paralayang berlisensi.

“Kami harap dengan acara ini, minat masyarakat muda untuk berlibur ke Papua Barat semakin meningkat. Selama ini kebanyakan orang mengira di Papua Barat hanya ada Raja Ampat yang layak dikunjungi, padahal ada banyak situs lainnya yang juga tidak kalah menarik,”ujar Diah Puspitarini, Ketua Pelaksana Nobar Pace.

Pihak-pihak yang hadir dalam kesempatan itu juga berharap, Ekspedisi Bumi Cenderawasih tidak berhenti sampai di sini. Masih banyak hal yang perlu di eksplorasi agar bumi Papua semakin maju ke arah yang lebih baik. “Saya sangat senang adanya kegiatan ini. Ini membuktikan masih banyak saudara-saudara yang perhatian dengan Papua. Silakan terus eksplorasi asalkan jangan eksploitasi tanah kami,” kata seorang penanya yang berasal dari Kabupaten Pegunungan Arfak.

Pilih BanggaBangga60%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang20%
Pilih Tak PeduliTak Peduli20%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Entikong Xpedition Gagasan Shafira Berhasil Menjadi 15 Top Essay di Asia Speaks 2019 Chapter Indonesia Sebelummnya

Entikong Xpedition Gagasan Shafira Berhasil Menjadi 15 Top Essay di Asia Speaks 2019 Chapter Indonesia

Catat Tanggalnya. Inilah Jadwal Gelaran Formula E di Jalanan Jakarta Selanjutnya

Catat Tanggalnya. Inilah Jadwal Gelaran Formula E di Jalanan Jakarta

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.