Hotel di sekitar Pantai Kuta di Bali menjadi contoh bagi kawasan wisata populer lainnya di seluruh Indonesia dengan mempertahankan tingkat kesadaran yang tinggi tentang bencana alam dan mitigasi bencana.

Menurut juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, mayoritas manajer hotel di sepanjang Pantai Kuta telah menyelesaikan program pelatihan dan sertifikasi yang diadakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali.

Kuta adalah salah satu daerah di Bali yang paling berpotensi terkena tsunami.

“Namun, tidak semua hotel di Bali berpartisipasi dalam program pelatihan ini,"Kata Sutopo seperti dikutip oleh kompas.com."

Program ini mencakup cara-cara untuk menentukan keamanan suatu daerah, [rencana] evakuasi dan menciptakan tempat perlindungan, sehingga karyawan hotel memiliki informasi yang cukup tentang mitigasi bencana dan dapat membantu memandu wisatawan untuk keselamatan [dalam kasus bencana].

”Ia menambahkan bahwa tanda-tanda yang ditulis dengan jelas menunjukkan keselamatan dan bangunan yang kuat dan tahan gempa juga merupakan beberapa hal penting yang seharusnya dimiliki hotel.

Sutopo juga mendesak hotel untuk membangun tempat berlindung di atap "karena, dalam kasus tsunami, ini bukan tentang berlari sejauh yang Anda bisa, tetapi setinggi yang Anda bisa".

Alat penting lainnya untuk dimiliki adalah sirine tsunami berbasis masyarakat, yang mana bukan merupakan sesuatu yang hanya dapat didanai oleh pemerintah, ia menambahkan.

"Anda dapat membayangkan bahwa hanya ada 52 sirene tsunami yang dibangun oleh BMKG [Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika] di sepanjang pantai Indonesia. Ada juga sekitar 300 sirene tsunami dikembangkan oleh pemerintah daerah. Jika bisnis terkait pariwisata juga memasang sirene tsunami berbasis masyarakat, yang dapat menelan biaya antara Rp 50 juta dan Rp 100 juta per radius 1 kilometer, tentu saja akan menjadi sangat berguna," kata Sutopo.


Sumber: Jakarta Post

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu