Penelitian mengenai stem cell atau sel punca, saat ini tengah menjadi tren yang berkembang pesat di dunia ilmu pengetahuan. Di dunia kedokteran, sel punca ini dikenal sebagai pengobatan dari ujung kaki hingga ujung kepala. Pemanfaatannya sangat luas dan relatif aman untuk pengobatan karena bersumber dari bahan biologi yang berasal langsung dari tubuh pasien. Saat ini pengobatan dengan sel punca sudah diterapkan untuk penyakit jantung, diabetes, ortopedi bahkan kecantikan.

Sel punca, sel induk atau sel batang adalah sel yang belum berdiferensiasi menjadi jenis sel tertentu sehingga bisa dikembangkan menjadi banyak jenis sel tubuh untuk perbaikan dan mengganti sel-sel yang rusak. Sel punca banyak terdapat pada sumsum tulang dan tali pusat.

Salah satu peneliti dari Pusat Studi Satwa Primata (PSSP) Institut Pertanian Bogor (IPB) memanfaatkan stem cells untuk anti aging. Sejak tahun 2008, PSSP memulai riset mengenai sel punca pada satwa primata. Satwa primata mempunyai ciri-ciri biologis, fisiologis dan kekerabatan yang paling dekat dengan manusia.

“Jadi kami mengambil stem cells dari tali pusar bayi manusia dan diinjeksikan ke hewan model tikus yang sudah aging. Lalu tikus diteliti apakah penyuntikan tersebut dapat mengatasi fitur-fitur penuaan seperti turunnya memori, kemampuan motorik yang turun atau lemah dan lain-lain,” ujar Dr. Berry Juliandi saat menjadi narasumber dalam Seminar Satu Hari tentang “Penelitian Sel Punca” di Kampus IPB Baranangsiang, Bogor (30/1).

Menurut dosen di Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB ini, injeksi stem cells pada tikus tua ternyata mampu menjadi anti aging. Memori dan motorik tikus pun membaik.

Sementara itu, pembicara lainnya yang hadir yakni Dr. Silmi Mariya selaku Kepala Program Biomedis PSSP mengatakan bahwa eksperimen hewan menjadi sangat penting untuk meningkatkan kesehatan manusia melalui penelitian biomedis dasar dan terapan.

Sel punca satwa primata dapat dijadikan sebagai model in vitro untuk studi yang tidak dapat dilakukan pada manusia karena keterbatasan praktis atau etik. Atau tidak dapat dilakukan pada rodensia karena perbedaan fisiologi dan anatomi. Penggunaan satwa primata untuk penelitian sel punca tidak harus dilakukan sebagai studi primer, namun bisa hanya menggunakan limbah dari penelitian lain.

“Hewan primata memiliki kesamaan secara anatomi dan fisiologi. Penyakit infeksius, mengalami menopause, kesamaan dalam profil penyakit kronis, sistem perkawinan dan lingkungannya dapat dikontrol. Satwa primata yang banyak digunakan dalam bidang biomedis adalah Monyet ekor panjang, Long-tailed/ cynomolgous macaques (Macaca fascicularis), Beruk, Pigtailed macaques (M. nemestrina), Rhesus macaques (M. mulatta), Monyet Afrika (Baboons dan Vervets), Monyet Dunia Baru (Squirrel monkeys, Owl monkeys, Tamarins, Marmosets), Apes (Chimpanzee),” ujarnya.

Pembicara lainnya yang hadir adalah Prof. Elena Cattaneo, Direktur Laboratorium Biologi Sel Punca dan Farmakologi Penyakit Neurodegeneratif, Pusat Penelitian Sel Induk University of Milano. Prof. Elena menjelaskan tentang Neuron dari Sel Induk Pluripotent Manusia untuk pengobatan Penyakit Huntington (kondisi neurodegeneratif otak yang disebabkan oleh memanjangnya saluran CAG), Penelitian dan Transplantasi Eksperimental.

PSSP juga mengundang para peneliti sel punca di Indonesia dari berbagai lembaga dan perguruan tinggi, untuk memperkenalkan penelitian sel punca pada hewan primata. (Ismi/Zul)

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu