Siapa sangka seorang remaja berusia 16 tahun mendirikan sebuah komunitas untuk menggerakkan kreativitas, intelektualitas, dan kepedulian pemuda di kotanya. Dialah Regita Ardhana, pendiri Komunitas Satu Hari yang memiliki misi “Satu Hari untuk Satu Kebaikan". Pendirian komunitas didasari atas banyak pengalaman Regita sejak kecil hingga kini menjadi pelajar SMA. Salah satu hal yang menjadi perhatian khusus Regita saat itu adalah budaya membaca anak seusianya yang menurut Regita cukup rendah.

“Sekolahku punya perpustakaan tapi sayangnya sering sepi pengunjung. Aku secara rutin datang ke perpustakaan terlepas dari ada tugas sekolah atau nggak. Suatu hari aku memperoleh info dari petugas bahwa jumlah siswa yang berkunjung tiap harinya sangat sedikit padahal perpustakaan sering memperbaharui koleksi buku.” ujar Regita.

Regita yang memang memiliki minat yang besar terhadap dunia literasi selanjutnya terdorong untuk meningkatkan minat baca siswa siswi di sekolahnya. Dimulai dari mengajak beberapa temannya membaca buku-buku baru di perpustakaan sekolah, upaya tersebut lambat laun berhasil meningkatkan jumlah kunjungan siswa ke perpustakaan dari waktu ke waktu. Tak cukup sampai disitu, Regita timbul cita-cita untuk memperluas spektrumnya, menjangkau lebih banyak anak muda untuk gemar membaca buku.

Bersama beberapa temannya, Regita mulai membuka taman baca buku gratis di Alun-alun Kecamatan Cikalong, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Nama Satu Hari menjadi nama taman baca yang dibukanya setiap Minggu sejak pagi hingga sore hari. Kisaran usia pembaca yang ditargetkan yaitu dari usia 7 hingga 14 tahun. Sehingga buku-buku yang ditawarkan juga merupakan buku anak-anak seperti buku bergambar hingga ensiklopedia untuk anak-anak.

Anak-anak setingkat SD berkunjung di taman baca Satu Hari
Anak-anak setingkat SD dan SMP membaca di taman baca Satu Hari

Anak-anak setingkat SD berkunjung di taman baca Satu Hari
Diskusi ringan dengan pengunjung taman baca Satu Hari

Regita mengaku awal mula perjalanan taman baca Satu Hari sangat minim pengunjung, terhitung tiga sampai lima orang anak yang berkenan mampir dan membaca koleksi buku yang tersedia. Padahal jumlah pengunjung alun-alun pada Hari Minggu jauh lebih padat dari hari-hari biasanya. Untuk meningkatkan antusiasme pengunjung, Regita dan timnya pun menggelar diskusi ringan di taman baca Satu Hari.

“Kami akhirnya punya ide untuk melontarkan pertanyaan keilmuan pada anak-anak yang tengah melintasi lapak baca. Seperti, sudah tahu belum mengapa Indonesia tidak turun salju?”

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu ternyata menumbuhkan rasa ingin tahu kemudian berdiskusi. Nah, setelah berdiskusi biasanya kami merekomendasikan buku untuk menunjang pengetahuan itu. Buku boleh dipinjam oleh pengunjung.”

Rutinitas komunitas Satu Hari yang pada awalnya berfokus pada peningkatan minat baca anak muda, lambat laun memperluas cakupannya untuk mengawal isu-isu lingkungan, sosial kemanusiaan, budaya, dan pendidikan. Aksi Regita menginspirasi anak muda seusianya dari beberapa daerah untuk terlibat dalam kegiatan yang diadakan oleh Satu Hari. Saat ini keanggotaan Satu Hari berjumlah sekitar 20 orang dengan rentang usia 15 sampai 18 tahun. Mereka mengawal isu dalam bentuk project sederhana yang dananya bersumber dari donatur. Salah satu project yang telah terlaksana yaitu “Cianjur Go Zero Waste" yang rangkaiannya meliputi talkshow dengan tokoh aktivis lingkungan dan praktik pembuatan produk recycle.Misi hatu hari satu kebaikan selanjutnya dimaknai sebagai aksi mengawal empat isu utama setiap hari dalam bentuk apapun baik aksi sederhana hingga yang tertuang dalam project.

Menyadari bahwa usia Satu Hari baru akan menginjak satu tahun, Regita dan tim terus menjalin upaya kerja sama dengan pihak terkait seperti komunitas, sekolah, hingga pemerintah kabupaten setempat. Saat ini pihaknya diajak bekerja sama oleh Dinas Perpustakaan Daerah untuk mengembangkan perpustakaan di Cianjur.

“Komunitas serupa Satu Hari mungkin banyak di Indonesia. Namun yang membuat Satu Hari beda yaitu kami terdiri dari anak-anak SMP hingga SMA yang coba menggagas suatu ide yang solutif atas permasalahan atau isu tertentu. Kami mungkin memang belum punya pengalaman yang banyak di organisasi, tapi disinilah wujud kami belajar sambil berkembang.” pungkas Regita yang juga punya tekad besar untuk membangun banyak taman baca di Indonesia, terutama di kota tempat tinggalnya.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu