5 Mahasiswa UB Ini Temukan "Obat" Bagi Para Pengguna Smartphone

5 Mahasiswa UB Ini Temukan "Obat" Bagi Para Pengguna Smartphone
info gambar utama

Lima mahasiswa dari Universitas Brawijaya di Malang, Jawa Timur, telah menciptakan semprotan antibakteri yang terbuat dari ekstrak apel dan kelapa untuk smartphone.

Dikutip dari Tempo.co, semprotan itu, yang disebut Protect Magic, mencegah pertumbuhan Staphylococcus aureus (S. aureus), yang sering ditemukan pada kulit dan rambut.

Atas penemuan mereka, ke-lima mahasiswa; M Kiki Saputra, Grandy Zovanca, Revin Yohanes Abraham, Cynthia Ayu Dwi Lestari, dan Rininta Arifianingsih, menerima medali emas dan penghargaan khusus dari International and Innovation Promotion Association in Honor of Highest Standard of Excellence, sebuah acara yang diselenggarakan oleh Grup Professional Trade Exhibition and Meeting Planners (PROTEMP) dan Asosiasi Ilmuwan Penelitian Malaysia (MARS - Malaysian Association of Research Scientists).

Mereka juga menerima tawaran dari beberapa investor untuk mengembangkan penemuan mereka tersebut untuk menjadi produk yang diproduksi secara massal.

Kiki selaku ketua tim mengatakan kepada Antara di Malang, bahwa semprotan itu terdiri dari ekstrak apel dan kelapa.

"Untuk menggunakannya, [Anda] hanya perlu menyemprotkan cairan ke smartphone Anda, kecuali di mana kameranya berada," kata Kiki, menambahkan bahwa cairan itu akan berubah menjadi uap dengan aroma apel.

Protect Magic telah diuji di laboratorium tiga kali dan hasilnya menunjukkan bahwa cairan ini bekerja untuk mencegah perkembangan bakteri S. aureus, yang dapat menyebabkan infeksi kulit.

Kiki mengatakan gagasan tim berasal dari perkembangan teknologi saat ini dan mobilitas manusia.

Dia menyebutkan bahwa mobilitas manusia dapat tidak lepas dari alat komunikasi, termasuk smartphone. Namun, ancaman kesehatan bersembunyi di balik keterikatan orang terhadap smartphone karena perangkat biasanya membawa bakteri patogen.

"Protect Magic dapat diterapkan ketika dibutuhkan," kata Kiki.

Dia berharap produk itu dapat dikembangkan secara komersial sehingga banyak orang dapat memperoleh manfaat darinya.


Sumber: Jakarta Post | Tempo.co

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini