Produk lokal Indonesia sudah tidak bisa dipandang sebelah mata. Persaingan ketat dengan asing membuat produk-produk dalam negeri ikut bersaing dan terus melakukan terobosan-terobosan baru demi menggaet pasar besar dan luas.

Tidak bisa dikesampingkan, peran kaum muda menjadi salah satu yang membuat persaingan hingga produk lokal ini tembus sampai ke mancanegara. Salah satunya, seorang desainer muda asal Yogyakarta, Iffah M. Dewi.

Wanita yang akrab disapa Iffah ini merupakan owner Sogan Batik Rejodani, sebuah karya batik yang motif dan desainnya memiliki cerita tentang nilai-nilai kebaikan yang universal dan berusaha mengajak pada kebaikan dengan karyanya kepada pemakainya
Karya motif 'Koelanoewoen Perth' di event Modest Fashion Australia (MFA)
Karya motif 'Koelanoewoen Perth' di event Modest Fashion Australia (MFA)
Iffah dalam karya yang sering kali menerjemahkan nilai-nilai Islam yang ramah dan menyebarkannya lewat coretan motif batik dan desain busana. Kekayaan khazanah Islam serta nilai-nilai kearifan lokal itulah sejatinya yang menjadi sumber mata air ide bagi bagi dirinya.

Ia menemukan makna karya yang dilahirkannya sebagai bentuk syukurnya pada Yang Maha Kuasa setelah mengeksplore sejarah Islam Nusantara, arsitektur, cerita tauladan, kisah-kisah dalam Sirah Nabi dan lainnya. Dalam keheningan berkontemplasi tanpa henti, berproses dalam lantunan dzikir dan shalawat.

Di sudut tenang sebuah rumah di Dusun Rejodani Sariharjo, Ngaglik, Sleman, semua bermula, Iffah memulai perjalanan usaha sekaligus pencarian jati dirinya selangkah demi selangkah. Bersama suami, kemudian mendirikan perusahaan batik CV. Sogan Jaya Abadi dengan brand Sogan Batik Rejodani.

Sebuah motif tentang kampung Rejodani pun dibuatnya. Menurut Iffah, Sogan lahir dan besar di kampung Rejodani yang ternyata memiliki banyak hal menarik untuk diangkat ke karya busana.

Rejodani merupakan sebuah dusun (kampung) yang berada di wilayah Kabupaten Sleman di mana hampir seluruh warganya muslim. Terletak kurang lebih 5 Km arah utara dari Monumen Jogja Kembali, Rejodani masuk pada wilayah Desa Sariharjo Utara, Kecamatan Ngaglik Sleman.

"Sogan Batik menampilkan satu koleksi yang berjudul 'Becik', terinspirasi dari sebuah rumah di mana kami berkreasi setiap harinya, yaitu di sebuah rumah kuno berbentuk limasan khas Jawa yang dibangun pada awal tahun 1900-an," ungkapnya.

Batik tulis dengan nama motif 'Becik' yang berarti baik, menggambarkan rumah limasan dengan beberapa pohon, buah sawo, dan bunga di sekitarnya. Pohon sawo kecik yang ditanam oleh kakek buyut didepan rumah, adalah istilah yang diambil dari kata 'sarwo becik' artinya adalah 'serba baik', merupakan harapan dan cita-cita agar penghuni rumah ini selalu dijaga dalam Ketaqwaan dan bisa menebarkan manfaat kepada sesama.

Pada saat itu agar produknya dikenal oleh masyarakat, Iffah terus mencari dan mengenalkannya kepada pencinta batik, apa spesialisasi dan differensiasi Sogan Batik, sehingga dapat bertumbuhkembang seperti sekarang ini.

"Kehadiran para pekerja penyandang disabilitas, melengkapi arah dan tujuan bisnis Batik Sogan untuk selalu berbagi dalam karya karyanya tersebut," ujarnya.

Sogan yang concern pada Muslim Fashion, merupakan produsen batik tulis dan cap asli, produknya meliputi baju batik, kebaya batik, kemeja batik, bolero, dan sebagainya yang berdiri sejak tahun 2001, dimulai dari 4 orang sampai sekarang menjadi sekitar 100 tim kerja di bagian produksi.

Owner Sogan Batik Rejodani, Iffah M. Dewi
Owner Sogan Batik Rejodani, Iffah M. Dewi

Iffah menyebut beberapa waktu terakhir, desain pakaian Muslim Indonesia semakin diminati masyarakat internasional, dan harapannya tema-tema batik Sogan bisa membawa hal positif untuk desain pakaian Muslim Indonesia khususnya di Yogyakarta.

Setidaknya ada tiga tahap dalam proses pembuatan batik disini, mulai dari Ide dasar penciptaan desain batik, Penerapan desain batik, hingga Pengembangan desain batik.

"Ketika mencari ide untuk sebuah edisi, biasanya saya membaca sejarah Islam di Indonesia atau dunia. Dalam edisi 'Alkisah Rihlah' misalnya, bercerita tentang pejuang Haji Nusantara pada masa lalu," paparnya.

"Saya mengangkat tiga hal penting dalam hidup manusia yaitu do'a, sabar, dan tawakal. Saya menggambarkannya dengan tiga tingkat ruffle di lengan. Lalu ada simbol gunungan, ombak, pohon kurma, dan kubah hijau. Semua itu mengisahkan beratnya perjalanan leluhur yang ingin menunaikan ibadah haji," ujarnya.

Ketekunan Iffah dengan batik Sogan telah diterima pasar, baik domestik dan mancanegara. Salah satu rancangan Iffah, yakni Koelanoewoen Perth menjadi pusat perhatian dalam perhelatan Fashion Show di Perth, Australia pada awal Agustus tahun 2018 lalu.

Karya busana batik ini menjadi satu-satunya karya anak negeri yang manggung pada event Modest Fashion Australia (MFA). Karya Sogan Batik diterima dengan baik oleh masyarakat Perth, Australia.

"Koelanoewoen Perth menyampaikan pesan di setiap coretan motifnya. Batik yang ditulis itu menggambarkan tentang Islam sebagai agama perdamaian, keindahan Islam, hingga perempuan Islam yang sama haknya bahkan mendapat penghormatan tinggi dan mulia," kata Iffah

Hingga kini, sejumlah pesanan batik Sogan telah merambah pasar luar negeri. Penjualan online yang dikerjakan tim manajemen Sogan Batik terus berjalan baik dan menambah jumlah produksi dari waktu ke waktu.

Iffah memiliki ketertarikan terhadap segala hal yang berkaitan dengan Islam. Namun, ia tak lupa dengan keluhuran budaya Indonesia. Di tangan Iffah, paduan agama dan budaya menjelma menjadi karakter yang membedakan Sogan dari merek busana batik lain di pasar. (dhir)

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu