100 Tahun Tangkoko : Kisah Wallace di Tangkoko

100 Tahun Tangkoko : Kisah Wallace di Tangkoko
info gambar utama
  • Pemerintah Kota Bitung, Sulawesi Utara menggelar peringatan 100 Tahun Tangkoko pada 20 dan 21 Februari 2019. Salah satu acaranya berupa peresmian patung Alfred Russel Wallace sebagai penghormatan atas kontribusi Wallace bagi ilmu pengetahuan dan perlindungan hutan Tangkoko.
  • Wallace kurang terkenal dibanding Charles Darwin. Padahal pencetus teori evolusi itu menuntaskan buku “The Origin of Species” setelah berkorespondensi dengan Wallace tentang gagasan evolusi dan seleksi alam dari Ternate.
  • Wallace berhasil mengidentifikasi pembagian flora dan fauna yang sekarang dikenal sebagai garis Wallacea, yang melintang di antara Bali dan Lombok serta Kalimantan dan Sulawesi. Garis Wallacea sebagai zona persilangan flora dan fauna antara Asia dan Australia yang penting dari sisi biogeografi.
  • Wallace pernah mengunjungi kawasan Tangkoko pada September 1859, untuk meneliti satwa endemik seperti maleo, babirusa dan sapi-utan atau anoa

Dalam peringatan 100 tahun Tangkoko, pemerintah kota Bitung meresmikan patung Alfred Russel Wallace pada Kamis (21/2/2019). Patung itu dibangun sebagai penghormatan atas kontribusi Wallace bagi ilmu pengetahuan dan perlindungan hutan Tangkoko.

Wallace mengunjungi hutan Tangkoko pada 1859 untuk mengamati dan mengumpulkan spesimen maleo, anoa dan babirusa. Selama 8 tahun, sejak 1854 hingga 1862, dia menghabiskan waktu untuk mengamati dan mengumpulkan kurang lebih 125.000 spesimen fauna di kepulauan nusantara.

Wallace kemudian menuliskan perjalanannya dalam buku The Malay Archipelago yang terbit pada 1869. “Kalau Wallace tidak datang, mungkin tidak ada Cagar Alam (Tangkoko). Tapi, Wallace memberi motivasi pada generasi sesudah dia,” ujar Max Lomban, Walikota Bitung, saat meresmikan patung Alfred Russel Wallace.

Patung Wallace di TWA Batuputih yang diresmikan pada rangkaian acara 100 Tahun Tangkoko, Kamis 21/02/2019) | Foto: Themmy Doaly/Mongabay Indonesia
info gambar

Selain itu, pembangunan patung Wallace diharap dapat meningkatkan jumlah pengunjung ke Taman Wisata Alam Batuputih. Wiratno, Dirjen Konservasi Sumberdaya Alam Hati dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) meyakini, kontribusi Wallace pada ilmu pengetahuan dapat menjadi daya tarik wisatawan dari dalam maupun luar negeri.

“Saya berharap, kerjasama seperti ini dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari strategi pengembangan wisata alam, wisata sejarah dan pendidikan lingkungan bagi generasi muda, yang bermanfaat bagi provinsi Sulawesi Utara dan menjadi contoh bagi provinsi-provinsi lain,” terangnya.

Patung Wallace dibuat selama dua bulan oleh Hendra Susanto. Tinggi keseluruhan patung ini 4,5 meter dan lebar 1,40 meter. Patung itu disebut sebagai patung Wallace pertama di luar Britania Raya. Karenanya, perwakilan pemerintah Inggris merasa tersanjung dengan pembangunan patung tersebut.

“Atas nama orang-orang Inggris, dan juga mewakili kedutaan Inggris, kami ingin mengucapkan terimakasih atas penghargaan ini,” ujar Paul Smith, Direktur British Council.

Dia berharap, lewat patung tersebut kontribusi Wallace bagi ilmu pengetahuan, khususnya teori evolusi, dapat diketahui lebih lagi. “Darwin mengakui kelebihan Wallace dalam ilmu alam. Tapi banyak orang lebih kenal Darwin. Mereka juga harus mengetahui orang ini (Wallace), sebagai ilmuwan di bidang keanekaragaman hayati,” ujar Paul.

Peneliti alam asal Inggris Alfred Russel Wallace (1823-1913) yang mengembangkan teori seleksi alam dan pencetus garis Wallacea | Foto: Hulton-Deutsch Collection/Corbis/ National Public Radio/Mongabay Indonesia
info gambar

Awal 1859, setelah terserang malaria di Ternate, Wallace mengirim surat pada Darwin untuk menjelaskan gagasannya tentang evolusi dan seleksi alam. Surat itu mendorong Darwin untuk menuntaskan buku “The Origin of Species” yang terbit pada November 1859.

Bill Wallace, keturunan Alfred Russel Wallace mengatakan kepulauan nusantara merupakan tempat yang membangkitkan minat, inspirasi dan puncak terobosan kakek buyutnya. Sehingga, dia menilai, pembangunan patung Wallace di Taman Wisata Alam Batuputih, Bitung, merupakan keputusan yang tepat.

“Beliau dibuat takjub oleh tumbuhan, satwa dan oleh masyarakat setempat. Tempat ini menjadi tempat beliau mencapai terobosan ilmiahnya. Sungguh tepat apabila monumen peringatan ini dibangun di sini untuk dinikmati para pengunjung sampai bertahun-tahun yang akan datang,” terang Bill Wallace dalam suratnya.

“Atas nama keluarga Wallace, kami mohon untuk menerima apresiasi kami yang terdalam atas usaha keras dalam pembuatan dan penempatan patung Wallace yang menakjubkan ini. Kami merasa sangat terhormat karena kakek kami menjadi monumen yang begitu mengesankan, di tempat yang indah ini.”

Kawasan Wallacea memuat seluruh Pulau Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku, dikenal dengan kekayaan flora dan fauna. Sayangnya, kekayaan alam ini terancam hancur dengan maraknya berbagai aktivitas manusia, termasuk alih fungsi lahan, pembalakan liar, dan eksploitasi tambang | Foto: Burung Indonesia/Mongabay Indonesia
info gambar

Kontribusi Pemikiran Wallace

Lewat pengamatan di kepulauan nusantara itu, Wallace berhasil mengidentifkasi pembagian flora dan fauna yang sekarang dikenal sebagai garis Wallacea, yang melintang di antara Bali dan Lombok serta Kalimantan dan Sulawesi.

Garis itu membagi kepulauan Indonesia menjadi dua bagian, yaitu bagian barat terdiri fauna khas Asia dan timur fauna khas Australia. Garis Wallacea sendiri merupakan zona persilangan flora dan fauna antara Asia dan Australia.

“(kontribusi) Wallace sangat penting untuk ilmu biologi, tapi juga untuk melihat biogeografi. Dia juga yang membuat garis Wallacea. Dia melihat ada perbedaan flora dan fauna di Bali dengan Lombok, kemudian Serawak dengan Sulawesi,” ujar Myron Shekelle, peneliti tarsius sekaligus direktur Tarsier.org.

Kisah kunjungan itu kemudian menginspirasi Dr. Sifert Koorders, ketua Perkumpulan Perlindungan Alam Hindia Belanda, untuk mengusulkan Tangkoko sebagai monumen alam. Koorders adalah sosok yang berperan penting dalam mengusulkan beberapa kawasan konservasi di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Maluku dan Papua.

Koorders memang tidak pernah mengunjungi Tangkoko, namun beberapa fakta historis nampak menunjukkan pengaruh Wallace padanya. Simon Purser, Senior Consultant pada Wallacea Nature Conservation Consulting dalam buku “Verslag eener botanische dienstreis door de Minahasa” mengatakan Koorders merujuk beberapa publikasi Wallace.

Keduanya dikabarkan pernah terlibat korespondensi mengenai botani sebelum kematian Koorders pada 1919. Ia bahkan sempat menamai genus pohon Wallacedendron untuk menghormati naturalis asal Inggris itu.

Beberapa jenis satwa liar endemik yang terancam punah di Kawasan Wallacea. Searah jarum jam: Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis), Kakatua Putih (Cacatua alba), Babirusa (Babyrousa babirussa) | Foto: Ridzki R. Sigit
info gambar

Kemungkinan lain, setelah Koorders mengunjungi Minahasa, salah seorang rekannya melakukan survei di Tangkoko. Namun, belum ada bukti mengenai ini. Bisa jadi, terang Simon, Koorders menggunakan informasi dari Huxton dan Guillemard, yang mengikuti jejak Wallace sekitar 20 tahun kemudian.

“Fakta-fakta ini, setidaknya, menunjukkan Wallace menginspirasi mereka yang mengikuti dan mengumpulkan data yang digunakan Koorders,” papar Simon. “Baik sejarawan alam Inggris dan Indonesia, misalnya Dr. George Beccaloni dan Pandji Yudistira, menyebut bahwa inspirasi Koorders datang dari Wallace. Maka, itulah posisi saat ini yang diterima.”

Wallace menyebut Sulawesi memiliki biogeografi yang sangat unik dan menempatkannya sebagai laboratorium hidup untuk studi evolusi. Bahkan, hingga hari ini, spesies baru masih ditemukan di berbagai daerah di Sulawesi.

“Penelitian lebih lanjut masih diperlukan. Sebagai contoh, mungkin kuskus beruang dan kuskus kerdil memiliki spesifikiasi atau sub-spesies endemik di Minahasa dan pulau-pulau lepas pantai, seperti Manado tua,” lanjut Simon.

Yaki atau monyet hitam Sulawesi (Macaca nigra), primata endemik Sulawesi di TWA Batuputih, Cagar Alam Tangkoko, Sulawesi Utara. Foto : Themmy Doaly/Mongabay Indonesia
info gambar

Wallace di Tangkoko

September 1859, Wallace tiba di Likupang, sebuah semenanjung yang dia sebut banyak maleo, babirusa dan sapi-utan (sebutan lokal untuk anoa). Di sana, dia bertemu Goldmann, putra Gubernur Maluku yang mengawasi industri garam pemerintah Belanda.

Mengetahui maksud kunjungan Wallace, Goldmann memberi bantuan. Selusin penduduk lokal dan dua puluh ekor anjing turut dalam perjalanan itu. Mereka membagi tim. Sebagian menempuh jalur hutan, sisanya menggunakan perahu.

Wallace akan tinggal di sana selama seminggu untuk mendapatkan sejumlah spesimen, di antaranya maleo, babirusa dan anoa. Dalam “The Malay Archipelago”, dia menyebut, perjalanan menuju lokasi maleo berjarak sekitar 20 mil.

Pantai itu terletak di antara pulau Lembe dan Bangka, dengan kontur curam sepanjang satu mil, serta berpasir hitam yang kasar, seperti kerikil, dan melelahkan untuk dilewati. Masing-masing ujung tempat dibatasi sungai kecil dengan latar berbukit, sementara hutan di belakang pantai cukup rata dengan pertumbuhan yang lambat.

“Terdapat sungai yang kemungkinan berasal dari lahar gunung Klabat di masa lampau, mengalir melewati lembah menuju lautan dan dekomposisinya membentuk pasir hitam,” tulis Wallace. “Di pasir hitam yang kasar dan panas inilah, maleo, burung istimewa itu menyimpan telur.”

Dari deskripsi tersebut, bisa diketahui, Wallace tidak sekalipun menyebut nama Batuputih. Walau, pada peta yang dibuatnya tertulis nama Batuputih, namun versi lain menyebut Wallace mengamati maleo di pantai Batuangus.

Kaki bukit yang diperkirakan menjadi pondok Wallace | Foto: Eko Rusdianto
info gambar

Simon Purser mengatakan, pantai di antara Bangka dan Lembeh, tempat Wallace menginap selama satu minggu, memiliki pasir hitam yang terletak di antara dua sungai dengan pasir putih di masing-masing sisi. Dia menilai, deskripsi ini lebih tepat di wilayah Batuputih dibanding tempat lain. Bukan pula salah satu pantai di antara TWA atau Cagar Alam.

“Ini jadi salah satu alasan saya menyarankan pembangunan patung di luar kawasan TWA Batuputih,” terangnya.

Meski demikian, versi lain menyebut bahwa lokasi Wallace mengamati maleo adalah wilayah pantai Batuangus. Pertimbangannya, kata Simon, jarak Batuputih dari Likupang tidak sampai 20 mil. Bahkan, jika menggunakan perahu dari Tanjung Pulisan, diperkirakan hanya 15 mil. Sehingga, ada kemungkinan, 20 mil yang dimaksud Wallace agak lebih jauh hingga Batuangus.

“Setelah tiba di Batuputih, Wallace bisa berjalan lebih jauh untuk melihat maleo. Dia sering berjalan jauh hingga 10-20 km, bahkan lebih dalam beberapa kasus. Jadi, kemungkinan besar, dia menelusuri seluruh pantai, yang dalam peta Guillemard, disebut ‘Teluk Wallace’.”

“Namun, saya pikir, lebih mungkin bahwa Batuputih adalah lokasi Wallace mengamati maleo. Situs di Rumesung mungkin merupakan area paling aman dan terakhir, setelah tidak lagi ditemukan di Batuputih,” kata Simon.


Sumber: Ditulis oleh Themmy Doaly dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini