Indonesia Dragonfly Society, Penjaga Capung Indonesia agar Lestari

Indonesia Dragonfly Society, Penjaga Capung Indonesia agar Lestari

Capung jarum © Sumber: Wikipedia

  • Indonesia merupakan negara dengan tingkat keanekeragaman hayati tertinggi di dunia. Salah satunya adalah capung. Ada sekitar 900 jenis capung di Indonesia.
  • capung merupakan salah satu hewan purba yang masih eksis sampai saat ini, kurang literaturnya di Indonesia. Bahkan peneliti tentang capung di Indonesia, bisa dihitung dengan jari tangan saja jumlahnya
  • Salah satu komunitas yang intens terhadap capung adalah Indonesia Dragonfly Society

Indonesia adalah negeri yang sangat kaya keanekaragaman hayatinya. Dari mamalia sampai dengan serangga, yang di dalamnya termasuk capung. Menurut data yang ada, capung di Indonesia saat ini, telah mencapai lebih dari 900 jenis. Keragaman yang luar biasa ini, karena iklim Indonesia yang sangat mendukung keadaan itu. Selain iklim Indonesia yang hanya terdiri dari dua musim, yaitu hujan dan panas, Indonesia juga mempunyai hutan yang cukup luas.

Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) merilis laporan dalam publikasi Statistik KLHK 2015 tentang luas kawasan hutan di Indonesia. Pada kawasan hutan konservasi (kawasan hutan suaka alam-kawasan hutan pelestarian alam) memiliki luas 27,4 juta ha. Hutan lindung seluas 29,7 juta ha. Hutan produksi terbatas 26,8 juta ha. Hutan produksi 29,3 juta ha. Dan luas hutan yang bisa dikonversi 12,9 juta ha. Total luas hutan di Indonesia sebanyak 128 juta ha.

Capung pancing Jawa | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
Capung mengurangi panas yang terkena ke tubuh, dengan cara menuggingkan tubuhnya | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia

Walaupun kini semakin sempit, tetapi tetap saja, dengan potensi hutan Indonesia yang baik, membuat berbagai flora dan fauna tumbuh, hidup, dan berkembang dengan baik.

Sayangnya, berbagai literatur atau data untuk beberapa jenis hewan sangat sedikit keberadaannya. Termasuk capung. Literatur yang bisa dijadikan referensi untuk mencari data tentang capung, kebanyakan didapatkan dari luar negeri. Bahkan peneliti tentang capung di Indonesia, bisa dihitung dengan jari tangan saja jumlahnya.

Padahal, menurut beberapa literatur luar negeri, capung merupakan serangga terbang pertama di dunia. Dan untuk alasan itulah, lahir Indonesia Dragonfly Society. Selain karena capung bentuknya yang cantik untuk diabadikan ke dalam sebuah foto.

Capung sambar garis hitam | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia
Capung kembara | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia

Dari buku “Naga Terbang Wendit, Keanekaragaman capung perairan Wendit” (Malang, Jawa Timur, 2013 Indonesia Dragonfly Society) Capung sendiri muncul sejak jaman karbon (360-290 ratus juta tahun yang lalu) dan masih eksis sampai sekarang. Capung mempunyai habitat di wilayah pegunungan, sungai, rawa, danau, sawah, hingga pantai dan hutan bakau.

Tubuh capung terdiri dari kepala, toraks (dada), dan abdomen (perut), serta mempunyai enam tungkai. Mata capung terdiri dari beribu lensa yang disebut dengan mata majemuk, serta mempunyai dua sayap dengan venasi yang mempunyai pola khas bagi tiap spesies.

Daur hidup capung adalah telur, nimfa dan capung dewasa. Capung bertelur di dalam air atau disisipkan ke dalam tanaman air, yang nantinya akan menetas sebagai larva yang disebut nimfa. Nimfa sendiri dapat hidup di dalam air selama beberapa bulan hingga tahunan, dan biasanya bersifat sensitive terhadap air tercemar. Dan karena itu pula capung dapat dijadikan sebagai bioindikator pencemaran air. Nimfa capung pun menjelma menjadi predator bagi ikan-ikan dan serangga kecil di air.

Apen, anggota Indonesia Dragonfly Community | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia

Menurut Sigit Wahyu Rahadi, pendiri Indonesia Dragonfly Society, kepada Mongabay-Indonesia, Minggu (10/3/2019) lalu. Pada awalnya organisasi Indonesia Dragonfly Society didirikan karena kegiatan fotografi Sigit beserta para muridnya di SMA Dempo Malang, yang melakukan kegiatan memotret hewan di alam liar.

Setelah dilihat hasilnya, ternyata foto capung tidak kalah cantiknya dari foto serangga lainnya seperti kupu-kupu. Setelah itu Sigit lalu menantang murid dan teman-temannya untuk lebih memfokuskan kegiatan memotret di alam liar kepada capung. Yang ternyata data tentang capung ini sangat sedikit sekali di dalam negeri. Harus mencari sampai ke luar negeri. Sehingga minat terhadap capung menjadi semakin tinggi. Sampai akhirnya terbentuklah Indonesia Dragonfly Indonesia.

“Dengan kekayaan capung yang luar biasa ini, pemerintah diharapkan lebih peduli terhadap penelitian dan perlindungan kehidupan serangga terutama capung. Karena, sekali lagi penelitian terhadapa capung sangat minim, bila dibandingkan dengan hewan-hewan besar lainnya seperti mamalia dan primata,” kata Sigit.

Walaupun serangga tidak mempunyai nilai ekonomi setinggi jenis hewan besar lainnya, tetapi serangga, terutama capung memegang peranan penting dalam rantai kehidupan di alam liar, sehingga kelestariannya harus mendapatkan perhatian yang baik pula dari pemerintah dan semua pihak-pihak yang terkait.

Pendataan capung oleh anggota Indonesia Dragonfly Community | Foto: Anton Wisuda/Mongabay Indonesia


Sumber: Ditulis oleh Anton Wisuda dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Pilih BanggaBangga20%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang40%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi40%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Begini Upaya Konservasi Mencegah Krisis Air di Bali Sebelummnya

Begini Upaya Konservasi Mencegah Krisis Air di Bali

"Hikmah" Perang Dagang, Dua Perusahaan Mobil Listrik Akan Bangun Pabrik di Indonesia Selanjutnya

"Hikmah" Perang Dagang, Dua Perusahaan Mobil Listrik Akan Bangun Pabrik di Indonesia

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.