Kampung Kumuh dan Langganan Banjir Itu Kini Hijau dan Kaya Sumber Air

Kampung Kumuh dan Langganan Banjir Itu Kini Hijau dan Kaya Sumber Air
info gambar utama
  • Kampung Gintung, Kota Malang, Jawa Timur, terkenal dengan kampung yang kumuh, langganan banjir dan bermasalah dengan sanitasi.
  • Pada 2012, sang ketua RW, Bambang Irianto mengajak Sutiaji, Wali Kota Malang, menggerakkan warga agar peduli lingkungan. Pakar pengairan membantu Bambang. Sumur injeksi dan biopori mereka bangun.
  • Ketua RW mewajibkan warga menanam dan bergotong rotong. Cibiran datang dari sebagian warga. Mereka yang tak mau ikut menanam dan gotong royong kena sanksi tak mendapatkan pelayanan seperti pengurusan surat menyurat.
  • Air hujan berhasil mereka tabung. Mereka kaya air. Kala melihat manfaat, warga berbalik mendukung. Kini, kala hujan tak banjir, air bersih melimpah, bahkan sampai ke desa sebelah. Desa hijau dengan beragam tanaman hias dan sayur mayur, bahkan menjadi tujuan wisatawan, para peneliti dan lain-lain.

Kala itu, Sutiaji, Wakil Wali Kota Malang, bersama warga membersihkan selokan dan saluran air di RW23 Kelurahan Purwantoro, Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur. Kampung Glintung, biasa orang menyebut lokasi ini. Pada pertengahan 2013 itu, Sutiaji, berbaur bergotong-royong dengan warga, setelah banjir melanda. Kampung tak jauh dari pusat pemerintahan ini dikenal kumuh dan langganan banjir serta sanitasi buruk.

Kini, Sutiaji, terpilih sebagai Wali Kota Malang, menggantikan Mochammad Anton. Bambang Irianto, sebagai Ketua RW23 pada 2012, mengajak Sutiaji, menggerakkan warga agar peduli lingkungan.

Biasa, usai banjir, warga Kampung Glintung, harus bekerja ekstra mengepel dan membersihkan rumah dan bergotong royong membersihkan sungai mengatasi banjir. “Saya ikut bersama warga membersihkan sungai,” kata Sutiaji.

Banjir dampak saluran air makin lama makin menyempit. Perkampungan warga juga makin padat. Sejumlah bangunan berdiri di bantaran dan drainase jadi penyebab banjir.

Sejak terpilih sebagai Ketua RW enam tahun lalu, Bambang memaparkan konsep membangun Glintung, menjadi kampung wisata. Termasuk konsep menabung air, untuk mengindari banjir yang mampir saban musim hujan. Saat itu, banyak yang mencibir dan menuding dia gila.

Saat banjir, sandal dan sepatu warga juga hanyut ke selokan maupun sungai. Masalah itu timbul sejak puluhan tahun. “Kalau hujan alamat banjir. Air sampai sepaha orang dewasa,” kata Jaying, yang tinggal di Kampung Glintung sejak 1964.

Membersihkan sungai, ternyata tak memberi dampak signifikan mengatasi banjir. Bambang menggandeng Profesor Muhammad Bisri, saat itu, Dekan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Malang. Bambang menceritakan, masalah banjir yang menghantui warga.

Gayung bersambut. Bisri merancang sumur injeksi. Seluruh biaya ditanggung Universitas Brawijaya, sedangkan pengerjaan bergotong royong dengan warga. Tahap awal, warga bersama Bisri menentukan titik yang harus dibangun sumur injeksi.

Pakar pengairan ini menghitung, seharusnya di Malang, terbangun ribuan sumur injeksi untuk mengendalikan banjir. Sebagai daerah dataran tinggi, banjir di Malang, terjadi karena permasalahan drainase. Air hujan tak bisa terserap langsung ke tanah, ruang terbuka hijau berkurang berganti bangunan.

Air mengalir tak terarah, selokan dan drainase tak bisa menampung seluruh air hujan. Kondisi ini, katanya, menimbulkan banjir di titik tertentu. Menurut dia, sumur injeksi juga berfungsi menampung air tanah. Selama ini, air tanah disedot besar-besaran untuk kepentingan industri, perhotelan dan perumahan.

‘Konstruksi sumur resapan berbeda dengan sumur injeksi,” katanya.

Kalau sumur resapan berdiameter satu meter dengan kedalaman sekitar 5-6 meter. Sumur injeksi minimal 20-25 meter berdiameter sekitar enam meter. Lapisan bawah ditata batu dan kerikil.

Saat ini, baru dibangun ada 30 sumur injeksi di Kota Malang. Salah satu di sekitar Masjid Jami’ Alun-alun Kota Malang. Konstruksi membangun satu sumur injeksi perlu dana sekitar Rp400 juta.

Direktur Utama Perum Jasa Tirta I Raymond Valiant Ruritan, (baju putih) bersama Bambang Irianto, Ketua RW23, berlatar tanaman hias | Foto: Eko Widianto/ Mongabay Indonesia
info gambar

Banjir hilang, muncul sumber air

Menurut Bisri, pengambilan air bawah dengan sistem sumur artesis di Kota Malang, makin menjamur. Air tanah terus terkuras. Kalau dibiarkan tanpa diimbangi konservasi, bisa menyebabkan penurunan muka tanah (land subsidence).”Perlu konservasi air, salah satu sumur injeksi,” katanya.

Di Kampung Glintung, dibangun tujuh sumur injeksi. Ia menampung sekitar 42.000 liter air. Kampung Glintung juga membangun biopori di sejumlah ruas jalan. Mereka membangun lubang biopori diameter 10-30 centimeter sedalam 80-100 centimeter.

Lubang terbuat dari bekas kaleng cat hingga tak memerlukan modal. Di dalam biopori dimasukkan sampah organik hingga terjadi proses pengomposan. Air terserap tanah, kompos bisa untuk pupuk tanaman.

Di kampung berpenduduk 480 keluarga ini memiliki 700 lubang biopori. Ia mampu menampung sekitar 14.000 liter air.

Mereka menamakan gerakan menabung air (gemar) atau Water Banking Movement. Awalnya tak mudah, kata Bambang, banyak penolakan. Warga sebagian besar bekerja sebagai buruh pabrik, pekerja swasta, dan wirausaha menolak iuran karena biaya besar.

Bambang tak menyerah, dia berusaha mengubah pola pikir membangun permukiman kumuh dan tak sehat, menjadi kampung sejuk, indah dan sehat. Gerakan menabung air telah mendapatkan hasil, sumur warga tak pernah kering. Bahkan, menabung air dipanen warga RW5, terletak di sebelahnya, muncul sumber air di perkampungan itu.

Sumber air keluar dari celah paving. Warga senang, namun ada yang was-was. Khawatir air keluar muncul di dalam rumah warga. Sejumlah pakar geologi meneliti fenomena ini guna memastikan sumber air muncul karena konservasi air di Kampung Glintung.

Aneka tanaman hias dan bunga berjejer di dinding lorong masuk Kampung Glintung | Foto: Eko Widianto/ Mongabay Indonesia
info gambar

Taman dan pertanian tengah kota

Setelah dibangun sumur injeksi, dia meminta warga menanam apa saja. Kalau warga menolak, tak akan dilayani saat mengurus administrasi. “Stempel RW jadi alat paksa,” kata Bambang.

Lambat laun masyarakat sadar. Warga menggunakan kaleng bekas dan botol air mineral untuk pot bunga. Tanaman diambil dari tepi sungai. “Tanaman apa saja asal hijau.”

Sebagian warga yang menolak juga mulai malu. Mereka menyadari, kalau kini kampung bersih, hijau dan segar. Mereka memanfaatkan barang bekas untuk menciptakan vertical garden maupun urban farming. Botol minuman, kaleng cat, kloset jongkong jadi pot bunga. Mereka tak harus modal besar untuk menciptakan kampung sejuk dan tenang.

Saat masuk gang, pemandangan hijau mennyambut. Sebuah pergola berisi tanaman hias memanjakan mata. Vertical garden berisi aneka tanaman hias berjejer di dinding sepanjang gang. Bunga warna-warni jadi keindahan tersendiri saat menjejakkan kaki di Kampung Glintung yang belakangan terkenal dengan sebutan Kampung 3G (Glintung Go Green).

Bahkan dinding di gang sebagai area urban farming. Aneka jenis sayuran ditanam, warga memanen untuk kebutuhan sehari-hari. Setiap sore, otomatis air mengalir menyirami tanaman. Betah berlama-lama. Malang, terasa lebih dingin dan menyenangkan.

***

Zainul Arifin, warga RW23 Kelurahan Purwantoro, Blimbing, Kota Malang, berkutat dengan tumpukan batang dan plat besi. Dia tampak telaten mengelas, lalu menyambung dan merangkai jadi vertical garden. Zainul, salah satu warga Kampung Glintung. Mereka bergotong-royong menata taman, aneka bunga dan kebun sayur di perkampungan yang terletak di tengah Kota Malang ini.

Vertical garden dikerjakan bersama-sama. Mereka menyumbang tenaga mewujudkan kampung hijau. Zainul bangga, bisa memberikan sumbangsih untuk kampung. Awalnya, dia termasuk warga yang enggan berbaur untuk kerja bakti dan gotong royong.

Bambang mewajibkan, warga kerja bhakti menata kampung saban akhir pekan.

Warga memeriksa dan merawat tanaman hias yang ditanam di depan rumah | Foto: Eko Widianto/ Mongabay Indonesia
info gambar

Awalnya Zainul, memilih tetap bekerja. Rutin saban hari dia keluar rumah berangkat pagi dan pula sore. Saat tetangga kerja bakti, dia menuntun motor keluar gang berangkat bekerja. Setahun kemudian anaknya lahir, dia memerlukan surat pegantar Ketua RW untuk mengurus akta kelahiran anak keduanya.

Bambang menolak. Surat pengantar untuk akta kelahiran bakal diberikan setelah Zainul, bersedia ikut kerja bakti.“Baru saya sadar, dan ikut kerja bakti,” katanya.

Kini, dia salah seorang warga paling aktif kerja bakti. Warga memberikan julukan “Iron Man” lantaran selalu berkutat dengan besi. Mengolah besi rongsokan menjadi keranjang tanaman maupun kerangka pot, misal, sepeda bekas, dia olah menjadi hiasan sekaligus kerangka pot bunga. Unik, menarik dan memiliki manfaat.

Dia mengerjakan di sela-sela bekerja.Ppekerjaan mengelas mulai matahari terbenam sampai matahari terbit. Zainul dengan warga sekitar rumah yang bekerja malam hari dikenal dengan sebutan “suku dalu” atau suku malam.

Kini, mereka tulang punggung untuk mengerjakan aneka struktur berbahan besi guna menghijaukan Kampung Glintung. Termasuk melayani pemesanan dari sejumlah kampung di daerah lain yang ingin membuat vertical garden maupun urban farming.

Kelompok tani, tak sekadar menanam tanaman konvensional. Mereka juga mengolah hasil pertanian. Mereka mengembangkan agro inovasi. Kini dibentuk badan hukum untuk kelompok tani ini. Mereka menanam sayuran dengan sistem hidroponik. Total tiga green house bantuan dari pemerintah untuk mengembangkan pertanian di perkotaan.

Raymond Valiant Ruritan, Direktur Utama Perum Jasa Tirta I, berkeliling Kampung Glintung. Hasil pengamatan dan penelitian, sungai di kampung itu bisa menjadi pembangkit listrik tenaga mikrohidro. “Sungai kecil lahan terbatas. Kira-kira menghasilkan 5.000 -20.000 Watt,” katanya.

Gerakan warga Kampung Glintung, merupakan kearifan lokal yang harus didukung. Perum Jasa Tirta I, salah satu BUMN operator Sungai Brantas dan Sungai Bengawan Solo, akan memfasilitasi warga.

Jasa Tirta, katanya, akan membiayai seluruh desain, perencanaan, konstruksi dan biaya lain. Listrik untuk kepentingan publik.

Direktur Utama Perum Jasa Tirta 1, Raymond Valiant Ruritan (baju putih) bersama Bambang Irianto memeriksa sumur injeksi di Kampung Glintung | Foto: Eko Widianto/ Mongabay Indonesia
info gambar

Berwisata ke Kampung Glintung

Kini, Kampung Glintung jadi obyek wisata. Wisatawan dari mancanegara dan domestik berdatangan. Mereka ingin belajar konservasi air, urban farmingdengan memanfaatkan lahan sempit di perkotaan, penataan kampung dan menggerakkan ekonomi masyarakat. Sampai saat ini, 25.000 orang berkunjung ke Kampung Glintung.

Untuk mengoptimalkan program itu, dibentuk pusat pelatihan dikelola dengan sistem manajemen moderen. Setiap rombongan antara 10-20 orang, berbayar Rp1,5 juta. Kalau rombongan kurang 10 orang biaya Rp 1 juta.

Dalam sepekan, antara dua sampai tiga rombongan datang ke Kampung Glintung. Ada akademisi untuk penelitian, lembaga pemerintah, kelompok masyarakat, perusahaan swasta, dan pelatihan bertani bagi karyawan menjelang pensiun.

Untuk penelitian juga kena biaya tertentu. Penelitian skripsi Rp1 juta, tesis Rp5 juta, dan disertasi Rp10 juta. Meski berbayar, banyak mahasiswa dan dosen penelitian di Glintung. “Kampung tak hanya jadi obyek penelitian. Mencari ilmu di kampung tetapi berbayar,” kata Bambang.

Dibangun sebuah pendapa untuk proses pelatihan. Pelatihan juga menguntungkan warga yang menyediakan homestay untuk para tamu dan makanan. Pedagang makanan dan minuman juga diuntungkan. Perekonomian warga berkembang.

Seluruh hasil usaha terkumpul masuk ke kas RW. Hasilnya, kas RW mencapai ratusan juta. Sekretaris Eksekutif Training Center Glintung, Soetopo mengatakan, untuk memperkuat ekonomi masyarakat juga dibangun koperasi. Kini, aset dan uang berputar di koperasi mencapai Rp400 juta. Sebanyak 200 anggota memanfaatkan dana koperasi untuk simpan pinjam.

Atas terobosan ini, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, meresmikan kampung konservasi Glintung Go Green (3G). Tjahjo membubuhkan tanda tangan di atas prasasti sebagai bentuk peresmian kampung korservasi di kawasan perkotaan itu.

Kampung Glintung juga masuk nominasi lima besar dalam Guangzhou International Award for Urban Innovation 2016.

Bambang juga mendapat kalpataru dan penghargaan sebagai 72 ikon berprestasi Indonesia yang diberikan Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila sekarang bernama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila.

“Sejak 2012, ada peraturan daerah tentang bangunan. Isinya, mewajibkan pengembang membangun sumur resapan,” kata Sutiaji. Lantaran perumahan sudah mengurangi ruang terbuka hijau. Air tak terserap tanah, tetapi menggenang menyebabkan banjir. Bagi yang tak bikin sumur resapan kena sanksi administrasi sesuai kesalahan.

Sanksi terberat, pemerintah mengeluarkan catatan hitam bagi pengembang dan tak bisa mengajukan izin membangun perumahan di Kota Malang. “Administratif saja, sanksi belum diterapkan. Sudah disampaikan ke pengembang,” kata Sutiaji.


Sumber: Ditulis oleh Eko Widianto dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini