Bukber Minim Sampah dan Puasa Plastik Isi Ramadan di Bali

Bukber Minim Sampah dan Puasa Plastik Isi Ramadan di Bali

Ilustrasi makan dengan alas daun pisang © Sumber: Junanto Herdiawan

  • Bulan Ramadan tahun ini di Bali menajadi spirit kampanye lingkungan dan pengendalian diri untuk mengurangi sampah plastik
  • Ada Green Your Ramadan yang diisi dengan diskusi ayat-ayat pelestarian lingkungan dan tips mengurangi limbah dalam keseharian
  • Di sisi lain ada kampanye Puasa Plastik yang bisa diikuti siapa saja yg tertarik mengurangi pemakaian plastik sekali pakai
  • Inisiatif ini membuka pintu pada kesadaran baru untuk mengubah perilaku

Semangat pengendalian diri di bulan Ramadan tahun ini menginspirasi sejumlah pihak mengisinya dengan aksi lingkungan. Misalnya kampanye Puasa Plastik yang dicetuskan musisi Robi Navicula dan Green Your Ramadan melalui buka puasa minim sampah oleh komunitas Go Green Deen di Bali.

Sekitar 30 orang perempuan berkumpul di salah satu ruangan dalam Masjid Agung Sudirman, Denpasar, Bali, Selasa (14/3/2019) sore. Satu persatu perempuan yang datang, sebagian dengan anak-anaknya, duduk lesehan. Sebagian membawa makanan menu berbuka puasa dalam wadah-wadah untuk disumbangkan dan disantap bersama. Karena banyaknya anak-anak, mereka diajak ke ruangan lain dengan aktivitas menggambar dan bercerita.

Go Green Deen, komunitas muslimah di Denpasar yang tertarik menerapkan hidup berkesadaran lingkungan ini memfasilitasi diskusi tentang hidup minim sampah. Bekerja sama dengan komunitas Zero Waste Indonesia. Dalam undangan publiknya, seluruh peserta diminta membawa perlengkapan makan sendiri dan sapu tangan jika memerlukan saat menyantap menu buka puasa bersama nanti. Inilah awal perkenalan pada gaya hidup minim sampah.

Panitia juga menyediakan tong sampah khusus organik. Sampah yang dihasilkan hanya bungkus daun pisang nasi. Tiap peserta membawa wadah sendiri, seperti kotak makan, sendok, dan botol air.

Situasi berbeda nampak di halaman masjid, di luar ruangan kegiatan Green Your Ramadan-Buka Puasa Bersama Minim Sampah ini. Jelang jam buka puasa, nampak antrean warga mendapatkan menu buka puasa. Aneka kue masih dibungkus wadah plastik mika dan air mineral gelas. Jika ada sekitar seribu paket kue dan mineral gelas, bisa dikalkulasi peningkatan sampahnya. Ini memberikan pengalaman berbeda pada peserta diskusi.

Peserta Green Your Ramadhan berbuka puasa bersama dengan membawa alat makan sendiri, tidak menghasilkan sampah dan limbah jika dihabiskan | Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

Dialog Minim Sampah diawali pembacaan sejumlah ayat-ayat kesadaran lingkungan dalam Al Quran oleh Fia, salah satu penggerak Go Green Deen yang berkegiatan sekitar setahunan ini. Salah satunya berbunyi, “telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Maurilla Sophianti Imron dari Zero Waste Indonesia membagi pengalamannya memulai hidup minim sampah beberapa tahun ini. Menurutnya hidup berkesadaran lingkungan bukan hal baru karena Rasullulah sudah melakukannya.

Zero Waste Indonesia adalah sebuah komunitas membagi pengatahuan dan kesadaran melalui beragam cara, lewat kampanye online atau tatap muka. Setelah pola pikir berubah lalu mempraktikkan. “Kami tidak memaksa nol sampah, nanti takut duluan. Tapi mengurangi, melihat kembali cara konsumsi, lalu olah sampahnya,” Maurilla memulai.

Ia sendiri mulai menyadari dan mempelajari perilaku nyampah manusia ini pada 2011. Ia melihat video seorang penyelam di dalam laut yang lebih banyak sampah plastik dibanding ikan. “Seperti supermarket, semua brand ada di bawah laut. Kepeduliaan saya tergugah,” cerita perempuan yang tinggal di Belanda ini.

Saat itu sejumlah referensi dan role model dari luar negeri, menurutnya susah cari referensi Bahasa Indonesia. Namun ini bukan gaya hidup baru, kesadaran lingkungan sudah zaman Rasullulah dan ada di Al Quran. Misalnya tidak ada makanan dan minuman non sintetik tapi sekarang ketergantungan. Wadah makanan dan minuman juga kini dimodifikasi jadi lebih beracun.

Peserta Green Your Ramadhan menyumbang makanan tanpa dibungkus plastik | Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

Maurilla membagi sejumlah tips untuk memulai di bulan puasa ini. Diet kresek saat takjil dengan bawa wadah atau kantong sendiri. Wudhu dengan 1 mud air atau 2 tangkup tangan dewasa. “Ini bisa jadi contoh pedoman. Walau sekarang air mudah mengucur,” urainya.

Saat ini sebagian TPA penuh dan menggunung karena sampah bercampur dan tak bisa diolah. Ini awal masalah baru walau menerapkkan buang sampah pada tempatnya, karena nanti masih dibuang ke TPA yang tak terolah. Ia menyontohkan, kalau ke pasar, tiap jenis barang dikasi kresek.

Soal sisa makanan juga menjadi persoalan besar. Salah satu riset menyebutkan Indonesia pembuangan limbah makanan terbesar kedua di dunia dan juga pembuang sampah ke laut.

Seperti tertulis dalam ayat Al Quran di atas, dampaknya telah nampak. Kerusakan di darat dan laut agar merasakan akibat, dan diajak kembali ke jalan yang benar. “Tidak menakuti tapi berefleksi apa yang dilakukan di rumah kita,” ajak Maurilla.

Ramadan menurutnya bisa jadi momentum memulai minim sampah. Kesadaran memerlukan panggilan hati, karena tak bisa dipaksa. Setelah memiliki kesadaran dari dalam diri, ada sejumlah strategi untuk memulainya. Ia membagi rumusnya dengan melakukan 5R+1S untuk keberlanjutan (sustainibility). Yakni, refuse, reduce, reuse, recycle, rot, dan sort.

Rumus itu bisa ditafsir sesuai kondisi, misalnya pertama berusaha menolak sampah-sampah sintetik yang sulit diolah (refuse), kemudian mengurangi penggunaan barang yang tak sesuai kebutuhan (reduce). Menggunakan kembali barang atau membuatnya punya fungsi baru (reuse), dan mendaur ulang atau mendekatkan ke unit ini (recycle). Terakhir, mengkompos sampah-sampah organik dan limbah makanan (rot) dan memilah sampah yang tak bisa dihindari (sort).

Ia mengutip sebuah haditz, “barang siapa yang menghidupkan tanah (lahan) mati maka ia menjadi miliknya.” Dari sudut pandangnya, ini tentang menyuburkan tanah kembali (misalnya dengan kompos) sehingga bermanfaat dan memberi kesejahteraan.

Soal menghindari perilaku konsumtif juga menurutnya ada banyak dalam ajaran Islam. Misalnya saat Nabi Muhammad memperbaiki sendiri sepatunya. Manfaatnya lebih banyak, hidup lebih sehat dan bahagia serta membantu banyak orang dan mahluk lain.

Daun pisang kini makin dilirik sebagai pembungkus makanan dan kemasan produk karena kesadaran diet plastik sekali pakai mulai meningkat | Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

Sementara Puasa Plastik digaungkan tim Pulau Plastik, sebuah kampanye penyadaran bahaya plastik yang dibuat salah satunya oleh Gede Robi, vokalis dan juru bicara band Navicula. Ia mulai mengajak dengan sebuah video di akun media sosialnya.

“Mau coba tantangan seru selama bulan puasa tahun ini? Maukah teman-teman membantu saya? Kali ini saya ikutan puasa tapi puasa plastik,” ajaknya. Ketergantungan pada plastik sekali pakai menurutnya berdampak pada polusi limbah plastik akibat produksi dan penggunaan tak terkontrol. Ia mengajak coba puasa plastik selama 1 bulan seperti dirinya, 1 minggu, atau cuma 1 hari.

Hari pertama puasa pada 6 Mei, ia mengisi Petisi Komunitas Peduli Sampah (KPS) Bali untuk mengawal regulasi pemerintah dalam usaha mengurangi peredaran plastik sekali pakai. Petisi ini minta Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) menghentikan uji materi regulasi pelarangan plastik sekali pakai di Bali. Petisi ini sudah ditandatangani hampir 90 ribu orang per 17 Mei 2019.

ADUPI juga kemudian membuat petisi namun mempetisi Presiden Joko Widodo, Menteri Lingkungan Hidup, dan Menteri Hukum dan HAM. Judulnya “ayo budayakan kumpulkan dan pilah sampah plastik hindair pencemaran lingkungan.” Beberapa poin mengklarifikasi petisi KPS misalnya soal istilah gugatan. Petisi ini sudah ditandatangani lebih 4000 orang.

Hari berikutnya, Robi memposting bawa tumbler kopi sendiri saat take away. Saat konser di Jakarta ia pesan makanan online, memilih menu tanpa bungkus plastik dan minta driver membawanya tanpa bungkus plastik. Ia mengaku senang driver aplikasi online memenuhinya dan memberikan tips.

Saat Hari Raya Saraswati, Robi mengajak sembahyang ke pura bawa sesajen atau canang tanpa kresek plastik. Tapi wadah seperti sokasi bambu dan lainnya.

Gede Robi Navicula (kedua dari kanan) dalam salah satu syuting serial episode perdana serial Pulau Plastik | Foto: arsip Pulau Plastik/Mongabay Indonesia

Salah satu pengguna media sosial yang mengikuti puasa plastik ini adalah Kristina Komalasari. Seperti Robi, ia menggunakan spirit Ramadan dengan puasa plastik.

“Selamat berbuka yang sedang berpuasa. Bagaimana puasa pertama? Puasa plastik hari pertamaku lancar jaya. Tidak jajan hanya beli stock yogurt,” seru Komala. Ia tinggal memasukkan ke tas. Ia juga masak sendiri, bawa bekal sendiri.

Di hari kedua, ia sudah merasakan tantangan puasa plastik karena harus mikir tiap mau belanja, sementara nyaris semua barang dibungkus plastik. Saat ingin pesan makanan online juga takut dibungkus plastik. Jadilah makan di tempat dan beli rujak wadah kotak sendiri.

Saat ingin beli kerupuk dibatalkan karena dibungkus plastik. “Menurutku puasa plastik ini bukan hanya meniatkan mengindari plastik sekali pakai juga puasa makanan ringan yang membuat radang,” tulisnya. Hari berikutnya ia bolong puasa plastik karena beli es krim wadah cup plastik, namun akan digunakan sebagai wadah pot. Demikian juga saat beli mie instan karena sudah terbungkus kemasan.

Ia bertahan seminggu full puasa plastik, namun menemui tantangan saat membeli produk sehari seperti gula yang sudah dibungkus di warung dan mie instan. “Lumayan banget bisa mengontrol konsumsi plastik karena jajanan sekarang kebanyakan bungkus plastik,” kata perempuan muda ini.


Sumber: Ditulis oleh Luh De Suriyani dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Yufi Eko Firmansyah

PPI Kawasan Asia - Oseania Berhasil Gelar Acara Tahunan Sebelummnya

PPI Kawasan Asia - Oseania Berhasil Gelar Acara Tahunan

Jelang 55 Tahun Perkembangan Teknologi Material Indonesia Selanjutnya

Jelang 55 Tahun Perkembangan Teknologi Material Indonesia

Vita Ayu Anggraeni
@ayuvitaa

Vita Ayu Anggraeni

I work here because I value positivity. In the midst of social media era I wish that everyone builds harmony through positivity, so I start from myself.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.