Menulis untuk Berbagi

Menulis untuk Berbagi

Buku solo dan antologi © Dok. Penulis

Sebenarnya menulis bukan hal baru bagi saya. Sejak tahun 1989 saya sudah menulis, bahkan waktu itu tulisan saya sudah berhasil tembus media. Rasanya senang bisa menulis cerita anak, tembus media, tulisan dibaca orang lain, dan saya mendapatkan honor.

Delapan tahun terakhir, saya aktif menulis. Awalnya saya menulis hanya untuk mengisi waktu luang. Lama kelamaan bukan lagi menulis untuk mengisi waktu luang, melainkan meluangkan waktu untuk menulis.

Mengapa saya kembali menekuni dunia tulis-menulis? Jawabannya adalah saya ingin berbagi sesuatu melalui tulisan. Bila membagikan sesuatu yang bermanfaat melalui lisan sangat terbatas penerimanya, sedangkan menyampaikan sesuatu dengan tulisan maka penerimanya lebih luas lagi.

Mengapa harus dengan menulis padahal menulis itu sukar? Siapa bilang menulis itu sukar? Memang bagi sebagian orang, menulis membuat kening berkerut dan mendadak tangan lumpuh untuk digerakkan.

Namun, bagi saya menulis itu gampang. Halah, jangan sombong begitu! Benar, lho, kalau menulis itu gampang.

Menurut saya menulis itu gampang, sebab saya menulis sesuatu yang saya kuasai, dekat dengan saya dan yang ringan-ringan, seperti kejadian sehari-hari. Saya menulis sesuatu seperti menulis di buku harian. Begitu ada sesuatu yang bisa dijadikan ide tulisan, dari melihat, dari merasakan sesuatu, atau dari pengalaman orang lain, langsung dituangkan lewat tulisan. Tulisannya mengalir begitu saja, tidak takut salah.

Oleh karena saya menulis sesuatu yang saya kuasai dan dengan perasaan bahagia, maka tulisan saya jadi hidup. Gaya bahasa dalam tulisan saya mencerminkan keadaan dan karakter saya yang sesungguhnya.

Sering ada pertanyaan, "Bukankah menulis harus sesuai dengan PUEBI? Bagaimana bila kita belum menguasai PUEBI?"

Tenang, biasanya saya membuat tulisan sampai selesai lalu diendapkan minimal 24 jam. Hari berikutnya, tulisan dibaca ulang. Poles sana sini dan saya menyunting tulisan sendiri.

Kalau perlu buka KBBI untuk mendapatkan kata baku. Meskipun tak sempurna, paling tidak tulisannya sudah sedikit kesalahan tulis. Menulis itu membutuhkan proses yang panjang dan saya harus sabar melaluinya.

Saya tidak pernah punya pikiran bisa menulis secara instan. Saya lebih menikmati tahapan-tahapan yang harus dilewati.

Saya bukan ahlinya menulis, bukan pakar, dan hanya sekadar menulis untuk berbagi (dan sedikit berharap mendapatkan recehan). Banyak hal yang sudah saya dapatkan dari menulis, di antaranya adalah:

Honor bila tulisan dimuat di media

Alhamdulillah, saya bisa mendapatkan honor setelah tulisan saya dimuat di media. Kebetulan tulisan-tulisan yang pernah dimuat di media berupa kisah nyata, cerita pendek, cerita anak, dan humor. Meskipun tidak seberapa besarnya, tapi mendapatkan honor membuat hati senang dan puas.

Nama saya dikenal orang

Di dunia maya, saya memiliki teman baru. Sebagian dari mereka belum pernah saya temui. Dari dunia maya, ternyata bisa bertemu di dunia nyata.

Misalnya, saya mengenal Mbak Eka Sutarmi seorang lulusan IAIN Tulungagung di dunia maya. Akhirnya saya bisa bertemu secara langsung Mbak Eka di kampus UNS Surakarta. Yang kedua, teman dunia maya bertemu di dunia nyata adalah Mbak Widyanti Yuliandari. Beliau adalah ketua komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis.

Biasanya bila ada pertemuan penulis di suatu komunitas atau acara tertentu, teman-teman bilang tidak asing dengan saya padahal bertatap muka baru saat itu. Senang rasanya bila dikenal orang berkat tulisan-tulisan saya dimuat di media.

Berteman dengan penulis

Namanya juga suka menulis, maka teman-teman yang saya kenal sebagian besar adalah penulis. Berteman dengan penulis sangat menguntungkan.

Dari mereka, saya bisa mendapatkan banyak ilmu, bertukar pengalaman, dan saling memberikan dukungan. Para penulis tidak pelit memberikan informasi tentang penulisan, diklat, workshop, maupun lomba menulis.

Mendapatkan hadiah saat menang lomba

Pertama kali mengikuti lomba, saya merasa sangat berat ketentuan dan persyaratannya. Namun, setelah bisa memenuhi syarat dan ketentuan, rasanya lega. Lebih bahagia lagi bila ternyata saya menjadi pemenangnya.

Rasanya, wow banget. Saya sampai tidak bisa merinci keberhasilan saya dalam mengikuti lomba menulis. Pokoknya saya mendapatkan bermacam-macam hadiah, mulai uang, barang, dan hadiah berupa training penulisan dan motivasi. Keren, bukan?

Menjadi jutawan dari menulis cerita humor

Apakah bisa menjadi jutawan dari kegiatan menulis? Bisa! Saya sendiri mengalaminya. Saya sering mengirim cerita humor dan dimuat di koran Solopos.

Sekali dimuat, honor yang saya terima adalah Rp 75 ribu. Kurang lebih ada 29 cerita humor yang telah dimuat. Saya membidik genre humor karena penulisannya mudah dan berdasarkan kisah nyata.

Dipercaya untuk membagikan pengalaman menulis

Dari kegiatan menulis ini, saya jadi banyak mendapatkan pengalaman. Saya sering diminta untuk berbagi cerita pengalaman tentang perjalanan menulis saya, bagaimana saya mengikuti lomba dan berhasil menjadi pemenang.

Saya juga pernah didaulat teman-teman komunitas untuk membagikan pengalaman menulis di salah satu TV swasta di Surakarta. Ternyata berbagi tidak harus ketika saya sudah sangat menguasai banyak hal. Sedikit pengalaman bisa saya bagikan kepada orang lain. Ya, indahnya berbagi.

Menjadi kontributor buku antologi

Saya ingin nama saya dikenal orang melalui tulisan. Supaya tulisan saya bisa dinikmati orang lain, maka perlu dibukukan. Banyak cara agar bisa menulis dan menerbitkan buku.

Saya beberapa kali mengikuti seleksi menjadi kontributor buku antologi. Alhamdulillah, ada beberapa buku antologi yang sudah terbit. Untuk tahun 2019 ini, saya memiliki dua buku antologi dan ada beberapa buku lainnya masih dalam proses terbit.

Menulis buku solo

Cita-cita saya memiliki buku solo telah terwujud. Saya berhasil menerbitkan buku dengan judul “Menjadi Kaya Dengan Menulis”. Buku ini saya terbitkan secara indie dengan biaya sendiri.

Buku sederhana ini ternyata bisa dimanfaatkan oleh penulis pemula. Senang rasanya buku saya bisa memotivasi penulis pemula yang masih ragu-ragu menulis.

Mendapatkan royalti dari menulis buku antologi

Setelah melewati proses panjang, ikut menulis buku, dan menjual buku antologi, ada kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan yaitu saat menerima royalti.

Bagi penulis, royalti merupakan salah satu penghasilan yang ditunggu-tunggu. Bila buku yang terjual banyak, maka royalti yang akan diterima juga banyak. Oleh karena itu, selain menulis, tugas penulis buku antologi adalah gencar promosi dan menjual bukunya.

Buku laris, royalti juga bertambah manis.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Saat Jiwa Menulisku Bangkit Lagi Sebelummnya

Saat Jiwa Menulisku Bangkit Lagi

Mengenal Lebih Dekat P2P Lending dan Fintech di Indonesia Selanjutnya

Mengenal Lebih Dekat P2P Lending dan Fintech di Indonesia

4 Komentar

  • Afin yulia

    Jadi ingat cerita sendiri. Saya dulu awalnya ngeblog, baru kemudian pindah ke yang lain-lain. Dulu sih nggak kepikiran bakal jadi penulis. Mikirnya ya nulis-nulis aja, buat diri sendiri. Semoga tulisan Mbak jadi berkah buat pembaca.

    • Noer Ima Kaltsum

      Amin Ya Robbal Alamin. Tetap berbagi tulisan, berbagi manfaat meski hanya sedikit

  • Noer Kaltsum

    Matur nuwun mbak Agustina, njenengan juga TOP banget

  • Agustina Purwantini

    Tulisanmu kurasakan memang makin keren, Mbak. Sip dah. Empat jempol.

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.