Ketika Passion Lama Itu Muncul Kembali Tanpa Kusadari

Ketika Passion Lama Itu Muncul Kembali Tanpa Kusadari
info gambar utama

Umurku 9 tahun kala itu...

Goresan demi goresan kata sederhana dari pena di tanganku hampir setiap hari mengisi satu buku kosong yang kusimpan rapi di laci kamarku. Tahukah kamu apa isinya?

Yup, beberapa cerita pendek sederhana dari imajinasi seorang anak perempuan kelas 4 SD tertulis di sana. Bukan tanpa alasan tentunya.

Aku sangat bersyukur karena sejak duduk di bangku kelas 1 SD, orang tuaku selalu berlangganan majalah anak-anak yang ngehits pada saat itu (kamu pasti tahu 'kan si keluarga kelinci yang tersohor itu hehehe...).

Mungkin karena kebiasaan membaca majalah anak itulah yang kemudian membuat imajinasiku berputar-putar, dan akhirnya menuangkannya dalam bentuk cerita di buku tulis khususku.

Lucunya, setelah lulus dari Sekolah Dasar dan menginjakkan kaki di sekolah lanjutan, aku justru lupa dengan hobiku menulis saat SD. Tak pernah kuisi lagi buku tulis khusus itu dengan cerita-cerita ringanku.

Aku seolah lupa, tak seperti layaknya para teman remaja yang justru mulai asyik mengisi buku harian mereka dengan kisah-kisah menarik masa remaja.

Yang kuingat, saat di sekolah lanjutan tingkat atas nilai pelajaran Bahasa Indonesiaku selalu baik dan memuaskan. Bahkan, aku pernah mendapat nilai sempurna di kelas saat diberi tugas menulis surat ucapan terima kasih untuk guru Bahasa Indonesiaku.

Mungkin memang sudah jalannya harus begitu. Saat kuliah pun, aku tertarik mengambil jurusan yang bersinggungan dengan media, yaitu Komunikasi. Lebih dari itu, bercita-cita menjadi seorang jurnalis televisi yang selalu mengejar informasi dari narasumber selalu ada di kepalaku.

Ah, padahal aku termasuk seorang yang pemalu. Teman SMP dahulu bahkan ada yang mengatakan, aku adalah anak yang kuper alias kurang pergaulan. Sifat pemaluku sangat berlebihan saat itu, membuatku bukan termasuk anak yang populer di kelas.

Maka, ketika saat ini, 25 tahun setelah masa ABG itu berlalu, aku justru mulai melanjutkan kebiasaan menulis, tentunya ini bukan suatu kebetulan. Pasti Dia Yang Maha Kuasa telah mengaturnya dengan sangat rapi.

Dimulai dari menjadi seorang kontributor pada beberapa paltform media online, perjalanan menulis ini menuntunku bertemu dengan para sahabat sevisi, yang mengajakku menuliskan goresan kata dalam beberapa buah buku antologi. MasyaAllah, nikmat mana lagi yang Engkau dustakan?

Menulis, sejatinya memang bukan hanya milik mereka yang suka atau berbakat saja. Menulis sebenarnya dapat pula kamu jadikan sebagai media terapi untuk mengeluarkan segala keluh kesah dan unek-unekmu.

Tapi, pastikan yang kautulis adalah sebentuk curhat berinpirasi, ya, bukannya justru segudang sumpah serapah.

Apalagi jika kamu adalah seorang perempuan, di mana makhluk yang satu ini selalu membutuhkan media tempat curahan hati. Nah, aktivitas menulis secara rutin dapat membantumu mengisi kekosongan dan kejenuhan hati.

Wahai perempuan, menulislah...

Temukan jati diri dan perjalanan hidupmu yang sangat menginspirasi lewat goresan-goresan katamu. Kelak, ketika tiba saatnya kau tak dikenal lagi, semua tulisanmu akan mampu meninggalkan jejak dan memberitahu pada dunia siapa engkau sesungguhnya.

Selamat menulis, wahai kaumku!

Tinggalkan jejak positif dan terbaik untuk anak-anak kita di masa depan, karena kita adalah sekolah pertama dan terbaik bagi mereka.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

HP
AI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini