Perempuan Penulis, Jadikan Kata-katamu Kabar Baik Bukan Hoaks!

Perempuan Penulis, Jadikan Kata-katamu Kabar Baik Bukan Hoaks!

© Dok. Penulis

Berbahagialah kita yang hidup di era digital, khususnya perempuan penulis. Sarana informasi atau bahan pendukung tulisan gampang diakses dan diunduh dari berbagai laman internet.

Karya perempuan penulis pun relatif lebih mudah dipublikasikan di berbagai media sosial, tidak terbatas ruang dan waktu. Namun demikian selain menjadi berkah, jika tidak digunakan dengan bijak, internet dan media sosial bisa berbahaya sebagai sarana sirkulasi hoaks.

Hoaks tak sesederhana berita bohong

Kata hoaks (bahasa Inggris: hoax) belakangan banyak ditemui di linimasa. Hoaks atau berita bohong dalam KBBI nyatanya tak sesederhana itu. Hoaks berpotensi menimbulkan perpecahan dan menghancurkan persatuan.

Berita bohong dikatakan sebagai hoaks apabila berita yang sesungguhnya palsu atau tidak benar dikemas dengan sengaja, direkayasa seolah-olah merupakan informasi terpercaya.

Hoaks secara sadar diproduksi untuk tujuan tertentu, dari yang publisitas semata hingga tujuan yang lebih serius untuk mempengaruhi opini publik.

@mudamudidigital
Ciri-ciri Hoax menurut Dewan Pers | Foto: @mudamudidigital

Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembuat hoaks bukanlah sekedar orang iseng. Berita hoaks diproduksi sedemikian rupa untuk mempengaruhi pikiran bawah sadar manusia agar percaya dan terpengaruh.

Pesan-pesan hoaks biasanya diangkat dari unsur faktual yang secara cermat disisipi kebohongan. Judul dibuat sensasional atau mengandung kata-kata sugesti.

Tujuannya agar mereka yang mudah terprovokasi, merasa se-ideologi, dan malas mengecek kebenaran berita tanpa sadar membagikan hoaks dengan sukarela. Semakin menyebar semakin berdampak.

Perempuan penulis menghadapi hoaks

Di arus gempuran hoaks zaman ini, perempuan penulis tidak bisa tidak harus turut andil bertanggung jawab. Perempuan penulis merunut pada dua kata perempuan dan penulis.

Eksistensi perempuan, yang disampaikan Mother Teresa yaitu “The woman is at the heart of the home. Let us pray that we women realize the reason for our existence: to love and be loved and through this love become instruments of peace in the world.”

Sementara, penulis memiliki tanggung jawab moral membawa manfaat dalam karya tulisnya. Untuk itu perempuan penulis, ia memiliki peran besar untuk menghadirkan kabar baik, menjadi agen perdamaian dunia lewat tulisannya.

Menghadapi hoaks, perempuan penulis tentu tidak bisa sekehendak hati menuangkan gagasan, ide dan pemikirannya. Setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain:

  • Perempuan penulis seyogyanya memperhatikan kode etik kepenulisan, tulisan harus benar, transparan, lengkap dan faktual. Verifikasi fakta dan tuliskan kebenaran.
  • Mengemukakan pendapat, saran atau solusi orisinal atas suatu fakta. Tidak plagiat. Perempuan penulis dituntut untuk tetap netral dan jujur dalam menyampaikan opini atau kesimpulan.
  • Menghindari tulisan yang menggiring opini publik negatif. Bebas dari pesan ‘sponsor’.
  • Memahami standar kriteria penulisan yang baik, mengangkat hal baru atau menyajikan tema istimewa. Memadukan unsur informasi, edukasi, dan hiburan yang memberi manfaat bagi pembaca.
  • Sebisa mungkin menghindari bias dalam tulisan. Menggunakan bahasa sesuai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) dan pilihan kata yang lazim, sehingga pembaca dapat memahami maksud yang ingin disampaikan.

GNFI, Good News From Indonesia

Selain beberapa hal di atas untuk menangkal hoaks, perempuan penulis juga harus cermat memilih media yang tepat untuk publikasi tulisannya. Salah satu media yang konsisten menjadi sumber berita terpercaya adalah GNFI.

Good News From Indonesia hadir pada tahun 2009 sebagai jawaban dari keresahan seorang Akhyari Hananto akan berita-berita tentang Indonesia yang bernada negatif.

Seperti halnya hoaks, bila didengungkan berulang-ulang secara konsisten tentu akan menimbulkan pesimisme, hilangnya kepercayaan dan kebanggaan akan Indonesia.

@gnfi
Good News From Indonesia

Ari, demikian nama sapaannya memang seorang inspirator. Ia membuat terobosan membuat situsweb yang berkomitmen menyebarkan konten positif tentang Indonesia tanpa intervensi politik, agama atau kepentingan pribadi.

Slogan GNFI, We are Good News from Indonesia - Restoring Optimism, Rebuilding Confidence membangkitkan kembali kebanggaan, optimisme dan kepercayaan diri sebagai Warga Negara Indonesia.

Tak heran, jika pada tahun 2011, Akhyari Hananto mendapat gelar 100 orang berpengaruh di Indonesia yang digelar majalah Marketeers.

Perempuan penulis bisa belajar dari inisiator GNFI ini, karena kabar baik akan selalu menjadi kabar baik. Gaung kebaikan tak pernah sia-sia, abadi menjadi inspirasi bagi banyak orang. Tetapi hoaks akan berlalu secepat kepentingan ‘sponsornya' itu sendiri.

Jadilah perempuan penulis yang akan dikenang karena menebar berkat lewat tulisannya.

Small acts, when multiplied by millions of people, can transform the world – Howard Zinn

Sumber: Mongabay | Wikipedia | Good News From Indonesia | mudamudidigital

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang25%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi75%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Mahasiswa UM Ciptakan Inovasi TIGER (Traditional Game Corner) Sebelummnya

Mahasiswa UM Ciptakan Inovasi TIGER (Traditional Game Corner)

Personal Branding Itu Penting, Lho Selanjutnya

Personal Branding Itu Penting, Lho

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.