Bangga Menjadi Anggota Komunitas Menulis

Bangga Menjadi Anggota Komunitas Menulis
info gambar utama

Menjadi anggota komunitas menulis adalah salah satu cara untuk belajar menulis. Bagi saya, itu hanya salah satu tujuan, selebihnya adalah supaya bisa berkenalan dengan teman-teman yang sudah berprofesi sebagai penulis dan bisa mencuri ilmunya.

Tercapaikah tujuan saya itu? Alhamdulillah yang saya dapatkan malah jauh lebih banyak.

Komunitas menulis pertama yang saya ikuti adalah grup Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN) dan saya bergqbung sejak akhir tahun 2017. Yang membuat saya sangat senang adalah, di grup ini resep kue dan masakanpun bisa dikategorikan sebagai sebuah tulisan.

Kalau soal resep kue sih saya lumayan berani untuk mengirim, lha saya kan sehari-hari memang tukang kue...

Ternyata banyak juga teman-teman yang mau membaca resep kue yang saya tulis dan mencoba membuatnya. Kebahagiaan seorang tukang kue adalah saat membagi resep lalu ada yang mempraktekkan dan mengirim gambar kue yang sudah dibuat. Biasanya disertai dengan caption seperti ini, "Ini bikinan saya, Bun ..."

Saya juga menjadi anggota IIDN supaya bisa mengikuti lomba-lomba dan tantangan-tantangannya. Ya, saya adalah orang yang butuh untuk selalu diingatkan, dipaksa dan ditantang-tantang untuk bisa maju.

Sungguh suatu kebiasaan yang buruk tapi paling tidak saya sudah memaksa diri untuk selalu ikut dalam berbagai tantangan. Tentunya sambil berharap agar suatu waktu nanti bisa terus berdisiplin tanpa ikut berbagai tantangan.

Tantangan Satu Hari Satu Karya (SHSK) dari IIDN adalah salah satu yang paling berkesan bagi saya. Harus menyetor berbagai tema yang berbeda setiap hari rasanya sangat menantang.

Mengetik sambil terus-menerus memandang jarum jam menjelang batas waktu setor jam 10 malam rasanya sungguh mendebarkan dan memacu adrenalin.

Mungkin hanya saya yang sering menulis pada saat-saat terakhir yang bisa merasakan sensasi itu. Mungkin hal yang sama dirasakan juga oleh teman-teman deadliners garis keras lainnya.

Melalui IIDN juga saya bisa belajar dari banyak penulis-penulis senior, baik melalui tulisan mereka ataupun melalui acara sharing dan kelas-kelas menulis yang sering diadakan.

Yang paling membanggakan adalah ketika nama saya terpampang di sampul depan buku "Ngeblog Seru ala Ibu-ibu" bersana dengan 39 blogger lainnya.

Boleh dong saya ikut merasa bangga berada satu buku dengan teman-teman blogger senior yang sudah bisa rutin berpenghasilan dari nge-blog? Padahal terus terang saja, sampai saat ini saya masih merasa berada di planet lain saat menguping pembicarakan di antara mereka tentang apa itu DA/PA, SEO, content placement, dan macam-macam istilah di dunia blogging.

Bukannya saya tidak mau belajar, tapi walaupun mereka sudah berbusa-busa mengajarkan tentang istilah-istilah itu, saya belum juga menguasai. Tidak apa-apa, paling tidak pembaca akan mengira semua blogger yang ada dalam buku itu sama kerennya. Hahaha...

Bisa dikatakan bahwa IIDN adalah sekolah pertana saya untuk belajar menulis dan telah berhasil menumbuhkan minat saya untuk terus menulis. Semoga suatu hari saya bisa menghasilkan karya tulisan yang bermutu agar bisa membanggakan IIDN.

Setelah merasa mempunyai sedikit ilmu menulis dari IIDN, saya semakin percaya diri untuk menjadi anggota komunitas yang lain, yaitu Komunitas Bisa Menulis (KBM).

Apa bedanya dengan IIDN? Tentu saja berbeda karena KBM beranggotakan penulis laki-laki dan perempuan. Bukan cuma itu, jenis tulisan yang sering dimuat juga berbeda.

Di KBM tulisan terbanyak adalah cerpen dan cerber berbagai genre. Banyak juga jenis tulisan bermuatan politik jelang Pilpres kemarin. Yang pasti, tulisan tentang resep masakan tidak akan pernah ada.

Sejujurnya, niatan saya bergabung di KBM adalah karena salah satu kalimat yang ditulis oleh admin saat akan bergabung, yaitu, "Anggota KBM harus bersedia jika tulisannya dikritik dan dibantai habis-habisan oleh penulis lain di grup ini."

Saya berpikir, "Ini dia yang saya tunggu. Kapan lagi ada banyak penulis yang akan mengoreksi tulisan saya?"

Selanjutnya saya agak kecewa karena tulisan-tulisan saya yang dimuat di KBM jarang sekali ada yang membantai. Komentarnya sebatas hanya yang ringan dan lucu saja.

Jika ada satu dua yang berkomentar pedas, sudah langsung dijawab dan diserang oleh anggota-anggota lain tanpa saya harus capek-capek menanggapi.

Saya juga mengamati bahwa di KBM ini ada banyak penulis senior yang bukunya sudah best seller. Banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari tulisan-tulisan mereka.

Kesimpulan yang bisa saya ambil dari kedua komunitas menulis yang saya ikuti tersebut adalah IIDN merupakan tempat belajar sedangkan KBM merupakan ajang untuk pamer karya sebagai hasil belajar. Jika ingin mengetahui reaksi pembaca atas tulisan kita, menulislah di KBM.

Sejatinya kedua komunitas menulis di atas adalah tempat untuk belajar. Tujuan akhirnya adalah menjadi penulis yang mempunyai karya yang bermutu dan bisa menginspirasi orang banyak.

Jika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh, insyaallah nantinya bisa juga menjadi jalan untuk mendapatkan penghasilan.

Setelah "lulus" sebagai murid di IIDN dan KBM, sudah saatnya kita mengirim tulisan ke berbagai media ataupun menulis buku-buku yang bermutu. Tidak hanya terbuai dengan banyaknya like dan komen yang kita dapat saat mengirim tulisan di komunitas-komunitas menulis.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

EZ
AI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini