Perempuan Penulis dan Upaya Menangkal Hoaks

Perempuan Penulis dan Upaya Menangkal Hoaks

© Dok. Penulis

Belakangan ini media massa diramaikan dengan banyaknya berita bohong yang disebut hoaks. Penyebarannya sudah sangat luas ke semua lapisan masyarakat dalam berbagai bentuk.

Mengapa masalah hoaks ini sangat menyita perhatian sampai-sampai pihak yang berwajib merasa perlu membentuk tim khusus untuk menanganinya?

Tentu saja karena hoaks yang menyebar itu isinya berpotensi menimbulkan keresahan yang mendalam dan memicu pertengkaran baik di antara warga, masyarakat, maupun di dalam pemerintahan.

Keresahan ini mencapai puncaknya menjelang pemilu yang baru saja berlalu. Berbagai hoaks menyangkut kedua calon presiden dan pendukung mereka berseliweran tiada henti di media sosial.

Sering sekali kita mendengar himbauan dari pemerintah agar tidak lekas percaya pada hoaks dan tidak menyebarkannya.

Sebelum menentukan bagaimana harus bersikap jika mendengar atau membaca tentang hoaks, sangat penting untuk mengetahui seperti apa hoaks itu dan bagaimana ciri-cirinya?

Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo, membeberkan beberapa ciri berita bohong yang biasa disebut hoaks ketika tampil sebagai pemateri dalam kegiatan Literasi Media sebagai Upaya Cegah dan Tangkal Radikalisme dan Terorisme di Masyarakat di Ternate, Maluku Utara. Ciri-ciri hoaks adalah sebagai berikut:

1. Berita yang saat disebar dapat mengakibatkan kecemasan, permusuhan dan kebencian dalam masyarakat.

2. Sumber beritanya tidak jelas dan sulit diverifikasi.

3. Isi pemberitaan tidak berimbang dan cenderung menyudutkan pihak tertentu.

4. Isi berita sering bermuatan fanatisme atas nama ideologi. Judul berita dan pengantarnya provokatif, memberikan penghakiman bahkan penghukuman tetapi menyembunyikan fakta dan data. Biasanya juga mencatut nama tokoh tertentu. Penyebarnya juga minta apa yang dibagikannya agar dibagikan kembali.

Setelah bisa membedakan antara berita yang benar dengan hoaks, bagaimana sebaiknya sikap kita sebagai warga mesyarakat yang baik? Membantah habis-habisan, berusaha meluruskan atau mendiamkan saja dengan asumsi bahwa berita bohong itu akan menghilang dengan sendirinya?

Dalam agama Islam, hoaks atau berita bohong ini bisa digolongkan ke dalam kemungkaran, yaitu perkataan atau perbuatan yang tidak diridhoi oleh Allah swt.

Sikap umat Islam terhadap kemungkaran bisa dilihat dari hadis Rasulullah SAW sebagai berikut,

“Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya, Jika masih tidak mampu, maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim).

Maksud dari hadis tersebut adalah umat Islam bisa melawan kemungkaran dengan perbuatan. Jika tidak sanggup, maka bisa melawan dengan ucapan atau perkataan. Jika masih tidak sanggup juga, maka pilihan terakhir adalah mendiamkan atau melawan dalam hati saja.

Tidak semua orang mempunyai keberanian untuk melakukan perbuatan nyata untuk melawan hoaks, kebanyakan karena khawatir akan menjadi target untuk di-bully oleh pembuat atau penyebar hoaks tersebut.

Melawan dengan ucapan juga tidak mudah karena bisa menjadi perdebatan panjang yang berujung pada pertengkaran. Maka lebih banyak orang yang mencari aman dengan cara diam dan mendoakan dalam hati saja agar hoaks itu segera berlalu dan pembuat atau penyebarnya mendapat ampunan dari Allah.

Bagi perempuan muslim yang berprofesi sebagai penulis, ada tanggung jawab moral dalam menyikapi hoaks. Yang terbaik tentu saja dengan meluruskan berita-berita bohong tersebut dan mengajak semua orang agar tidak terpancing untuk saling bermusuhan.

Bagaimana jika kita sebagai penulis wanita tidak cukup memiliki keberanian untuk melakukan hal tersebut?

Ada cara yang lebih elegan untuk menyikapi hoaks tanpa menimbulkan pertengkaran, yaitu dengan kemampuan menulis yang kita miliki. Cara ini lebih aman daripada melawan hoaks secara terang-terangan dengan perbuatan maupun perkataan. Lebih bermanfaat juga rasanya daripada hanya melawan dalam hati saja.

Tulisan seperti apa yang bisa mengalihkan perhatian orang banyak dari segala jenis hoaks? Inilah saatnya para penulis ditantang untuk membuat berita-berita yang menyejukkan.

Alih-alih ikut meramaikan media sosial dengan perdebatan sahut-menyahut yang menghabiskan energi dan pulsa, lebih baik mengalihkan perhatian orang banyak dengan tulisan-tulisan yang bisa meredakan segala bentuk pertengkaran.

Hal ini mudah diucapkan tapi membutuhkan usaha keras untuk melaksanakannya. Seperti apa misalnya tulisan-tulisan yang menyejukkan itu? Berikut adalah beberapa contoh sederhana:

Toleransi Beragama dalam Aksi 212

Saat acara Aksi 212 di Monas pada tanggal 2 Desember 2016, masyarakat bisa melihat bahwa acara itu dipenuhi dengan ajakan untuk tidak memilih salah satu calon gubernur non-muslim yang dianggap telah melakukan penistaan terhadap agama Islam.

Di tengah segala huru-hara dalam acara yang diisi oleh berbagai ceramah agama dan orasi dari ormas-ormas Islam, ada satu kejadian menarik.

Saat itu peserta acara memenuhi seluruh area di dalam dan di luar Monas sampai ke masjid Istiqlal yang dijadikan tempat untuk sholat berjamaah juga tempat menginap bagi para peserta dari luar Jakarta.

Masjid Istiqlal letaknya bersebelahan dengan gereja Katedral, yang merupakan salah satu gereja tertua dan terbesar bagi umat Kristiani.

Di tengah keseruan acara, ada rombongan pengantin umat Kristiani akan memasuki gereja Katedral. Salah seorang ustaz ternama membawa rombongan orang-orang yang menyapu dan membersihkan tempat Aksi 212 dengan sukarela.

Melihat rombongan pengantin mengalami kesulitan untuk memasuki gereja karena terhalang oleh banyaknya orang, rombongan bersih-bersih itu langsung meminta orang-orang untuk menepi dan memberi jalan bagi pengantin dan rombongannya.

Peserta aksi dengan mudahnya langsung menepi dan mengosongkan sebagian jalan. Rombongan bersih-bersih itu juga menyapu jalanan yang akan dilewati oleh pengantin.

Bukankah sangat indah melihat masih ada toleransi beragama di tengah acara berbau SARA untuk menolak seorang calon gubernur non-muslim? Berbagai hasutan dari pihak-pihak yang ingin memecah belah warga masyarakat dalam aksi tersebut ternyata belum mampu untuk menghilangkan rasa kepedulian antar-umat beragama.

Saling menolong saat kampanye

Dalam masa kampanye calon presiden menjelang Pilpres kemarin, ada peserta kampanye dari salah satu kubu calon presiden yang kehabisan bensin di tengah jalan dan tertinggal di belakang rombongannya.

Saat kebingungan karena tidak berhasil menemukan SPBU ataupun penjual bensin eceran, beberapa motor yang lewat menawarkan bantuan untuk melakukan stepping (mendorong dari belakang dengan menginjak step) pada motor yang kehabisan bensin tersebut.

Mereka menolong pengemudi motor tersebut sampai SPBU terdekat yang jaraknya hampir 1 kilometer.

Lucunya, yang membantu motor tersebut adalah para pengemudi motor dari kubu calon presiden yang menjadi lawannya. Walaupun motor-motor itu sering kali berkonvoi sambil membawa atribut dan berteriak-teriak menjagokan calon presiden pilihan mereka, ternyata rasa solidaritas kepada sesama pengemudi motor tetaplah tinggi.

Antusiasme warga menyambut Pemilu

Menjelang Pilpres yang lalu, tidak sedikit orang yang bersikap apatis dengan tidak menunjukkan kepedulian terhadap Pemilu dan banyak juga yang menjadi golput.

Walaupun demikian, masih jauh lebih banyak orang yang menyambut baik adanya Pemilu dan berharap mendapatkan pemimpin yang bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Daripada meramaikan media sosial dengan perang kata-kata dan ujaran kebencian antar-pendukung calon presiden, orang-orang ini lebih memilih untuk meramaikan Pemilu dengan bergotong-royong menghias TPS-TPS dengan berbagai dekorasi unik seperti piala dunia ataupun hiasan lainnya.

Banyak juga warga yang bersedia menyumbangkan dana untuk menyediakan berbagai makanan dan minuman gratis serta doorprize yang bisa dinikmati oleh warga yang datang ke TPS.

Hal-hal di atas hanyalah sebagian kecil saja dari banyaknya tulisan yang bisa dibuat oleh perempuan penulis untuk menumbuhkan semangat dan harapan bagi warga masyarakat akan Indonesia tercinta yang lebih baik dan damai.

Mungkin belum bisa serta-merta meredam segala hoaks yang sudah terlalu banyak beredar, tetapi jauh lebih baik daripada ikut serta dalam perdebatan panjang di media sosial akibat termakan hoaks, ataupun hanya diam menonton segala kekacauan tanpa melakukan apa-apa.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Bangga Menjadi Anggota Komunitas Menulis Sebelummnya

Bangga Menjadi Anggota Komunitas Menulis

10 Kota Ramah Vegan di Dunia Versi The Vegan Word Selanjutnya

10 Kota Ramah Vegan di Dunia Versi The Vegan Word

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.