Penulis Perempuan Indonesia yang Kuat Harus Belajar dari Penulis Perempuan Masa Lalu dan Sekarang

Penulis Perempuan Indonesia yang Kuat Harus Belajar dari Penulis Perempuan Masa Lalu dan Sekarang

© Pixabay

Saat mendengar kata menulis, kembali kita diingatkan pada masa kanak-kanak yang masih berbekas. Masa itu, guru kita dengan sabar mengajarkan bagaimana menulis huruf demi huruf yang akhirnya terangkai dalam sebuah kata hingga membentuk kalimat “Ini Budi, Ini Ibu Budi, dan seterusnya.

Setelah menamatkan Taman Kanak-kanak, kita kembali diajarkan menulis menggunakan buku halus dan kasar atau huruf tegak bersambung. Tulisan itu mutlak dikuasai oleh kita agar rapi, dan memang kita bisa mengaplikasikannya saat melamar pekerjaan.

Sekarang, zaman telah berubah, teknologi semakin maju. Tulisan tangan tidak diperlukan lagi, karena yang dibutuhkan sekarang adalah kemampuan dalam menguasai Microsoft Word saat menulis lamaran.

Namun, demikian kita juga tidak boleh melupakan sejarah menulis itu sendiri. bahkan bagi seorang perempuan pun harus tahu bahwa kebiasaan menulis yang dilakukannya ternyata berasal dari kebiasaan yang telah dilakukan perempuan-perempuan terdahulu.

Perempuan penulis zaman Rasulullah

Sejarah peradaban Islam melahirkan tokoh-tokoh penting dalam mengembangkan agama Islam. Ketokohan mereka juga bermacam-macam, sesuai dengan keahliannya. Salah satunya adalah Al-Shifa binti Abdullah.

Al-Shifa binti Abdullah adalah perempuan pertama yang memiliki kemampuan menulis di Mekah pada zaman Nabi Muhammad SAW. Perannya pada awal sejarah Islam di Mekah sangat besar. Dia mengajarkan membaca dan menulis kepada kaum muslimin, termasuk salah satu di dalamnya adalah Hafsah binti Umar.

Pada masa itu, tidak banyak perempuan memiliki dua kemampuan tersebut. Pasalnya, orang Arab mayoritas tidak berpendidikan. Namun dengan kemampuannya itu, dia bisa mengubah keterbelakangan negeri Mekah menjadi negeri yang makmur, baik dalam hal medis maupun perdagangan.

Umar sendiri percaya pada Al Shifa untuk mengontrol jual beli di pasar sesuai dengan Islam. Bahkan Rasulullah mendorong dan memastikan bahwa praktek medis yang dilakukan As shifa juga sejalan dengan ajaran Islam.

Perempuan penulis dunia

Menjadi penulis adalah suatu pekerjaan yang masih dianggap remeh oleh kebanyakan masyarakat. Ada yang mengatakan menjadi penulis tidak memiliki masa depan cerah, tidak menghasilkan, dan masih banyak lagi.

Namun, bagi sebagian orang menganggap penulis itu adalah sebuah pekerjaan sangat menjanjikan. Dari sinilah banyak bermunculan penulis-penulis yang tidak memandang gender.

Setelah penulis perempuan zaman Rasulullah, ternyata, bermunculan perempuan penulis dunia yang semuanya menginspirasi. Di antaranya adalah Simone de Bwauvoir, Agatha Cristie, J.K Rowling, Harper Lee, Mary Shelley, Sylvia Plath, Virginia Woolf dan Toni Morrison.

Semua penulis perempuan dunia tersebut, telah menghiasi karya-karya novel best seller dunia dan banyak menghasilkan penghargaan. Bahkan beberapa di antaranya mengasilkan cetakan buku hingga 400 juta kopi.

Kita bisa membayangkan bagaimana pengaruh tangan-tangan perempuan penulis dunia yang bisa menggerakkan manusia untuk membaca isi bukunya.

Perempuan penulis Indonesia

Setelah merambah dunia, kita menuju ke negara Indonesia. Negara ini juga telah menelurkan penulis-penulis perempuan hebat yang karyanya menembus lintas generasi

Tulisan-tulisan mereka juga telah mengantarkan banyak penghargaan dan diadaptasi menjadi sebuah karya film anak bangsa. Perempuan penulis Indonesia antara lain adalah N.H. Dini, Mira W, Asma Nadia, Ayu Utami, Dee Lestari dan masih banyak lagi.

Semua penulis perempuan Indonesia tersebut berhasil menyihir pembacanya dan menembus mata serta imajinasi lintas generasi. Hal ini terbukti masih banyak diminati oleh generasi milenial.

Andakah perempuan penulis Indonesia yang kuat itu?

Membaca kalimat tersebut, seolah tuduhan itu mengarah pada kita. Betul sekali, perempuan penulis itu adalah kita. Kita yang akan mengubah orang lain agar tergerak hatinya untuk menulis.

Menulis tidak hanya mengungkapkan sebuah perasaan seperti yang tertuang dalam buku harian. Akan tetapi lebih dari sekedar berbagi pengalaman, ilmu yang kita miliki pada orang lain.

Mungkin kita pernah menedengar menulis sebagai terapi emosi. Yah, menulis mampu menghilangkan stres yang kita alami baik langsung maupun tidak langsung.

Kita tahu kebanyakan perempuan selalu dihadapkan dengan masalah yang kompleks. Mulai dari kariernya, rumah tangganya, orang tuanya, bahkan anak dan hartanya. Semuanya kadang menjadi beban hidup yang terus bertambah kian hari.

Namun, tidak bagi perempuan penulis yang kuat. Dia bisa menghadapinya dengan hati yang tenang dan tabah. Berapa banyak perempuan penulis yang terkenal dulu dan sekarang mengalami masa-masa sulit dalam hidup, lalu terobati dengan tulisan dirinya.

Jangan pernah takut dengan perkataan orang lain pada tulisan-tulisan kita. Toh kita melakukannya dalam rangka kebaikan dan niat yang baik. Atau lebih tepatnya berdakwah melalui tulisan.

Apakah itu salah? Tidak kan? Jadi bagi saya pribadi, tetaplah menulis, sampai kita temukan titik kekuatan tulisan kita hingga mampu menginspirasi banyak orang khususnya generasi muda Indonesia. Aamiin...

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Kisah Zul, Tukang Parkir di Duri yang Ternyata Lulusan Sarjana Sebelummnya

Kisah Zul, Tukang Parkir di Duri yang Ternyata Lulusan Sarjana

Personal Branding Itu Penting, Lho Selanjutnya

Personal Branding Itu Penting, Lho

1 Komentar

  • Noer Ima Kaltsum

    Berdakwah lewat tulisan bisa dilakukan oleh perempuan

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.