Perempuan Penulis Ikut Berperan Mencerdaskan Bangsa

Perempuan Penulis Ikut Berperan Mencerdaskan Bangsa

Perempuan Penulis, IIDN Soloraya © Dok. Penulis

Pada zaman sekarang, kegiatan menulis bukan hanya sekadar untuk menyalurkan hobi. Sekarang menulis bisa dijadikan suatu profesi. Profesi penulis tidak hanya bisa dilakukan oleh kalangan tertentu. Bagi perempuan yang bekerja di bidang apa pun tetap bisa menjadi penulis.

Teman-teman perempuan penulis yang saya kenal, baik di dunia maya maupun di dunia nyata, ada yang yang berprofesi sebagai dokter, guru, perawat, akademisi, peneliti, pustakawan, karyawan, pedagang, wirausaha, ibu rumah tangga, dan lain-lain.

Apa yang mereka tulis adalah sesuatu yang sesuai dengan minat dan keahlian mereka. Ada teman yang menulis masalah agama, motivasi, psikologi, keuangan, bisnis, tumbuh kembang anak, pelajaran sekolah, kesehatan, fiksi dan non fiksi, sastra, wisata, dan lain-lain.

Saya pribadi sebagai seorang guru, lebih banyak menulis dengan tema motivasi, gaya hidup, wisata, dan tulisan yang ada kaitannya dengan mata pelajaran.

Bagi saya, tulisan yang saya bagikan harus bermanfaat bagi orang lain. Sama seperti teman-teman perempuan penulis lainnya, mereka juga membagikan tulisan yang bermanfaat.

Apabila tulisan yang saya bagikan bermanfaat bagi orang lain, saya akan mendapatkan keuntungan di dunia dan di akhirat. Setidaknya, saya bisa turut mencerdaskan orang lain.

Kini banyak orang yang membutuhkan tulisan-tulisan yang berbobot sebagai referensi atau acuan. Dalam setiap diskusi ringan atau ilmiah, dibutuhkan materi diskusi yang berbobot. Senang rasanya bila tulisan saya bisa dipakai sebagai bahan diskusi.

Saya mendapatkan ide untuk sebuah tulisan dari membaca buku, koran, majalah, melihat dan membaca lingkungan di sekitar, mengajak diskusi orang, berbincang-bincang dengan orang yang menggeluti suatu bidang, dan lain-lain.

Membuat tulisan dari hasil berbincang-bincang dengan orang lain sangat menguntungkan. Saya mendapatkan banyak informasi dari sumber yang dapat dipercaya dan memiliki pengalaman langsung di bidangnya.

Misalnya untuk menulis cara memanfaatkan sampah plastik, saya bisa mendapatkan banyak informasi dari Komunitas Plastic Flowers (Kabupaten Karanganyar).

Untuk mendapatkan informasi tentang keuntungan beternak ayam potong dan petelur, saya bisa langsung ke rumah kenalan yang memiliki ternak ayam.

Banyak orang yang berhasil menekuni suatu bidang, tapi sulit untuk menyampaikan kepada orang lain. Di sini saya bisa membantu menyampaikan keberhasilan mereka dalam melakukan suatu usaha. Harapannya adalah keberhasilan tersebut bisa dicontoh oleh orang lain.

Saya mengumpamakan keberhasilan orang lain dalam suatu bidang, atau bisa mengolah sampah dengan baik merupakan ilmu yang harus disebarkan. Setelah saya tulis dan banyak orang yang tertarik serta melakukan hal yang saya tulis maka saya telah berperan menyebarkan ilmu.

Demikian pula bila tulisan yang saya bagikan bermanfaat bagi orang lain, bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dapat membuat orang lain lebih pintar, artinya saya telah turut mencerdaskan orang lain. Dalam skala yang lebih luas, tulisan yang saya bagikan bisa berperan mencerdaskan bangsa.

Ternyata perempuan penulis, baik yang bekerja di kantor maupun hanya ibu rumah tangga, bisa ikut berperan mencerdaskan bangsa sesuai dengan bidang yang digelutinya.

Profesi penulis tidak mengenal pensiun. Perempuan penulis yang tetap berkarya, produktif menulis dan tulisannya berkualitas ikut berperan mencerdaskan bangsa.

Jadi, saya mengajak para perempuan penulis, lebih-lebih untuk diri saya sendiri, jangan berhenti menulis. Jangan berhenti berbagi tulisan. Jangan berhenti berkarya. Jangan berhenti mencerdaskan bangsa, wahai perempuan penulis.

Kelak, ketika saya dan perempuan penulis lainnya sudah tidak ada, tulisan-tulisan tersebut masih ada dan memberikan manfaat.

Saya ingin seperti RA. Kartini. Tulisannya bisa dinikmati dan sangat menginspirasi bagi perempuan-perempuan Indonesia. RA. Kartini telah ikut mencerdaskan perempuan-perempuan Indonesia melalui tulisannya.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Puan Penulis, Titip Indonesia Ya... Sebelummnya

Puan Penulis, Titip Indonesia Ya...

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri Selanjutnya

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri

2 Komentar

  • Lia Yuliani

    Aamiin. Ilmu yang bermanfaat semoga bisa menjadi sedekah jariyah yang pahalanya terus mengalir. Profesi guru adalah profesi yang mulia. Teruslah menginspirasi dengan peran masing-masing.

    • Noer Ima Kaltsum

      Betul, tulisan kita adalah amal jariyah yang terus mengalir selama tulisan itu bermanfaat, mbak.

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.