"ACTOR" Smart Bioreaktor untuk Kompos

"ACTOR" Smart Bioreaktor untuk Kompos
info gambar utama

Beberapa waktu terakhir ini bisnis ternak kelinci menjadi sepi peminat. Hal ini dibuktikan dengan menurunnya jumlah hasil ternak kelinci sepanjang 2011 hingga 2014 dari angka 32.833 menjadi 28.035 ekor saja.

Pasalnya, permintaan dan penjualan kelinci yang fluktuatif dan sangat bergantung pada permintaan tren di pasar menjadikan pendapatan peternak tidak menentu.

Peternak pun pernah tidak mendapatkan keuntungan sama sekali hingga 2 bulan dikarenakan iklim yang tidak sesuai.

Untuk mengatasi permasalahan rupiah yang selama ini menjadi kendala peternak, lima mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya yaitu Rachmad Wijaya, Achmad Ilmi Arya Putra, Lucky Wiratama, Vera Cahya Rinjani, Riyadlotul Ula, di bawah bimbingan Dosen Dr. Ir Gunomo Djoyowasito, Ms. menciptakan teknologi yang mempermudah pengolahan kompos bernama ACTOR (Aerobic Bioreactor).

Teknologi ini mengaplikasikan kontrol suhu, dan kelembaban untuk mengoptimalkan proses pengomposan.

ACTOR memudahkan peternak untuk mengolah kotoran kelinci menjadi pupuk kompos dengan sistem otomatisasi tinggi berbasis Fuzzy Logic System dan kontrol penyimpanan berbasis IoT System yang tersambung dengan Aplikasi Blynk, sehingga peternak kelinci dapat dengan mudah memantau kondisi terkini proses pengomposan.

Dengan kapasitas hingga 70 kilogram pupuk tiap minggunya, diperkirakan ACTOR mampu meningkatkan profit peternak 300 ekor kelinci minimal Rp 3,5 juta setiap bulannya.

Keunggulan lainnya, yaitu penggunaan energi yang sangat rendah dan waktu pengolahan kompos yang singkat hingga tiga kali lipat lebih cepat dari perlakuan konvensional.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SM
YF
AI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini