Warna Perempuan dalam Kesusastraan Indonesia

Warna Perempuan dalam Kesusastraan Indonesia
info gambar utama

Saya teringat pertama kali mengenal buku N.H. Dini adalah ketika duduk di bangku SMP. Kala itu saya kira N.H Dini adalah nama pena dari seorang pria. Hingga akhirnya saya tahu bahwa N.H Dini adalah nama milik penulis yang bernama asli Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin.

Saya terkejut dan sangat kagum saat itu. Di dalam dunia sastra yang didominasi oleh pria, saya menemukan seorang perempuan dengan karya yang memukau. Saya ingat, kami meminjam buku "Pada Sebuah Kapal" dari perpustakaan sekolah untuk dibaca dan dibedah bersama di kelas.

N.H Dini tidak hanya memukau saya karena beliau perempuan. Dengan karyanya, saya pun tahu bahwa karya sastra tidak harus selalu bertata bahasa tingkat tinggi hingga sulit tergapai oleh kedangkalan kosakata yang saya miliki.

Rangkaian katanya tetap indah, meski tidak perlu berulang kali dibaca untuk mencerna maknanya. Beliau membantu saya menggapai sastra.

Hingga di era 2000-an saya mulai mengenal satu demi satu penulis perempuan. Sayangnya, di tengah kebangkitan penulis perempuan kala itu muncul label yang kurang mengenakkan.

Sastra wangi, beberapa dari kita mungkin tidak terlalu familiar dengan istilah ini. Saya pun baru tahu bahwa ada istilah khusus bagi penulis perempuan, khususnya penulis yang mengangkat tema tentang perempuan dan kesetaraan gender.

Memang kebanyakan para penulis perempuan ini lebih berani dalam berekspresi. Hal ini ditandai dengan penggambaran seksualitas perempuan yang lebih gamblang, serta pemutarbalikan penggambaran tokoh perempuan dari yang lazim tergambar dalam karya-karya sastra sebelumnya.

Pada karya-karya mereka, perempuan digambarkan sebagai sosok yang kuat, pendobrak dan berani.

Namun beberapa pihak justru meragukan kemampuan para penulis perempuan ini. Mereka beranggapan bahwa karya-karya penulis perempuan ini tak lebih dari eksploitasi seksualitas semata yang justru dapat mencederai sastra itu sendiri.

Sejujurnya, di awal masa dewasa muda, saya pun termasuk pembaca karya-karya penulis perempuan ini, sebut saja Saman dan Bilangan Fu karya Ayu Utami, Sagra karya Oka Rusmini, Filosofi Kopi karya Dewi Lestari, dan Biru karya Fira Basuki.

Ya, saya akui karya mereka memang berani bahkan beberapa cenderung vulgar. Namun bagi saya membaca buku ibarat menikmati sebuah sajian makanan, semua tergantung selera. Saya pribadi tertarik dengan karya-karya mereka karena isu perempuan yang mereka angkat.

Pada perkembangannya, topik perempuan yang diangkat oleh para penulis perempuan pun semakin beragam. Kita mengenal Asma Nadia yang mengambil sudut pandang yang lebih religius atau seperti pada "Laluba" karya Nukila Amal yang mengangkat isu konflik masyarakat dari sudut pandang seorang ibu yang sedang mengandung. Unik!

Nyatanya mengangkat topik perempuan tidak hanya melulu soal tubuh dan seks. Cerita tentang perempuan juga bisa diambil dari sudut pandang yang berbeda.

Keberadaan para penulis perempuan dalam dunia sastra ibarat pemberi warna dalam jagad literasi di Indonesia. Kesan feminim yang kental membawa pembaca pada nuansa yang berbeda.

Sangat perempuan namun tidak mendayu-dayu, itu kesan yang saya dapatkan ketika membaca karya sastra milik para perempun ini.

Keberadaan para penulis perempuan seharusnya bisa lebih diapresiasi. Bukan hanya dinilai dari kontennya yang dianggap menjual karena "berani". Bukan juga karena popularitas dan penilaian fisik penulisnya sendiri.

Para penulis perempuan sejatinya harus dinilai dari karyanya, dari caranya bertutur dan dari nilai yang hendak disampaikan lewat tulisannya, tanpa dipandang sebelah mata.

Semoga di masa depan akan lebih banyak lagi lahir penulis perempuan dari perut Indonesia yang dapat memperkaya warna dan sudut pandang bagi kesusastraan negeri ini.

Saya pun berharap kelak isu perempuan yang diangkat dalam sastra lebih banyak dieksplorasi. Sebenarnya banyak topik perempuan yang bisa digali, karena sejatinya kisah perempuan itu kaya.


Catatan kaki:

Amal, Nukila. 2005. Laluba. Jakata: Penerbit Alvabet

Budiman, Manneke. 2004. Ketika Perempuan Menulis. Dimuat dalam Prosa Nomor 4 Tahun 2004

Pradnyaparamita, Anja.2013. Sastra Wangi, Feminisme da Generasi Baru Sastra Indonesia. Universitas Kristen Petra Surabaya

www.idntimes.com/life/inspiration/5 Penulis Indonesia yang Karyanya Menembus Lintas Generasi. 12 Maret 2018

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

CN
AI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini