Perempuan Menulis untuk Indonesia

Perempuan Menulis untuk Indonesia

© Pixabay

Buku kumpulan surat R.A Kartini inilah yang menjadi saksi bisu perjuangan beliau dalam melawan diskriminasi kaum perempuan kala itu. Sebagai anak keturunan bangsawan dan putri Bupati, R.A Kartini mendapatkan pendidikan serta kemudahan dalam menjalin komunikasi dengan teman-teman yang ada di luar Indonesia.

Merasa tertarik dan ingin perempuan Indonesia bisa semaju perempuan Eropa, beliau banyak bertukar pikiran melalui surat dengan sahabatnya, yaitu Rosa Abendanon.

Sahabat beliau inilah yang menjadikan kumpulan surat Kartini menjadi satu buku dengan judul Door Duiternis tot Licht dan diterbitkan tahun 1911.

Kemudian diterbitkan kembali dengan versi translasi oleh Balai Pustaka pada tahun 1972 dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Inilah awal sejarah perjalanan perjuangan emansipasi perempuan.

Pahlawan perempuan Indonesia

Perjuangan Kartini tidaklah seorang diri. Ada banyak pahlawan perempuan dari berbagai wilayah negeri yang juga memperjuangkan hak-hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan, yaitu:

Raden Dewi Sartika

Lahir di Bandung, tanggal 4 Desember 1884. Sejak usia 18 tahun, beliau turut serta aktif berjuang memberikan pendidikan kepada perempuan-perempuan Jawa Barat. Mulai dari menulis, membaca, memasak, dan menjahit. Tanggal 16 Juli 1904 beliau mendirikan Sakola Perempuan.

Maria Walanda Maramis

Perempuan kelahiran Kema, Sulawesi Utara pada tanggal 1 Desember 1872 ini, begitu pandai bergaul di tengah keterbatasannya sebagai anak yatim piatu sejak kecil.

Hingga akhirnya beliau mengenal banyak tokoh berpengaruh saat itu yang membantu. Setelah dewasa beliau pindah ke Manado, dan mulai menulis opini tentang peran ibu dalam keluarga, pada surat kabar Tjahaja Siang.

Tepat tanggal 8 Juli 1917, beliau beserta suami mendirikan PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunannya). Suatu wadah sosial yang bertugas memberikan pendidikan seputar rumah tangga kepada kaum perempuan. PIKAT ini berkembang sangat pesat hingga memiliki banyak cabang di Jawa.

Roehana Koedoes

Dilahirkan di Koto Gadang, Sumatra Barat pada tanggal 20 Desember 1884. Perempuan dengan banyak talenta ini, cukup banyak melakukan hal dalam mempelopori emansipasi perempuan.

Pejuang perempuan yang menguasai bahasa Arab dan Belanda ini, berhasil mendirikan sekolah perempuan, di samping aktivitasnya sebagai seorang penulis dan wirausahawati.

Pernah menjabat sebagai redaktur surat kabar Perempuan Bergerak dan banyak meraih penghargaan. Beliau dinobatkan sebagai Wartawati Pertama Indonesia pada tahun 1974.

Berikutnya tahun 1987, beliau kembali mendapat penghargaan sebagai Perintis Pers Indonesia. Bahkan, gelar Bintang Jasa Utama juga disematkan Pemerintah pada beliau di tahun 2007.

Beliau-beliaulah, perempuan-perempuan tangguh pendobrak diskriminasi perempuan melalui karya tulis dan gerakan-gerakan kependidikan untuk perempuan. Sepeninggal beliau semua, haruskah usahanya terhenti?

Peran penulis perempuan

Sebagai makhluk multitasking, tidak dapat dimungkiri lagi, bahwa perempuan sangat berpengaruh dalam setiap pergerakan kehidupan. Dimulai dari skala kecil, yaitu kehidupan rumah tangga, kehidupan sosial bermasyarakat, sampai dengan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Perempuan tercipta dengan fitrah kepekaan jiwa dan sifat lemah lembut. Itu membuatnya lebih mudah beradaptasi dan menyentuh setiap aspek kehidupan.

Dari rumah, sosok perempuan sangat berpengaruh besar dalam menjaga keharmonisan rumah tangga dan juga proses tumbuh kembang anak. Mencetak generasi terbaik untuk masa depan dimulai dari rumah.

Perempuan juga banyak berpengaruh dalam kegiatan-kegiatan di lingkungan sekitar. Membawa pengaruh negatif atau dapat bermanfaat memajukan lingkungan dan warganya dengan kegiatan-kegiatan yang positif.

Demikian juga dengan penulis perempuan. Hanya sebagai perempuan saja, sosok dan kiprahnya sangat berpengaruh. Apalagi sebagai perempuan penulis.

Tulisannya mampu mempengaruhi pola pikir pembacanya. Tulisannya mampu menggiring pembacanya untuk berpikir negatif atau positif. Tulisannya juga mampu mempengaruhi sikap yang diambil para pembacanya.

Penulis perempuan senantiasa bertanggung jawab atas apa yang dituliskannya. Dampak negatif dan positifnya harus dipertimbangkan dalam setiap tulisan yang akan dipublikasikan.

Bersatu untuk Indonesia maju

Wahai perempuan penulis cerdas nan bijak. Kini, kemajuan negeri ada di tangan kita. Saatnya kita bersama-sama berjuang, menjaga kedaulatan negeri melalui goresan pena ini. Menjaga kemajemukan dalam damai.

Stop, hoaks! Tak perlu terburu-buru berteriak dalam tulisan, membuat suasana semakin panas, sebelum benar-benar mendapatkan informasi berita yang benar. Saatnya mulai menata dan memperbaiki hubungan baik sesama penduduk negeri.

Meneruskan perjuangan pahlawan perempuan mengangkat dan mengoptimalisasi potensi perempuan negeri. Mengangkat kembali budaya kearifan lokal masing-masing yang ada di daerah kita melalui tulisan, yang beberapa waktu terakhir tenggelam dengan banyaknya isu politik yang beredar.

Kita tunjukkan kembali pada dunia, keindahan dan kedamaian alam yang ada di negeri tercinta ini. Indonesia siap maju berjaya kembali di mata dunia bersama para perempuan penulis negeri.

Salam Literasi.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Perempuan Penulis di Indonesia, Siapa Dia? Sebelummnya

Perempuan Penulis di Indonesia, Siapa Dia?

Tahun 2025, Indonesia Ditargetkan Ekspor 1 Juta Mobil Selanjutnya

Tahun 2025, Indonesia Ditargetkan Ekspor 1 Juta Mobil

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.