Loper Tangguh, Keterbatasan Fisik Tak Padamkan Semangat Merajut Asa

Loper Tangguh, Keterbatasan Fisik Tak Padamkan Semangat Merajut Asa
info gambar utama

Koran dan Oka, dua elemen yang tak terpisahkan. Demi memenuhi kebutuhan hidup, pemuda kurang beruntung ini berjualan koran bermodal dua buah sandal.

_

TERIK matahari mulai sejajar badan. Keringat terkucur meluncur ke koran. Namun, Oka Julneldi tak kunjung jeda menyusuri sudut Jalan Sudirman.

Pemuda 29 tahun asal Duri XIII, Kabupaten Bengkalis, Riau itu masih kuat berjalan menjemput harapan. Demi memenuhi kebutuhan, berjual koran dijalankan seraya berdoa kepada Tuhan.

Tubuhnya yang kurang mapan sejak lahir, tidak menyurutkan semangat. Dengan gigih, dia terus berjalan mencari pelanggan. "Korannya masih laku dikit," kata Oka, di bawah billboard Jalan Sudirman.

Perawakannya yang selalu ceria, membuat ia dikenal apik di tengah masyarakat. Bahkan, sehari tak jualan para pelanggan koran pun kebingungan.

Menjual koran, bagi Oka bukan pekerjaan yang baru. Setamat sekolah di SMA Negeri 3 Mandau, ia sudah berkutat dengan lembaran surat kabar yang ditunggu pelanggan.

Itu sudah dilakoni dia sejak 8 tahun silam. Dengan daerah operasi mulai sektor Sudirman dan Jalan Hangtuah, Duri. Setelah sebelumnya juga pernah menjajal peruntungan di Pulau Bengkalis.

Caption untuk gambar
info gambar

Hampir setiap hari, Oka berjalan sekitar lima jam. Dengan modal dua buah sandal. Ia pun tak lirih dan tetap teguh keyakinan. Sambil menghitung lembaran korannya, dia mengaku, setiap hari hanya mampu menjual 20 sampai 30 eksemplar koran.

"Alhamdulillah, berapapun hasilnya tetap disyukuri," kata Oka.

Sehari-hari, jarak yang ditempuh Oka berjualan rupanya tidak singkat, 4 sampai 5 kilometer berkutat di dalam kota menjadi santapan pagi. Sebagai penjual koran dengan keterbatan fisik, Oka kadang juga menemui kesulitan. Risiko tertabrak kendaraan sangat rentan. "Ya itulah risikonya," ujarnya lirih.

Target pasar penjualan koran Oka beragam. Tua, muda tak ada hambatan. Berjualan, bagi Oka merupakan rutinitas yang menyenangkan, walau hasilnya pas-pasan. Dia selalu mensyukuri karna hanya untuk sebadan. "Hanya untuk sendiri, tapi kadang juga sering kekurangan," pilunya.

Keterbatasan fisik membuat Oka tak bisa bekerja maksimal. Itu yang jadi faktor minimnya pendapatan. Kini, Oka tinggal di rumah kayu milik pengusaha lokal di depan Pesantren Hubbulwathan.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

PS
AI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini