Tiga Negara dalam Satu Kota Surabaya

Tiga Negara dalam Satu Kota Surabaya

House of Sampoerna © Phinemo

Dua tahun lalu, saya dan teman saya iseng mendatangi Perpustakaan Kota Surabaya di Balai Pemuda. Tujuan awalnya sih, baca buku dan ngadem alias berlindung dari matahari Surabaya yang jumlahnya dua saking panasnya. Namun pandangan kami langsung tertuju pada tiga kertas dengan warna berbeda.

“Apa nih? Aku hidup di Surabaya 17 tahun, kok belum pernah dengar ini?”

Peta Arab, Cina, Eropa Quarter | Sumber: pbs

“Kalau orang Surabaya eksplor ini semua, sepertinya mall di Surabaya akan sepi,”

Galaxy Mall, Tunjungan Plaza, Grand City memang jadi pilihan masyarakat Surabaya untuk melepas penat di akhir pekan. Namun berjalan-jalan menikmati kuliner sambil mengetahui sejarah Surabaya ternyata cukup asyik menurut saya. Di wilayah ini, saya seperti mengunjungi tiga wilayah negara sekaligus. Arab, Cina dan Eropa. Hanya dipisahkan oleh Jembatan Merah dan Sungai Kalimas. Bahkan masing-masing memiliki sejarahnya sendiri, lho!

Arab Quarter

Melihat warung nasi kebuli, roti canai, dan kurma berjajar serta mencium wangi parfum? Tandanya sudah memasuki daerah Arab Quarter. Terletak di Jl. Ampel, daerah ini seakan tidak terpengaruh oleh pesatnya perkembangan Surabaya Pusat. Tempat ini masih mempertahankan keaslian bentuk rumah dan gedung-gedung yang ada di sini.

Menurut catatan sejarah, Masjid Ampel sudah berdiri di wilayah ini sejak pertengahan abad ke-14. Dibangun oleh Sunan Ampel, salah satu Walisongo saat melakukan penyebaran agama Islam di Jawa. Dituliskan bahwa Sunan Ampel datang dari kerajaan Champa di selatan Vietnam. Ia menyusuri Sungai Kalimas sebelum akhirnya memutuskan untuk tinggal di wilayah yang kita kenal dengan namanya ini.

Pasar oleh-oleh Ampel | Sumber: White Board Journal

Lokasinya dekat dengan pelabuhan, tepatnya dekat dengan Tanjung Perak, Surabaya Utara. Ini membuat Ampel menjadi wilayah yang ditinggali dari berbagai etnis. L.W.C Van Den Berg menuliskan bahwa etnis Arab yang tinggal di Ampel ini datang dari Hadramaut. Hingga saat ini masyarakat yang menghuni Ampel masih mempertahankan keasliannya.

Selain itu juga ada Pasar Pabean yang menjual banyak boga bahari yang segar. Selain itu juga ada berbagai bumbu rempah khas Arab dan bahan makanan lain yang tidak kalah menarik. Berdiri di Jalan Panggung sejak tahun 1899, membuat pasar ini menjadi pasar tradisional tertua di Asia Tenggara.

Europe Quarter

Ingin merasakan suasana Eropa di abad ke-17? Cukup berjalan beberapa meter dari Ampel melalui Jembatan Merah. Dengan ciri khas bangunan tinggi dan penuh sejarah, wilayah ini dibangun di zaman penjajahan Belanda. Khususnya pada Undang-Undang Wijkenstelsel tahun 1835-1924.

Undang-undang ini dibuat untuk mengatur demografis tempat tinggal warga Surabaya (khususnya di utara) berdasarkan ras dan etnisnya, yang disebabkan karena banyaknya pendatang dari luar negeri.

Penjara Kalisosok Warna-Warni | Sumber: picdeer

Pembagian wilayah ini masih terasa hingga saat ini, namun bukan menjadi area yang terkotakkan, melainkan menjadi wilayah menarik dan hangat di Kota Surabaya. Beberapa situs sejarah di sini yaitu De Javasche Bank, bank yang dibuat Pemerintah Hindia Belanda di tahun 1828. Bank ini kemudian yang kita kenal sebagai Bank Indonesia.

Selain itu juga ada Penjara Kalisosok yang dibangun di era kepemimpinan Herman Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-36 di Indonesia. Berdiri sejak 1 September 1808, penjara ini memiliki sejarah yang heroik berkat dibentuknya “Laskar Pendjara”. Laskar ini terdiri dari para tahanan yang menjebol tembok untuk bergabung dalam Perang 10 November.

China Quarter

Wilayah ini hanya terpisahkan dengan dua wilayah lain oleh Sungai Kalimas. Suasana pecinan dapat mudah dirasakan jika melihat klenteng-klenteng di sepanjang jalan. Salah satunya adalah klenteng Hong Tiek Hian.

Menurut sejarah, klenteng ini dibangun oleh Pasukan Tar-Tar di zaman Khu Bilai Khan saat awal Kerajaan Majapahit berdiri, yang membuat Hong Tiek Hian menjadi klenteng tertua di Surabaya.

Selain itu juga ada Kya-Kya, pasar malam yang tidak kalah dengan Chinatown di Singapura. Terdapat 200 lokasi pedagang kuliner pecinan yang variatif, dan diiringi dengan berbagai atraksi lokal.

Namun karena sudah tidak didatangi oleh banyak pengunjung, Kya-Kya sudah menjadi kawasan yang sepi. Meskipun begitu masih ada bekas ornamen dan arsitektur khas Tiongkok yang tidak berubah.

Shin Hua Barbershop | Sumber: zetizen

Kemudian ada barbershop tertua di Surabaya, yaitu Shin Hua. Dibangun sejak tahun 1911, sang pemilik, Jen Ding Kwok, atau yang biasa disapa Koh Edy Kustanto berusaha mempertahankan otentik tempat dan gaya sejak dulu. Pendatang di sini senang mendengarkan cerita Koh Edy tentang sejarah ayahnya yang membangun tempat ini hingga sekarang.

Semakin saya mengetahui sejarah dan berkembangnya tempat-tempat ini di Surabaya, rasa cinta saya pun semakin besar untuk kota ini. Apalagi, pilihan kulinernya sangat variatif dan hangat yang membuat saya ingin kembali mengunjungi.


Catatan kaki: White Board Journal | Indonesia Expat | Tahannigan | medcom.id

Pilih BanggaBangga20%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang40%
Pilih Tak PeduliTak Peduli20%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau20%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

1001 Cerita Dari Tanah Lot Pulau Jawa Sebelummnya

1001 Cerita Dari Tanah Lot Pulau Jawa

Benteng  Ulantha, Tempat Favorit Penikmat Senja di Gorontalo Selanjutnya

Benteng Ulantha, Tempat Favorit Penikmat Senja di Gorontalo

Nabila Ghaisani
@bellaghaisani

Nabila Ghaisani

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.