Kontribusi Teknik Biomedis untuk Indonesia

Kontribusi Teknik Biomedis untuk Indonesia

Tangan Prostetik © Wichita State University

“Kuliah jurusan apa?”

“Teknik Biomedis,”

“... Hah?”

Secuil percakapan dengan teman saya ini membuat saya cukup malu. Waktu itu saya hanya tahu Teknik Mesin, Teknik Industri, dan lain-lain. Itulah yang menginspirasi saya untuk mengetahui lebih lanjut tentang bidang ilmu ini.

Pernah membayangkan ketika ilmu kedokteran, ilmu teknik (engineering) dan pengetahuan sosial bersatu? Ya, lahirlah teknik biomedis.

Teknik biomedis atau biomedical engineering merupakan ilmu yang bersifat multidisipliner (gabungan dari berbagai disiplin ilmu). Ilmu yang mengaplikasikan berbagai metode sains dan teknologi untuk memecahkan masalah di bidang kedokteran dan biologi. Selain itu juga harus menguasai bidang sosial seperti etika dan hukum.

Sejarah teknik biomedis

Abdul Qasim Az-Zahrawi menemukan alat-alat bedah di sekitar abad ke-10 SM. Mulai dari pisau bedah, benang jahit pascabedah, alat suntik, dan lain sebagainya. Salah satu contoh prosedur temuannya adalah mengikat organ tubuh untuk mencegah pendarahan. Penemuan Az-Zahrawi menjadi fondasi teknik biomedis hingga saat ini.

Az-Zahrawi dan Alat Bedah Temuannya | Sumber: Suratkabar.id

Kemudian disusul oleh penemuan sinar-X (X-rays) oleh Wilhelm Conrad Röntgen. Fisikawan Jerman ini menemukan sinar-X yang dapat menembus benda padat. Hal ini membuat Röntgen meneliti lebih lanjut dan mencoba memotret tangan istrinya, Anna Bertha. Hingga kini, dunia kedokteran menggunakan sinar Röntgen untuk mendiagnosis keretakan tulang tanpa harus membedah pasien.

Perkembangan teknik biomedis di Indonesia

Pengembangan ilmu teknik biomedis dirintis oleh jurusan Teknik Elektro di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada awal dekade 1970-an. Penelitian diarahkan menjadi dua bidang aplikasi, yaitu elektronika industri dan elektronika kedokteran. Kemudian pada tahun 1998 diputuskan untuk membuat program S2 Teknik Biomedika dalam Program Magister Teknik Elektro.

Indonesia memiliki jumlah rumah sakit di Asia Tenggara dengan jumlah hingga 2.435 pada tahun 2014 dan terus bertambah, sehingga kebutuhan alat kesehatan Indonesia juga paling besar. WHO mencatat bahwa sebagian besar alat yang ada berasal dari hibah dan tidak terdokumentasi secara sentral.

Inilah yang membuat beberapa universitas besar seperti ITB, UI, ITS dan Unair membuka jurusan Teknik Biomedis untuk menciptakan lulusan yang dapat memperbaiki keadaan ini.

Ilmuwan teknik biomedis Indonesia

Namanya Prof. Dr. Ing Eko Supriyanto, profesor yang saat ini menjadi Ketua Jurusan Sains Klinikal di Universitas Teknologi Malaysia berhasil meraih 14 hak paten dalam bidang rekayasa biomedis yang ia tekuni. Selain itu ia telah mendapatkan 35 penghargaan internasional sebagai inovator terbaik dari berbagai negara seperti Malaysia, Thailand dan Korea.

Prof. Dr. Ing Eko Supriyanto | Sumber: Mindec

Beberapa penemuannya adalah “Smart Doll” yaitu boneka pintar yang dapat menguji kemampuan anak-anak balita, terutama anak-anak berkebutuhan khusus. Bernama Elissa, ia dapat menguji kemampuan kognitif, psikomotorik, sosio emosional hingga bahasa. Sensor-sensor dalam Elissa ini dapat menganalisis dan memberi kurikulum untuk memandu pelatihan anak tiap minggu.

Selain itu Eko juga membuat Telemedicine Smart Medical Wireless Interface, alat yang bisa menganalisis kondisi pasien dari jarak jauh. Cukup menghubungkannya dengan koneksi internet. Profesor lulusan ITB ini berharap dapat membuat alat dengan prinsip lebih murah, lebih cepat, dan lebih aman, sehingga dapat dijangkau masyarakat luas.

Tidak ada kata terlambat untuk mulai mempelajari sesuatu. Begitu pula Indonesia, yang kini berkembang ke arah yang lebih baik dalam bidang ilmu teknik biomedis.

Catatan kaki: Wisnu Jatmiko dkk. /Teknik Biomedis Teori dan Aplikasi | STEI ITB | Biologi Media Centre | Kompas Sains

Pilih BanggaBangga57%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi29%
Pilih TerpukauTerpukau14%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Beragam "Kesaktian" Kue Apem Sebelummnya

Beragam "Kesaktian" Kue Apem

Apa Saja Manfaat Runway 3 di Bandara Soetta? Selanjutnya

Apa Saja Manfaat Runway 3 di Bandara Soetta?

Nabila Ghaisani
@bellaghaisani

Nabila Ghaisani

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.