OYTW 2019: Harmoni dalam Keberagaman

OYTW 2019: Harmoni dalam Keberagaman

Best 20 Oustanding Youth for The World © Audrey Gischa

Sejak tanggal 18 Juni 2019 sampai 20 Juni 2019, 20 mahasiswa dan mahasiswi terpilih dari seluruh Indonesia menjalankan karantina untuk program OYTW, yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri bersama IVLP.

Serangkaian kegiatan telah dilakasanakan untuk melengkapi mereka menjadi diplomat muda Indonesia.

Outstanding Youth for the World merupakan program yang dinisiasikan oleh Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia sejak 2011 untuk mencetak diplomat muda Indonesia.

Program ini juga bekerja sama dengan program International Visitor Leadership Program, yang diselenggarakan oleh Department of State (DoS). Program ini sekaligus ditujukan dalam rangka merayakan 70 tahun hubungan diplomasi Indonesia dan Amerika Serikat.

Kegiatan ini bertujuan untuk menguatkan hubungan antara pemimpin muda Indonesia dan Amerika Serikat, menunjukan keanekaragaman antarbudaya, melihat dinamika politik, dan masih banyak lagi.

Acara OYTW-IVLP 2019 | Foto: kemlu.go.id

Mahasiswa dan mahasiswi dari seluruh Indonesia turut berpartisipasi dalam program ini. Setelah melalui beberapa tahap seleksi, 20 mahasiswa dari seluruh Indonesia terpilih untuk menjadi Best 20 OYTW.

Mereka merupakan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, yaitu dari jurusan hukum, ilmu hubungan internasional, politeknik imigrasi, ekonomi pembangunan, teknik, dan kedokteran. Tidak lupa juga mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia mulai dari Sabang hingga Merauke.

Para peserta terpilih berkesempatan untuk melaksanakan karantina di Hotel Alia, Cikini, Jakarta Pusat, dan melakukan sebagian besar kegiatannya di Gedung Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

Pada hari pertama kegiatan ini (18/6), peserta dikumpulkan di Gedung Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia untuk saling mengenal lalu diberi pemaparan singkat mengenai diplomasi publik.

Selanjutnya, peserta bersama-sama berangkat menuju @america di Mall Pacific Place untuk mendengarkan penjelasan dari Wakil Menteri Amerika Serikat dan beberapa narasumber lainnya mengenai women empowerment.

Dari hasil pemaparan dan diskusi tersebut dapat disimpulkan bahwa perempuan terbukti pantas untuk mendapat bagian dalam kepemimpinan. Tidak hanya pantas, tetapi sudah seharusnya perempuan berani bermimpi dan mengambil peluang untuk menjadi pemimpin di berbagai sektor.

20 peserta OYTW bersama Wakil Menteri dan Wakil Asisten Sekretaris Amerika Serikat

Selanjutnya pada hari kedua, peserta dibekali beberapa sudut pandang dari Indonesia maupun Amerika Serikat, tentang hubungan diplomasi antara kedua negara.

Hasil perbincangan ini menghasilkan sebuah kesimpulan tentang persamaan antara kedua negara yang sangat banyak, dimulai dari negara yang besar, keanggotaan pada G-20, sampai masyarakatnya yang sangat beragam.

Inilah yang menjadi salah satu alasan terbukanya pintu hubungan antara Indonesia dan Amerika Serikat.

Pada hari terakhir, para peserta menampilkan sebuah persembahan dari berbagai daerah di Indonesia. Melalui karya ini, peserta mempelajari berbagai budaya di Indonesia yang sangat beragam. Peserta merasakan nilai toleransi yang sangat kental terjadi pada saat mereka menampilkan karya yang telah mereka latih selama tiga hari.

Rangkaian acara ini akhirnya ditutup dengan kunjungan ke Gedung Pancasila, gedung bersejarah yang merupakan tempat perumusan naskah Pancasila yang dilakukan oleh para pemimpin negara, dan akhirnya ditandatangani oleh Ir. Soekarno.

Gedung yang hanya digunakan oleh Menteri Luar Negeri dan Wakil Menteri Luar Negeri ini dikhususkan untuk dikunjungi oleh para peserta untuk lebih menghargai dan melihat sejarah Pancasila.

Terdapat banyak lukisan dan bendera pada dinding setiap ruangan gedung ini, yang menandakan bahwa Indonesia menghargai betul setiap pejuang bangsa yang dituangkan dalam lukisan.

Tidak lupa juga, Indonesia membangun hubungan baik dengan berbagai negara di dunia yang dilambangkan oleh bendera-bendera yang terpasang.

20 peserta OYTW di Gedung Pancasila

Pembekalan dalam waktu tiga hari ini sangat membekas bagi setiap peserta. Perbedaan latar belakang antarpeserta membuahkan perspektif yang baru untuk lebih menghargai keberagaman yang ada di negeri ini.

Satu hal yang pasti, keberagaman dapat menjadi sebuah harmoni yang indah ketika rasa toleransi ada diantaranya. Kita Indonesia, Kita Pancasila.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Pantai Goa Cina, Kenapa Namanya Begitu? Sebelummnya

Pantai Goa Cina, Kenapa Namanya Begitu?

Tahun 2025, Indonesia Ditargetkan Ekspor 1 Juta Mobil Selanjutnya

Tahun 2025, Indonesia Ditargetkan Ekspor 1 Juta Mobil

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.