Kerajinan Purun dari Desa Lubuk Kertang

Kerajinan Purun dari Desa Lubuk Kertang
info gambar utama
  • Para perempuan Desa Lubung Kertang, membuat beragam kerajinan tangan dari daun purun.
  • Dulu, tumbuhan purun ini sempat sulit kala hutan mangrove hilang menjadi kebun sawit. Berkat perjuangan warga melawan perkebunan sawit, mangrove pun kembali tumbuh. Kini, purun yang jadi bahan baku kerajinan mudah diperoleh.
  • Berbagai kerajinan tangan daun purun seperti tikar, tas, dompet sampai sandal ini sudah terjual ke berbagai penjuru dunia, dari Asia, Eropa sampai Amerika.
  • Penjualan produk kerajinan mereka masih didominasi turis yang datang ke desa. Mereka masih perlu bantuan guna meningkatkan pemasaran produk kerajinan ini.

Pagi itu, udara dingin menyelimuti Desa Lubuk Kertang, Kecamatan Berandan Barat, Langkat, Sumatera Utara, awal Mei 2019. Kokok ayam dan angsa putih seakan saling menyapa, menyambut kedatangan saya di desa yang dikenal berhasil mengelola hutan mangrove, yang sempat hancur karena jadi kebun sawit.

Di ujung desa, tampak sejumlah perempuan tengah sibuk menjemur daun-daun dengan berbagai pewarna. Dari kejauhan, seorang pria paruh baya, menaiki sepeda sambil membawa daun purun. Dia mengambil purun ini di sekitar hutan mangrove Lubuk Kertang.

Ipah, perempuan 75 tahun ini tengah menganyam daun purun jadi berbagai kerajinan tangan, seperti tikar anyaman.

Rumah Ipah terbagi dua, sisi kiri tempat pengolahan purun jadi berbagai produk. Sisi kanan, ada laci dan lemari kaca. Di tempat inilah produk olahan daun purun siap dijual.

Nur Zannah Hasibuan, Ketua Kelompok Serasi, sebuah perkumpulan perempuan perajin tangan di Desa Lubuk Kertang yang membuat daun purun jadi berbagai produk. Saat saya jumpai, dia sedang membuat kotak tisu dan sendal daun purun.

Dia bercerita, daun purun jadi kerajinan ini sejak empat tahun lalu. Bermodal seadanya, mereka meneruskan bikin kerajinan purun yang memang ada sejak lama.

Bahan baku, mereka beli dari nelayan yang menyempatkan mencari purun di sekitar hutan mangrove Lubuk Kertang. Bahan baku selalu tersedia.

 Dari tikar hingga kotak file dokumen hingga topi dan sendal serta tas yang diolah dari purun oleh para perempuan dari Desa Lubuk Kertang, Langkat Sumut | Foto: Ayat S Karokaro/ Mongabay Indonesia
info gambar

Beberapa tahun lalu, purun sempat sulit karena hutan mangrove dan rawa di desa mereka hancur berganti perkebunan sawit. Setelah ada penolakan dan perlawanan warga di sejumlah kecamatan di Berandan Barat, kebun sawit berhasil dihancurkan. Mereka pun tanam mangrove.

“Kami mengerjakan ini swadaya. Lalu, ada PT. Pertamina memberikan bantuan modal dari dana CSR mereka. Kamipun mengembangkan kerajinan tangan dari daun purun,” kata Nur.

Sebelum diolah jadi berbagai produk, daun purun dimasak lalu tiriskan, kemudian jemur hingga kering. Setelah itu, dianyam jadi tikar.

Ketika proses penganyaman berlangsung, ibu-ibu kelompok Serasi ini berdiskusi produk apa yang akan mereka buat. Mereka cek barang yang mulai menipis. Sekitar 10 perempuan yang tergabung dalam Serasi inipun mulai menganyam sesuai keperluan.

Di rumah yang mereka sebut toko produk kerajinan purun ini, perempuan Desa Lubuk Kertang, mengolah daun ini jadi beragam produk, seperti, file kabinet, topi pantai, tas berbagai jenis, sendal, tempat laptop, dompet, bahkan ada tali pinggang. Kerajinan berbahan purun ini cukup tahan lama.

Kerajinan tangan dari daun purun ini sempat sampai ke telinga Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya. Dia langsung datang ke tempat ini memesan tas, topi dan dompet dengan corak dan warna menarik.

Meski dari sebuah desa terpencil di pinggir bibir pantai perairan Selat Malaka, produk mereka ini sudah pernah terbang ke sejumlah negara di Asia Tenggara bahkan Eropa dan Amerika. Bahkan, ada turis dari Brunai Darussalam, Inggris, Jerman, dan Tiongkok, belum lama ini datang ke desa mereka untuk melihat proses pembuatan purun jadi berbagai bahan olahan.

“Jadi, sambil melihat ekosistem mangrove, turis yang singgah ke tempat kami juga melihat dan membeli produk purun ini.”

Dia bilang, dari Perancis pun pernah datang dan memesan tas dan sendal anyaman purun. “Duit mereka kasih dan pesanan siap dalam waktu dua hari tergantung jumlah. Kalau buat tikar buruh waktu satu sampai dua jam selesai. Kami kirim pesanan ini ke Perancis. Suka mereka waktu melihat cara kami membuatnya,” kata Nur.

Perlu dukungan perluas pasar

Harga relatif murah dengan produk berkualitas tak serta merta terjual di pasaran. Kelompok ini biasa mendapatkan bantuan promosi melalui media sosial dan bantuan sejumlah lembaga non pemerintah. Di pemerintah kabupaten dan kota mapun provinsi, produk ini baru terpajang saat pameran saja.

Menurut Nur, mereka sempat menawarkan kerajinan tangan dari purun ini ke hotel berbintang ada di Kota Medan. Sayangnya, kalah bersaing dengan produk lain, belum lagi permintaan hotel menyulitkan mereka.

Harga jual kerajinan tangan dari Desa Lubuk Kertang ini Rp20.000, paling mahal Rp100.000. Kalau ada turis datang ke desa mereka, produk banyak terjual. Kalau tidak, kelompok perajin purun menjual sendiri di pasar lokal.

‘Kami butuh bapak angkat dan bantuan promosi untuk mempertahankan peninggalan leluhur ini.”

Zul Insan, Kepala Desa Lubuk Kertang, mengatakan, mereka tengah menggodok konsep dana desa yang bisa berguna bagi peningkatan ekonomi masyarakat Desa Lubuk kertang.

Berdasarkan UU Desa Nomor 6/2014 tentang Desa, sesuai anggaran dana desa berkontribusi untuk kelompok masyarakat. Jadi, katanya, bagaimana dana desa bisa masuk ke kelompok tani untuk meningkatkan pemberdayaan manusia, bangunan infrastruktur dan tepat sasaran. Konsep dana desa ini, katanya, hanya pemula, lanjut dengan pembuatan peraturan desa.

“Kesinergian antara kelompok masyarakat bisa membangun dan meningkatkan taraf ekonomi masyarakat pesisir Lubuk Kertang. Kebersamaan dan solidaritas masyarakat membuat kita masuk dalam kategori kampung iklim dari Dinas Lingkungan Hidup Sumatera Utara,” kata Zul.

Fokus desa ini, katanya, meningkatkan taraf ekonomi masyarakat melalui pengelolaan hutan desa.

Saat ini, pengangguran di Lubuk Kertang sekitar 400-500 orang usia produktif. Kalau peraturan soal dana desa selesai, dia yakin, mampu mempekerjakan ratusan orang di Lubuk Kertang.

“Selain sektor ekonomi pesisir dan laut terus membaik, hutan desa juga mampu mendukung peningkatan ekonomi. Sektor ekowisata mampu meningkatkan taraf ekonomi dan menekan angka pengangguran. Semua memanfaatkan kawasan hutan tanpa harus merusak. “

Purun dianyam lalu jadi berbagai kerajinan tangan bernilai ekonomi di Desa Lubuk Kertang, Langkat Sumut | Foto: Ayat S Karokaro/ Mongabay Indonesia
info gambar


Catatan kaki: Ditulis oleh Ayat S Karokaro dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini