Ternyata Indonesia Juga Memiliki Sistem Penanggalan (Part 2)

Ternyata Indonesia Juga Memiliki Sistem Penanggalan (Part 2)

USA Today

Sistem penanggalan ternyata tidak hanya dimiliki oleh bangsa cina atau negara lain, Indonesia - khususnya Jawa - juga memiliki sistem penanggalan yang dikaitkan dengan ativitas pertanian.

Sistem kalender tersebut digunakan untuk kepentingan bercocok tanam atau juga menangkap ikan. Kalender Pranata Mangsa ini memiliki sistem dan dibuat berdasarkan pada peredaran Matahari.

Siklus yang dimiliki oleh kalender ini yaitu setahun dengan periode 365 atau 366 hari. Penanggalan ini memiliki pedoman untuk membaca gejala alam yang akan bermanfaat untuk kegiatan pertanian, persiapan menghadapi bencana (seperti : kekeringan, wabah penyakit, serangan pengganggu tanaman, atau banjir).

Baca bagian pertama : Ternyata Indonesia Juga Memiliki Sistem Penanggalan

Sistem penanggalan yang dibagi empat musim juga dikaitkan dengan perilaku hewan, perkembangan tumbuhan, situasi alam sekitar, dan sektor pertanian.
Ciri-ciri tersebut dibagi menjadi 4 musim utama dan 2 musim "kecil", seperti :
- Musim terang ("langit cerah", 82 hari)
- Semplah ("penderitaan", 99 hari) dengan musim kecil paceklik pada 23 hari pertama, udan ("musim hujan", 86 hari)
- Pangarep-arep ("penuh harap", 98/99 hari) dengan mangsa kecil panèn pada 23 hari terakhir.

Sumber : Brilio

Lebih rinci lagi, setahun pada sistem penanggalan dibagi menjadi 12 musim

Dalam pembagian yang lebih rinci, setahun dibagi menjadi 12 musim (mangsa) dengan rentang waktunya yang lebih singkat namun dengan jangka waktu berbeda-beda.

Berikut adalah 12 musim dengan rentang waktunya beserta ciri-cirinya :
1. Kasa (Kartika) 22 Jun-1 Agt : Sesotyå murcå ing embanan ("Intan jatuh dari wadahnya" > daun-daun berjatuhan) Sotyå sinåråwèdi. Daun-daun berguguran, kayu mengering; belalang masuk ke dalam tanah

2. Karo (Pusa) 2 Ags – 24 Ags : Bantålå rengkå ("bumi merekah") Rontoging tarulåtå. Tanah mengering dan retak-retak, pohon randu dan mangga mulai berbunga

3. Katelu (manggasri) 25 Ags – 17 Sept : Sutå manut ing båpå ("anak menurut bapaknya") Wiji tuwuh sinimpèn. Tanaman merambat menaiki lanjaran, rebung bambu bermunculan.

4. Kapat (Sitra) 18 Sept - 12 Okt : Waspå kumembeng jroning kalbu ("Air mata menggenang dalam kalbu" > mata air mulai menggenang) Lunglungan tumelung. Mata air mulai terisi; kapuk randu mulai berbuah, burung-burung kecil mulai bersarang dan bertelur.

5. Kalima (Manggala) 13 Okt - 8 Nov : Pancuran mas sumawur ing jagad ("Pancuran emas menyirami dunia") Pancuran muncar. Mulai ada hujan besar, pohon asam jawa mulai menumbuhkan daun muda, ulat mulai bermunculan, laron keluar dari liang, lempuyang dan temu kunci mulai bertunas.

6. Kanem (Naya) 9 Nov - 21 Des : Råså mulyå kasuciyan Genthong pecah. Buah-buahan (durian, rambutan, manggis, dan lain-lainnya) mulai bermunculan, belibis mulai kelihatan di tempat-tempat berair.

7. Kapitu (Palguna) 23 Des - 3 Feb : Wiså kéntir ing marutå ("Racun hanyut bersama angin" > banyak penyakit) Udan råså mulyå. Banyak hujan, banyak sungai yang banjir.

8. Kawolu (Wisaka) 4 Feb - 28/29 Feb : Anjrah jroning kayun ("Keluarnya isi hati" > musim kucing kawin) Sari råså mulyå. Musim kucing kawin; padi menghijau; uret mulai bermunculan di permukaan.

9. Kasanga (Jita) 1 Mar - 25 Mar : Wedharing wacånå mulyå ("Munculnya suara-suara mulia" > Beberapa hewan mulai bersuara untuk memikat lawan jenis). Padi berbunga; jangkrik mulai muncul; tonggeret dan gangsir mulai bersuara, banjir sisa masih mungkin muncul, bunga glagah berguguran.

10. Kasepuluh (Srawana) 26 Mar - 18 Apr : Gedhong mineb jroning kalbu ("Gedung terperangkap dalam kalbu" > Masanya banyak hewan bunting) Wijiling locånå. Padi mulai menguning, banyak hewan bunting, burung-burung kecil mulai menetas telurnya.

11. Desta (Padrawana) 19 Apr - 11 Mei : Sesotyå sinåråwèdi ("Intan yang bersinar mulia") Sekar lesahing jagad. Burung-burung memberi makan anaknya, buah kapuk randu merekah.

12. Sada (Asuji) 12 Mei - 21 Juni : Tirtå sah saking sasånå ("Air meninggalkan rumahnya" > jarang berkeringat karena udara dingin dan kering) Suryå numpang hargå. Suhu menurun dan terasa dingin (bediding).

--

Sumber : Wikipedia, Brilio

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Perempuan Penulis dan Upaya untuk Mempopulerkan Keunikan Kuliner Indonesia Sebelummnya

Perempuan Penulis dan Upaya untuk Mempopulerkan Keunikan Kuliner Indonesia

Kain Gringsing, Kain Termahal Di Indonesia Dan Serat Akan Makna Selanjutnya

Kain Gringsing, Kain Termahal Di Indonesia Dan Serat Akan Makna

Akhina Z
@fachrezy

Akhina Z

Writer

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.