Susu di Indonesia: Dari Minuman Terlarang hingga Penyempurna Gizi

Susu di Indonesia: Dari Minuman Terlarang hingga Penyempurna Gizi

Iklan susu zaman dulu © Picbon

“... Siang makan nasi, kalau malam minum susu,”

Sepertinya potongan lirik lagu ini sudah jadi hal yang saklek dilakukan oleh masyarakat Indonesia, terutama untuk anak-anak. Saya sendiri sejak SD hingga sekarang masih minum susu hangat setiap pagi (bukan malam, sih).

Kalau ditanya kenapa, mungkin karena sudah kebiasaan saja, bukan karena suka banget. Hal ini yang menyebabkan saya termasuk salah satu orang yang terpengaruh oleh potongan lagu Pok Ame-Ame ini.

Namun sebenarnya susu di Indonesia punya perjalanan sejarah yang menarik, lho!

Sapi dan domba telah menjadi hewan ternak sejak tahun 8.000 SM di negara-negara Timur Tengah untuk diambil daging, bulu, dan susunya. Bahkan di zaman Mesir Kuno, susu dan produk olahan susu lainnya hanya dibuat untuk kerajaan atau bangsawan saja. Kemudian mulai memasuki Eropa di abad 5.000 SM dan menyebar ke berbagai negara di daerah Barat.

Kemudian sapi-sapi perah dibawa oleh bangsa Eropa pada abad ke-15 yang kemudian dipelihara dan diternakkan. Namun susu baru dapat didistribusikan ke pasar yang luas sejak ditemukannya proses pasteurisasi oleh Louis Pasteur, seorang mikrobiologis asal Prancis di tahun 1862. Sejak saat itu New York, AS, menciptakan susu botol pertama di tahun 1884.

Louis Pasteur dan proses pasteurisasi | Sumber: Today I Found Out

Sejarah susu di Indonesia

Disebabkan oleh kawasan negeri agraris dan pesisir, Indonesia masih belum memiliki edukasi tentang sumber makanan hewani yang berasal dari hewan ternak. Hingga pada abad ke-18, Thomas Raffles menulis dalam buku penelitiannya tentang Jawa, The History of Java (1817), bahwa masyarakat Jawa tidak ada yang memanfaatkan susu sapi.

Justru masyarakat Jawa memanfaatkan tenaga hewan ternak saja untuk membajak lahan sawah. Namun tidak pernah memanfaatkan untuk asupan konsumsi sehari-hari. Saat itu, orang-orang lebih memilih mengonsumsi hasil nabati, salah satu contohnya adalah tempe.

Menurut penjelasan Fadly Rahman, dosen prodi Sejarah Unpad, fakta yang ditemukan Raffles adalah rendahnya tingkat konsumsi susu oleh masyarakat Indonesia, khususnya Jawa. Hal ini disebabkan karena merasa jijik.

Mereka merasa bahwa meminum susu sama saja seperti minum darah. Perasaan jijik ini juga membuat susu dan beberapa produk olahan susu seperti mentega dan keju pun juga dilarang dikonsumsi di Indonesia saat itu.

Iklan susu zaman kolonial Belanda | Sumber: Waya Komala

Pada masa kolonial, bangsa Eropa mengonsumsi susu sehari-harinya, yang membuat masyarakat Indonesia memandang bahwa susu adalah minuman untuk kaum elite.

Kemudian pada masa awal kemerdekaan terjadi banyak kasus malnutrisi dan kelaparan. Hal ini yang membuat ahli gizi Indonesia, Poorwo Soedarmo menyusun konsumsi sehat masyarakat Indonesia berdasarkan hasil kongres Food and Agricultural Organization (FAQ) di tahun 1948. Asupan wajib ini meliputi kacang hijau, kedelai, dan susu.

Pasti teman-teman sudah familiar dengan kalimat “Empat Sehat, Lima Sempurna”. Kalimat ini yang ditanamkan Poorwo Soedarmo dan Lembaga Makanan Rakyat (LMR) saat itu pada masyarakat Indonesia agar mengkonsumsi susu setiap hari.

Kampanye Empat Sehat Lima Sempurna | Sumber: Hero Supermarket

Susu di Indonesia saat ini

Kampanye "Empat Sehat, Lima Sempurna" termasuk sukses mengubah kebiasaan masyarakat Indonesia untuk membiasakan minum susu. Dr. Marudut, B.SC. MPS, ahli gizi, menjelaskan bahwa susu berkontribusi dalam percepatan perbaikan gizi di Indonesia.

Ini disebabkan oleh banyaknya protein dan vitamin D yang cukup untuk menutrisi tubuh. Berdasarkan Statistik Peternakan 2016, kebutuhan susu di Indonesia kini mencapai 4,5 juta ton dan terus bertambah setiap tahunnya.

Hingga kini, susu masih menjadi minuman yang semi-wajib untuk dikonsumsi masyarakat Indonesia dari anak-anak hingga lansia. Hal ini disebabkan oleh banyaknya kalsium dan kandungan gizi dalam susu, baik hewani maupun nabati.

Catatan kaki: dream.co.id | uzone.id | Dairy Goodness | Tirto.id

Pilih BanggaBangga29%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang14%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi14%
Pilih TerpukauTerpukau43%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Kembali Pulang, Kenali Kura-Kura Endemik dari Rote Sebelummnya

Kembali Pulang, Kenali Kura-Kura Endemik dari Rote

Nusantara Innovation Forum: Diinisiasi oleh Diaspora Muda Indonesia, untuk Para Pegiat Riset dan Inovasi Selanjutnya

Nusantara Innovation Forum: Diinisiasi oleh Diaspora Muda Indonesia, untuk Para Pegiat Riset dan Inovasi

Nabila Ghaisani
@bellaghaisani

Nabila Ghaisani

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.