Pemuda Bandung Jadi Pembicara di Forum Internasional

Pemuda Bandung Jadi Pembicara di Forum Internasional

© Dok. Penulis

Fenomena berita palsu (fake news) kini sedang mengancam eksistensi dan kontinuitas sistem demokrasi di banyak negara, mengingat penyebaran konsep post-truth mulai mengganggu tatanan politik dan sosial yang telah ada.

Salah satu akibatnya adalah instabilitas sosial dan politik terkait dengan pemilihan umum yang terjadi di banyak negara termasuk di Amerika Serikat sendiri sebagai "the godfather of democracy".

Terlebih jika menilik bahwa diseminasi berita palsu ini terjadi melalui kecanggihan teknologi informasi dan perkembangan pesat media sosial.

Hal ini semakin menjadi perhatian banyak pihak terutama kalangan pendidikan dan generasi muda yang khawatir akan masa depan negaranya yang terancam akibat fenomena berita palsu ini.

Indonesia, sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, pun tak terlepas dari jeratan fenomena berita palsu yang dimulai saat berlangsungnya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta, sehingga memunculkan kontroversi akan kembalinya isu diskriminasi berdasarkan suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA).

Hal ini kemudian berlanjut hingga suasana kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) yang berlangsung sejak tahun 2018 hingga April lalu saat Pemilu berlangsung.

Isu mengenai politik, komunisme, sensitivitas agama, rasialisme, keresahan sosial, bahkan fanatisme ekonomi berbasiskan agama terus digelorakan di dunia maya dan media sosial.

Inilah yang kemudian berujung pada menurunnya kualitas dan memburuknya kesehatan demokrasi Indonesia di mata dunia internasional.

Stevie Leonard Harison (30), seorang pemuda asal Bandung yang diundang secara langsung oleh panitia penyelenggara yakni World Assembly of Youth (WAY) yang bermarkas di Melaka, Malaysia untuk menjadi salah satu pembicara dalam gelaran Melaka International Youth Dialogue (MIYD) ke-19 yang berlangsung pada 23-27 Juni lalu.

MIYD digelar setiap tahun dengan topik yang berbeda dan pada tahun ini mengusung tema "Youth Deconstructing Fake News" dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan para pemuda/i dari banyak negara di seluruh dunia akan berita palsu (fake news) termasuk hoaks, sehingga dapat menghindari dampak-dampak negatif dan destruktif.

VIPs, Speakers, and Delegates of MIYD 2019

Gelaran MIYD ke-19 ini dibuka langsung oleh Presiden WAY, Datuk Seri Utama Ir. Idris Haron dan dihadiri oleh Presiden Malaysian Youth Council, Jufitri Joha serta berbagai perwakilan kedutaan besar negara sahabat.

Acara ini pun menghadirkan para pembicara dari banyak negara seperti Amerika Serikat, Nigeria, Pakistan, Uganda, Korea Selatan, Nepal, serta Indonesia.

Selain beberapa orang dari negara tuan rumah, Malaysia, Stevie adalah satu-satunya pembicara yang berasal dari Asia Tenggara mewakili Indonesia pada forum kepemudaan internasional tahunan tersebut.

Adapun delegasi dari Indonesia diwakili oleh sejumlah pemuda/i dari OIC Youth-KNPI yang dipimpin oleh presidennya yakni Syafii Efendi.

Stevie yang merupakan pendiri komunitas kepemudaan Inspirator Muda Nusantara, menekankan bahwa fenomena penyebaran berita palsu terjadi akibat praktek kebebasan informasi yang tidak bertanggungjawab dan belum adanya sistem peringatan dini (early-warning system) pada platform media sosial dalam rangka menangkal fake news.

Ia juga menyoroti mengenai penyalahgunaan internet dan media sosial oleh para pemuda yang terbukti menjadi penyebar berita palsu terutama dalam 3 isu besar yang rawan dieksploitasi menjadi berita palsu yaitu politik, keagamaan, dan bencana alam.

Selain memaparkan data dan fakta mengenai fenomena berita palsu di Indonesia, Stevie juga menawarkan solusi yakni meningkatkan sosialisasi kesadaran hukum dalam menyebarkan informasi (POLRI dengan institusi pendidikan serta LSM); membangun dan memantapkan budaya literasi media, pengecekan fakta, serta etika berinternet (pemerintah (pusat dan daerah) bersama seluruh media pers (cetak maupun online), pelaku industri dan penggiat dunia digital, serta berbagai organisasi dan komunitas kepemudaan).

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Mempelajari Susu Sambil Mengunjungi Replika Negara Belanda Sebelummnya

Mempelajari Susu Sambil Mengunjungi Replika Negara Belanda

Tahun 2025, Indonesia Ditargetkan Ekspor 1 Juta Mobil Selanjutnya

Tahun 2025, Indonesia Ditargetkan Ekspor 1 Juta Mobil

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.