Udik-udikan: Ketika Uang Receh Punya Makna Mendalam

Udik-udikan: Ketika Uang Receh Punya Makna Mendalam

Tradisi udik-udikan © Aloysius Jarot Nugroho

Saya teringat suatu kenangan ketika masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK). Saat itu paman baru saja membeli sepeda motor baru. Ketika motor itu sampai dengan mobil yang mengantarnya, nenek bergegas keluar rumah dengan membawa baskom kecil berisi penuh uang koin atau uang recehan yang direndam air.

Tak lama anak-anak berkumpul di sekitar rumah nenek setelah seorang anak berteriak “Rek, ada yang beli sepeda motor,” dalam bahasa Jawa.

Setelah banyak anak terkumpul dan sepeda motor akan diturunkan dari mobil pickup, nenek bergegas menyebarkan uang dengan melempar-lemparkan dan anak-anak yang berkumpul pun berebut mengambil uang tersebut. Terdengar sorak sorai yang menggembirakan, “Habis ini beli es,” ucap salah satu anak saat itu.

Saya yang melihat itu hanya berdiam diri dan ikut tersenyum saja karena tidak tahu kenapa nenek harus menyiapkan uang sebanyak itu dan diberikan ke anak-anak?

Lagi, ketika selesai melakukan ziarah ke makam leluhur di desa nenek, saat itu tradisi Jumat Pon. Warga akan ziarah ke makam leluhur desa dan tersedia kios-kios pedagang. Berdagang jepitan, makanan, hingga rokok yang dilinting sendiri.

Selesai ziarah dan keluar dari makam, banyak sekali anak-anak yang berkerumun di luar. Saat itu juga kakek mengeluarkan recehan dan memberikannya ke mereka dengan cara yang sama, seperti yang nenek lakukan saat paman membeli motor.

Ternyata, tradisi tersebut tidak hanya berada di desa nenek tepatnya di Desa Tumapel, Kecamatan Duduk Sampeyan, Kabupaten Gresik, tapi di berbagai daerah juga memiliki tradisi yang sama.

Namanya tradisi udik-udikan.

Udik-udikan merupakan tradisi melempar uang atau menebar uang. Tradisi tersebut dilakukan ketika diadakan acara muludan, sunatan, kelahiran bayi, ulang tahun atau ketika mendapatkan rezeki. Seperti yang dilakukan warga Desa Tumapel, Gresik yang menebar uang ketika mendapatkan rezeki.

Bgai-Bagi uang receh | Sumber: mtbfm.com

Selain acara syukuran, di beberapa daerah tradisi udik-udikan juga dilakukan ketika prosesi pengantaran jenazah ke pemakaman. Tetapi uang tidak diperebutkan dan hanya anak-anak yang mengambil uangnya.

Uang yang dilempar berupa pecahan Rp 100–Rp. 1.000, dimasukkan dalam baskom kecil dan terendam air dengan bunga melati atau wangi-wangian. Itu dilakukan untuk menghormati tamu. Selain uang logam, permen dan jenang juga bisa dibagi dengan dibungkus kecil-kecil.

Pada acara hajatan, pecahan uang akan mulai disebarkan ketika doa selesai dipanjatkan. Saat itulah anak-anak mulai bergerumbul dan bersiap untuk mengambil koin-koin tersebut.

Banyak daerah memiliki tradisi ini seperti Kabupaten Demak di Jawa Tengah, Kabupaten Pekalongan di Jawa Barat, dan Kabupaten Gresik dan Kabupaten Sidoarjo di Jawa Timur, Kelurahan Tugurejo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang dan banyak daerah lainnya.

Di Kabupaten Demak, udik-udikan dilakukan untuk menyambut bayi yang baru lahir. Keluarga berharap memiliki bayi perempuan atau laki-laki. Ketika jenis kelamin bayi sesuai yang diharapkan maka tradisi udik-udikan dilaksanakan.

Udik-udikan | Sumber: cintapekalongan.com

Seperti memenuhi nazar, bayi akan digendong keluar rumah, didampingi dengan dukun bayi dan membawa baki berisi uang dan uborampe (perlengkapan tradisi).

Bayi kemudian diarak, berjalan memasuki gang dan jalan kampung. Saat itu juga uang disebarkan di sepanjang jalan. Bayi juga dibawa ke masjid dan dikumandangkan azan di telinga kanan dan iqomat di telinga kirinya. Setelah itu, bayi dibawa pulang sambil menyebarkan uang kembali, sepanjang jalan pulang.

Menyambut bayi yang lahir | Sumber: Budayajawa.id

Tidak berbeda jauh di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Warga juga melakukan udik-udikan ketika mempunyai anak, pernikahan dan lainnya. Selain itu juga pada tahun 1950-an ketika akan berpergian haji atau sepulang haji tradisi udik-udikan akan dilaksanakan.

Uniknya di Pekalongan, udik-udikan juga dilakukan dengan memberikan doorpize. Kertas akan digulung dengan bertuliskan angka tertentu dan ikut disebar bersama uang receh. Setelah mendapatkan kertas gulungan tersebut, orang yang mendapatkan bisa menukarkan angka yang didapatkan dengan doorprize yang sudah disediakan. Selain itu, melepaskan seekor ayam juga menjadikannya unik. Ayam akan diperebukan oleh warga yang hadir.

Di Sidoarjo, warga melakukannya ketika selesai membangun atau membeli rumah. Cara yang dilakukan pun tidak jauh berbeda dengan daerah lainnya. Selain dengan uang, juga dilakukan dengan jajanan pasar atau coklat.

Di Tugurejo, Kota Semarang, udik-udikan dilaksanakan ketika bayi sudah tengkurap dan merangkak. Agak sedikit berbeda dari daerah lain, bayi akan diletakkan di dalam kurungan yang berisi tangga dari tebu.

Nenek akan membimbing cucu untuk menaiki tangga. Setelah itu nenek akan menyebarkan uang recehan bersama beras kuning dan membagikan jenak canil pada tetangga.

Tradisi udik-udikan ternyata berada di berbagai daerah dan pada intinya makna dari tradisi udik-udikan adalah untuk menunjukkan rasa syukur.

Walaupun di daerah rumah nenek saya sudah jarang terjadi, semoga saja di daerah lain masih banyak ditemui.

Catatan Kaki:

boombastis.com | cintapekalongan.com | guideku.com | budayajawa.id | kemdikbud.go.id

Kholiq, A.N.(2015). Ritual Islam di Tugurejo. Jurnal Kajian Islam dan Budaya. 13(2). 314-323. Diakses dari ejournal.iainpurwokerto.ac.id

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Cerita dari Mesir: Bicara Keras Tanpa Dendam Sebelummnya

Cerita dari Mesir: Bicara Keras Tanpa Dendam

Harapan dan Tantangan untuk Energi Terbarukan Selanjutnya

Harapan dan Tantangan untuk Energi Terbarukan

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.