Pasar Turi: Menolak Mati Dilahap Api

Pasar Turi: Menolak Mati Dilahap Api

Pasar Turi © breakingnews.co.id

Warga Surabaya pasti sudah akrab dengan Pasar Turi. Bahkan warga luar Surabaya khususnya Jawa Timur juga akrab dengan pasar ini. Tak heran juga jika warga daerah lain memilih untuk belanja ke Pasar Turi.

Pada tahun 1960, Pasar Turi telah menjadi pusat perdagangan eksklusif dan terkenal hingga mancanegara. Tujuan pemerintah untuk menjadikan Pasar Turi sebagai pusat perdagangan dan grosir terbesar pun tercapai.

Namun di balik kesuksesan tersebut, Pasar Turi juga mengalami pasang surut. Kebakaran yang terjadi pada tahun 1950, 1967, 1978 dan pertengahan tahun 2007 sangatlah mempengaruhi pedagang dan kegiatan Pasar Turi itu sendiri.

Kebakaran dahsyat yang terjadi pada tahun 1967 dan 1978 bahkan mengenai seluruh bangunan, membuatnya rata dengan tanah. Akan tetapi, Pasar Turi segera bangkit kembali dengan menjadi pasar grosir termegah pada 1978-1980. Hingga harus mengalami kebakaran lagi pada pertengahan 2007.

Pasar Turi sekarang | Sumber: Indopos.id

Selain terbakar, pada tahun 1950 Pasar Turi sempat menjadi sasaran Belanda dalam agresi militernya. Pasar Turi sering dibombardir dengan mortir oleh pasukan Inggris juga. Sebelum memasuki zaman Belanda, Pasar Turi sudah memiliki ceritanya.

Pasar Turi dulu kala

Keberadaan Pasar Turi dimulai dengan cerita pelarian Raden Wijaya, yang diburu oleh pasukan Jayakatwang, seorang Raja Kediri saat kerajaan Singosari dihancurkan.

Raden Wijaya berlari ke arah utara Madura pada tahun 1292. Kemudian, sampailah beliau di Desa Kudadu dan diantar warga ke pangkalan perahu di Pejingan. Mereka akan berlayar menuju Pulau Garam melalui Kali Krembangan. Pejingan kemudian berganti nama menjadi Datar, tempat berangkatnya buronan.

Pasar Turi Baru zaman dulu | Sumber: surabayatempodoloe.blogspot.com

Datar lalu berganti nama lagi menjadi Padatari. Di situlah Padatari banyak dikunjungi orang bertukar barang. Orang Madura sering datang membawa hasil bumi, petani juga tidak ketinggalan. Warga Sidoarjo dan Gresik juga ikut menjual hasil taninya di sini.

Setelah berkembang menjadi pusat perdagangan, Padatari akhirnya berganti nama menjadi Pasar Turi dan menjadikannya semakin dikenal oleh banyak orang.

Di zaman penjajahan Jepang, Pasar Turi menjadi pusat perdagangan barang bekas, karena toko-toko di Surabaya banyak gulung tikar dan tidak ada barang baru.

Warga menjual barang-barang ke tukang loak dan dijual kembali ke Pasar Turi. Tahun 1942-1945, Pasar Turi dikenal sebagai pusat jual-beli barang bekas.

Setelah terbakar tahun 1950, barang-barang seperti sabun, kain, baju, kompor, dan lainnya mulai dipasarkan. Dibarengi dengan Presiden Soekarno yang pada tahun 1950 sedang mengampanyekan anti impor barang.

Oleh karena itulah banyak sabun batangan, sabun cair dan jenis lainnya diproduksi lokal dan pertama kali dikenalkan di Pasar Turi. Kemudian pada masa orde lama, datanglah pedagang sepeda dan perlengkapannya.

Tahun 1968, pedagang berdialog dengan Wali Kota Surabaya di ruang sidang Taan Surya dengan hasil perlu adanya peremajaan untuk Pasar Turi dan harus menampung seluruh pedagang dengan berbagai macam kebutuhan yang akan disediakan.

Namun dalam proses perubahan tersebut, Pasar Turi kembali terbakar tepatnya pada tahun 1969 dan rata dengan abu.

Pasar Turi kemudian terbakar kembali pada 1978 untuk ketiga kalinya, selanjutnya pada 2007, dan kembali terbakar pada tahun 2012.

Kebakaran-kebaran tersebut bukan berarti membuat Pasar Turi benar-benar mati. Saat ini terdapat dua jenis Pasar Turi, yakni Pasar Turi Lama dan Pasar Turi Baru.

Pasar Turi Baru merupakan pasar yang pembangunannya hasil dari kerja sama pemerintah dengan investor/swasta. Pasar Turi lama masih menjadi tempat terjadinya perdagangan.

Perbedaan itu berdasarkan SK Walikota Kepala Daerah Kotamadya No. 224/K pada Bab II Pasal 2 yang berbunyi:

“Selama bangunan pasar Turi Baru belum terselesaikan keseluruhannya, maka pasar Turi sebagai pusat Unduk terdiri dari (a) Pasar Turi Lama , (b) Pasar Turi Baru”

Walaupun sering terbakar, Pasar Turi tetap menggeliat bangkit. Mungkin tidak seramai dulu karena saingan yang begitu banyak mulai dari pasar-pasar baru sampai mall-mall yang sudah berdiri tegak di Surabaya.

Catatan kaki: puskopssimnujatim.id | surabayastory.com | jurnalmahasiswa.unesa.ac.id

Pilih BanggaBangga100%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Ke Budug Asu, Mencari Panorama yang Syahdu Sebelummnya

Ke Budug Asu, Mencari Panorama yang Syahdu

Tahun 2025, Indonesia Ditargetkan Ekspor 1 Juta Mobil Selanjutnya

Tahun 2025, Indonesia Ditargetkan Ekspor 1 Juta Mobil

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.