Bioskop Rakyat Hadir di Jakarta

Bioskop Rakyat Hadir di Jakarta

Suasana Bioskop Rakyat © Medcom.id

Bioskop semakin merajai industri pemutaran film. Walaupun dulu gedung bioskop telah ada sebagai kepentingan propaganda di zaman penjajahan Jepang hingga adanya bioskop keliling untuk kepentingan tersebut.

Kehadiran bioskop keliling atau layar tancap sempat redup karena tentara Jepang sudah pergi dan tidak ada pesan propaganda yang disampaikan. Namun kemudian layar tancap kembali meraih popularitas.

Sebagai inisiatif untuk menjangkau daerah-daerah yang tidak mendapatkan akses ke bioskop mainstream. Dulu layar tancap menjadi hiburan untuk rakyat. Pemutaran dengan menggunakan roll film dan layar proyektor. Biasanya layar tancap akan menyinggahi warga bisa menonton dengan duduk di lesehan atau di kursi.

Bahkan di awal tahun 1970-1990an, mengundang pemutaran film keliling ketika hajatan adalah suatu hal yang luar biasa. Kadang menonton secara gratis kadang membayar dengan harga yang cukup murah.

Pertunjukan layar tancap tersebut dimulai dari pukul 8 malam hingga jam 3 pagi. Selain itu disediakan prime time pukul 12 malam walaupun film yang diputar memang cenderung film dengan tampilan semi erotis. Juga dikenal sebagai Misbar atau gerimis bubar karena jika gerimis datang maka penonton akan bubar.

Pada akhirnya karena adanya pelanggaran dan kondisi negatif dari adanya bioskop keliling maka Departemen Penerangan mengeluarkan sebuah Surat Edaran No. 10/Se/DPF-III/1986 tentang Pembinaan Pertunjukkan Film Keliling yang mengancam otoritas Persatuan Bioskop Keliling Indonesia (PERBIKI) juga pengusaha bioskop keliling. Selain itu terapat penetapan format film berukuran 16 mm dan hanya boleh disaksikan oleh usia 13 tahun ke atas.

Seiring dengan berjalannya waktu juga, bioskop dengan konsep yang lebih modern dan teknologi yang lebih maju, menarik perhatian masyarakat. Bioskop saat ini menerapkan harga tiket sekitar Rp 35.000 ke atas. Itupun tidak semua kalangan bisa menikmati.

Baru-baru ini sebuah bioskop rakyat bernama Indiskop atau Bioskop Independen telah dibangun. Indiskop merupakan hasil kerjasama antara Perumda Pasar Jaya bekerja sama dengan Keana Films dan Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi).

Terletak di Pasar Teluk Gong, Penjaringan, Jakarta Utara, konsep dari bioskop rakyat itu sendiri tidak jauh berbeda dengan bioskop pada umumnya tetapi versi lebih sederhana.

Indiskop di Jakarta | Sumber: Galih Pradipta\Antara Foto

Di Jakarta sendiri pernah didirikan bioskop di dalam pasar bernama bioskop Angkasa dan berjaya di era tahun 1980-an. Namun Angkasa harus tutup karena kemunculan bioskop modern pada awal 2000-an.

Pembangunan bioskop sudah dipromosikan sejak 2018 dan sempat diprediksi akan selesai dibangun pada Desember dan paling lambat Januari 2019. Pembangunan bioskop tersebut bisa diaplikasikan di daerah tingkat kedua dan tidak terjangkau dengan infrastruktur untuk pergi ke mall. Hal tersebut disampaikan oleh Marcella Zalianty selaku Ketua Umum Parfi 56.

Tiket dibanderol mulai dari harga Rp 15.000-Rp. 20.000. Separuh harga lebih murah dari harga tiket bioskop mainstream. Bioskop tersebut akan memiliki dua studio dengan berkapasitas 112 penonton setiap studionya. Selain itu, terdapat 6 speakers, 1 proyektor layar, dan 3 pendingin ruangan.

Film hasil produksi Indonesia menjadi prioritas utama film yang akan diputar. Selain itu, film yang disediakan merupakan film yang sudah tayang di bioskop komersil atau bioskop mainstream.

Meskipun yang menjadi prioritas adalah film Indonesia tentu saja tidak menutup kemungkinan adanya film-film produksi luar negeri. Film luar yang diputar merupakan film edukasi seperti film sejarah, box office, selain itu rencana untuk memutarkan film karya anak bangsa yang biasanya menang di festival yang terkadang tidak bisa ditonton.

Suasana di loket tiket | Sumber: Katadata.com

Bagi siswa yang memegang Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus juga direncanakan akan mendapatkan subsidi. Harga tiket tidak begitu saja digratiskan tetapi mendapatkan potongan. Harga tiket menjadi Rp 5.000 untuk siswa-siswa tersebut. Rencana tersebut sempat disampaikan oleh Arief Nasrudin, Direktur Utama Perumda Pasar Jaya, pada 23 November 2018. Saat itu, rencana sedang dalam pembahasan.

Keana Films yang juga bekerja sama dengan Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) dan asosiasi industri kreatif berencana untuk menggelar workshop mengenai perfilman.

Indiskop juga membuka kelas akting dan ruang bioskop difungsikan sebagai tempat workshop. Tidak hanya menawarkan kegiatan menonton film dan workshop, Indoskop juga menawarkan kuliner. Indoskop akan dibuka sercara resmi untuk publik pada 18 Juli 2019.

Adanya bioskop rakyat tersebut tentunya hal yang baik dan bisa memfasilitasi teman-teman yang tidak memiliki akses ke bioskop ternama. Selain itu juga dapat memberikan mereka hiburan sekaligus edukasi.

Letak bioskop yang berada di pasar juga memberikan keuntungan bagi pasar karena akan semakin ramai. Semoga bioskop rakyat tersebut juga bisa dibangun di daerah lainnya.

Catatan Kaki: kompas.com | cnnindonesia.com | kompas.com | kompas.com | kompas.com

Erwantoro, E.,(2014). Bioskop Keliling Peranannya Dalam Memasyarakatkan FIlm Nasional Dari Masa Ke Masa. Patanjala. 6(2).285-300. Diakses dari ejurnalpatanjala.kemdikbud.go.id

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang100%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Tidak Banyak yang Tahu, Ini Kota Kelahiran Bung Karno Sebelummnya

Tidak Banyak yang Tahu, Ini Kota Kelahiran Bung Karno

Harapan dan Tantangan untuk Energi Terbarukan Selanjutnya

Harapan dan Tantangan untuk Energi Terbarukan

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.