Tidak Banyak yang Tahu, Ini Kota Kelahiran Bung Karno

Tidak Banyak yang Tahu, Ini Kota Kelahiran Bung Karno

Ir. Soekarno © breakingnews.co.id

“Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Masih ingat dengan kalimat pembakar semangat di atas?

Yap, kalimat tersebut di ungkapkan oleh presiden pertama Indonesia yakni Ir. Soekarno. Tokoh yang satu ini tentu sangat membekas di ingatan masyarakat. Bagaimana tidak? Soekarno merupakan tokoh yang sangat berpengaruh dalam kemerdekaan Indonesia.

Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno l Sumber: gesuri.id

Berbicara tentang kehebatan Soekarno tentu tidak akan ada habisnya. Perjalanan panjang dan berliku demi membela tanah air Indonesia sangat patut diacungi jempol. Namun, di balik kerja keras Soekarno tersebut bagaimanakah sejarah kelahiran sang proklamator?

Ir. Soekarno lahir di Jalan Pandean IV No 40, Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya pada tanggal 6 Juni 1901.

Raden Sukemi Sosrodiharjo, ayah dari Soekarno, ditugaskan di beberapa wilayah di Indonesia salah satunya yaitu di Singaraja, Bali. Kemudian dipindahtugaskan ke Kota Surabaya sebagai guru di Sekolah Rakyat Sulung pada tahun 1990. Ketika ditugaskan di Surabaya, Ida Ayu Nyoman Rai Srimben, sang istri, tengah mengandung. Hingga akhirnya lahirlah Soekarno, di rumah dan lingkungan yang sederhana.

Namun, Soekarno tidak tinggal cukup lama di rumah tersebut. Soekarno ikut tinggal di Tulungagung bersama kakeknya yang bernama Raden Hardjokromo.

Sumber: penasoekarno

Soekarno sendiri sebenarnya bernama Kusno, namun nama tersebut hanya digunakan sampai Soekarno berumur 11 tahun. Penggantian nama tersebut dikarenakan Soekarno sering terkena sakit Thypus.

Berdasarkan kepercayaan orang Jawa, penggantian nama dapat berpengaruh terhadap kehidupan anak tersebut. Raden Sukemi Sosrodiharjo ayahanda Soekarno memberi nama “Karna” yang merupakan nama tokoh pahlawan dalam cerita Mahabharata.

Namun dalam bahasa Jawa huruf “A” akan dibaca menjadi “O” maka dari itu biasa disebut dengan “Karno” dan penambahan awalan “Soe” yang berarti baik atau paling baik. Maka terciptalah nama Soekarno.

Kemudian untuk pengejaan “Soekarno” mengikuti ejaan Belanda yang mengubah huruf “Oe” menjadi “U”. Namun Soekarno sendiri lebih senang jika namanya mneggunakan ejaan “U” dibandingkan dengan ejaan Belanda, hal tersebut dikemukakan di dalam tulisan Cindy Adams.

Sumber: kompas.com

Soekarno menuntut ilmu di Europeesche Lagere School (ELS) pada tahun 1911 dan kembali ke Surabaya untuk meneruskan pendidikannya di Hogore Burger School (HBS). Pada saat inilah Soekarno bertemu banyak pemimpin organisasi seperti Sarekat Islam dan organisasi yang dipimpin Tjokroaminoto antara lain Alimin, Musso, Dharsono, Haji Agus Salim, dan Abdul Muis.

Rumah kelahiran Ir. Soekarno l Sumber: indonesiaimage

Kota Surabaya tentu memiliki peran yang penting dalam perjalanan hidup Ir. Soekarno. Tak terkecuali rumah kelahiran Soekarno. Rumah ini dijadikan cagar budaya sejak 2013 oleh wali kota Surabaya Tri Rismaharini. Pemerintah kota juga sudah berupaya melakukan negosiasi kepada ahli waris rumah untuk membeli rumah tersebut guna kepentingan sejarah. Namun Pemkot masih kesulitan dalam menawar harga rumah tersebut yang dinilai terlalu mahal.

Kampung tempat tinggal Soekarno ini disebut sebagai “Kampung Bung Karno”. Berbagai atribut kemerdekaan terpasang di berbagai sudut. Ini tentunya sebagai penanda bahwa kampung tersebut adalah kampung bersejarah.

Rumah Bung Karno tersebut berdinding tembok, tegel teraso, pintu kayu jadi, tangga kayu yang menghubungkan lantai dua. Pada masa Bung Karno rumah tersebut memiliki arsitektur yang lebih tua lagi dibanding saat ini. Kondisi rumah yang sederhana merupakan cerminan kepribadian Bung Karno yang juga sederhana.

Kampung tersebut saat ini masih ramai dikunjungi para wisatawan, terutama jika bertepatan hari pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November.


Catatan kaki: rappler.com l kumparan.com

Pilih BanggaBangga75%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau25%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Siap Bersaing, Madu Semongkat yang Mendunia Sebelummnya

Siap Bersaing, Madu Semongkat yang Mendunia

Tahun 2025, Indonesia Ditargetkan Ekspor 1 Juta Mobil Selanjutnya

Tahun 2025, Indonesia Ditargetkan Ekspor 1 Juta Mobil

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.