Hubungan Indonesia dan Portugal Melalui Keroncong

Hubungan Indonesia dan Portugal Melalui Keroncong

Kelompok Keroncong © Perpek.com

Musik khas keroncong terdengar dengan nyaring ketika saya dan teman-teman sedang berbuka puasa di lapangan sekolah. Salah satu lagu pop diubah menjadi khas keroncong. Menarik dan sangat asyik untuk didengarkan.

Sembari menikmati makanan saya menyadari bahwa saya jarang mendengar lagu keroncong dimainkan. Apalagi secara langsung. Hanya di beberapa event saja.

Setelah mendengar musik keroncong yang dimainkan, saya penasaran dengan bagaimana keroncong berkembang di Indonesia, karena saya pernah sedikit mendengar bahwa keroncong berkaitan dengan bangsa Portugis tetapi beberapa ahli juga mengatakan bahwa keroncong asli Indonesia.

Asli Indonesia atau tidak?

Asal dari musik Keroncong sendiri masih menjadi pertanyaan. Berdasarkan yang dijelaskan di atas, bangsa Protugis-lah yang membawa musik bernama Fado, tetapi ahli keroncong Kusbini dan Andjar Any menyatakan bahwa keroncong adalah musik asli Indonesia. Tidak sedikit juga yang meragukan bahwa keroncong berasal dari Portugal

Fado | Sumber: Visitportugal.com

Pada tahun 1969, Antonio Pinto da Franca seorang Konsul dari Portugal menyatakan kepada Andjar Any bahwa di Portugal tidak ada musik keroncong atau musik sejenis keroncong.

Jadi bagaimana? Baiklah mari kita tilik sejarahnya.

Perjalanan musik keroncong

Musik keroncong di Indonesia diyakini berawal dari bangsa Portugis, di mana musik keroncong menjadi hiburan bagi para budak Portugis dari Afrika Utara dan India.

Budak-budak tesebut berkesempatan memainkan musik dan berkolaborasi dengan tuannya. Musik yang dimainkan berasal dari Portugal bernama Fado.

Fado merupakan musik khas Portugal yang biasanya menyuarakan kesedihan, kemiskinan, dan perjalanan mengarungi lautan.

Musik tersebut kemudian dibawa Portugis ke Indonesia pada abad ke-16 ketika menguasai Malaka. Mereka membawanya ke Ambon terlebih dahulu. Para budak dari Ambon juga berkesempatan untuk memainkan musik Fado tersebut.

Kemudian ketika Portugis akhirnya menyerahkan Malaka ke tangan Belanda pada tahun 1648, budaya musik Portugis tidak mati. Budak Portugis yang banyak berasal dari Maluku tetap melanjutkan budaya tersebut. Mereka ditawan di Batavia pada masa itu.

Mereka kemudian dibebaskan pada tahun 1661 dan tinggal di Kampoeng Toegoe (Jakarta Utara) di sekitar rawa-rawa daerah Cilincing. Musik dan bernyanyi menjadi hiburan bagi mereka di waktu senggang bekerja.

Alat-alat musik yang dimainkan adalah biola, cello, ukulele (cak dan cuk), rajai berupa gitar kecil berdawai 5, gitar, rebana, dan suling.

Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen manaklukan Pulau Banda pada tahun 1621 dan para tawanan asal Pulau Banda dijadikan Budak. Mereka dikirim ke Kampoeng Togoe dan Kampung Bandan di Batavia.

Keroncong Prounga merupakan keroncong yang populer di kampung Bandan. Prounga adalah jenis keroncong rohani yang dinyanyikan di gereja saat itu. Prounga pun disebut sebagai keroncong Bandan.

Para keturunan Portugis kemudian berpindah ke Cilincing dan membangun Gereja Tugu pada tahun 1673 dan dari situlah Keroncong Tugu dikenal. Selain Keroncong Tugu, Keroncong Kaparino dan Nina Bobo pun dikenal juga.

Keroncong Tugu juga berkembang ke Kemayoran tahun 1918-1919 di antara orang-orang Indo-Belanda. Musisi keroncong kemayoran yang terkenal adalah Atingan, J.Dumas, Jan Schneider, Kramer, M Sagi, Any Landow, dan Ismail Marzuki.

Penyebutan keroncong sendiri karena berasal dari bunyi khas musiknya yakni “crong-crong”. Ada pula yang mengatakan bahwa asal mula kata keroncong berasal dari bahasa Portugis ukulele yang disebut dengan croucho artinya kecil.

Alat musik keroncong | Sumber: Kemendikbud.id

Kemudian keroncong semakin dikenal di Indonesia bahkan melahirkan seniman keroncong, yakni Gesang dengan Bengawan Solo yang begitu populer. Waljinah, Sundari Sukoco, juga seniman keroncong. Musik keroncong dulu sering muncul dalam kompetisi musik yang diadakan oleh RRI dan TVRI.

Asal musik keroncong memang menjadi perdebatan, tetapi alangkah baiknya kita menyebutnya sebagai bentuk adaptasi masuknya musik dari luar dan berhasil diadaptasi oleh Indonesia. Seperti ukulele yang bukan berasal dari Indonesia, memberikan ciri khas kepada musik keroncong.

Pengembangan musik keroncong di Indonesia memang tidak sepenuhnya asli dari Indonesia tetap ada percampuran budaya di dalamnya. Sebagai adaptasi dari datangnya musik dari luar. Seperti dangdut yang juga dipengaruhi oleh musik dari India.

Saat ini musik keroncong memang jarang terdengar atau bahkan dipertontonkan di televisi tapi kita bisa melihatnya di platform lain. Percaya deh musik keroncong itu juga asik untuk didengar lho.

Catatan Kaki: tirto.id | gigsplay.com | merahputih.com | journal.uny.ac.id

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Makna di Balik Pembuatan Ukiran Suku Asmat yang Mendunia Sebelummnya

Makna di Balik Pembuatan Ukiran Suku Asmat yang Mendunia

Tahun 2025, Indonesia Ditargetkan Ekspor 1 Juta Mobil Selanjutnya

Tahun 2025, Indonesia Ditargetkan Ekspor 1 Juta Mobil

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.