Kain Indonesia Menjadi Bintang di Peragaan Mode di Roma

Kain Indonesia Menjadi Bintang di Peragaan Mode di Roma

Koefia International Fashion Academy © Sumber: Kedutaan Besar Republik Indonesia di Itali

Tekstil tradisional Indonesia menjadi pusat perhatian pada malam penutupan Rome Fashion Week pada hari Minggu kemarin dengan memamerkan kreasi couture.

Para siswa tahun ketiga dari Koefia International Fashion Academy memamerkan 46 karya couture yang dijahit tangan. Dengan mengangkat tema "Memorabilia: Impossible Wardrobe", para siswa ini menafsirkan kembali tekstil Indonesia dengan caranya sendiri, menggabungkannya dengan kain lain seperti katun dan linen, serta hiasan seperti applique dan bordir.

Dilihat dari sisi gaya, kreasi tersebut berkisar dari jaket vintage tahun 60-an dengan aksen tenun, potongan jumpsuit dari batik Megamendung menjadi pakaian sederhana berlapis batik plastik.

Peragaan busana juga dihadiri oleh perwakilan dari rumah mode terkenal Balenciaga, yang memberikan penghargaan kepada siswa Koefia Valeria Catania atas keunggulannya dalam produksi fashion.

Kepala Koefia Antonio Lo Presti mengatakan konsep memorabilia mode telah berhasil mengawinkan dua budaya yang berbeda, mengatakan kombinasi itu "tidak biasa dan hampir mustahil" namun sangat menginspirasi.

Duta Besar Indonesia untuk Italia Esti Andayani mengatakan dalam pidato pembukaannya bahwa diharapkan kolaborasi ini akan menginspirasi desainer muda untuk menciptakan karya lintas budaya yang dapat mendorong lebih banyak pemahaman antar negara.

"Fesyen lebih dari proses merancang pakaian, itu adalah bentuk ekspresi untuk memahami dunia di sekitar kita. Presentasi malam ini membawa perpaduan warisan budaya Indonesia dan Eropa, lintas waktu dan ruang," kata Esti.

Peragaan busana ini adalah bagian dari perayaan sekitar 70 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Italia. Kedutaan Besar Indonesia di Roma menyediakan sejumlah tekstil tradisional Indonesia untuk dikerjakan oleh mahasiswa Koefia di bawah pengawasan profesor mereka, yang membutuhkan waktu enam bulan untuk menyelesaikannya.

Setelah pertunjukan, koleksi akan dipamerkan di kedutaan mulai 10 Juli. Sebuah pertunjukan yang berulang pada malam hari dihadiri oleh sejumlah tamu diplomatik dan industri, termasuk perwakilan dari rumah mode Gucci dan Fendi.

Aktivis fesyen dan penulis Contemporary Indonesian Fashion: Through the Looking Glass, Alessandra B. Lopez y Royo, yang menghadiri acara tersebut, mengatakan bahwa pertunjukan Koefia menunjukkan potensi besar kerja kolaboratif di bidang mode antara Italia dan Indonesia.

"'Made in Italy' dan 'Made in Indonesia' keduanya berakar pada tradisi desain dan pengerjaan kuno yang menghindari keburukan mode cepat dan benar-benar dapat berkontribusi pada pakaian berkelanjutan untuk dunia kontemporer kita," katanya seperti dikutip oleh The Jakarta Post.

“Desainer Indonesia dan Italia memiliki banyak kesamaan dan banyak hal untuk dibagikan. Kami bisa menantikan kolaborasi yang luar biasa. ”


Catatan kaki: Jakarta Post

Pilih BanggaBangga67%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau33%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Pelindo III dan Upaya Digitalisasi Pelabuhan Indonesia Sebelummnya

Pelindo III dan Upaya Digitalisasi Pelabuhan Indonesia

Minang dan Kabau: Nama Kecil Kota Padang Selanjutnya

Minang dan Kabau: Nama Kecil Kota Padang

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.