#GerakanSUCI: Wujudkan Ketersediaan Air dari Goa Pulejajar Gunungkidul

#GerakanSUCI: Wujudkan Ketersediaan Air dari Goa Pulejajar Gunungkidul

© Dok. Penulis

Apa yang ada di pikiran anda saat mendengar kata Gunungkidul? Kekeringan? Gersang? Tandus? Tanah berbatu karang? Susah untuk bercocok tanam?

Apa yang anda pikirkan benar. Banyak berita yang kita dengar dan baca tentang kondisi Gunungkidul ini.

Gunungkidul adalah salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta, yang luasnya bisa dikatakan hampir 1/2 atau 46,63 persen luas wilayah D.I Yogyakarta, dengan ibukota Wonosari, yang terletak di sebelah tenggara Kota Yogyakarta. Di sebelah selatan atau kidul (bahasa Jawa) dari Pegunungan Sewu, menyebabkan wilayah ini disebut Gunungkidul atau Gunung Selatan.

Secara geografis, Gunungkidul terletak di sebelah selatan yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Kab.Klaten, Kab.Sukoharjo dan Kab. Sleman di sebelah utara. Kab.Wonogiri di sebelah timur, serta Kab. Bantul di sebelah barat.

Kondisi alam Gunungkidul memang merupakan daerah yang didominasi bebatuan kapur dan karang. Menurut sejarahnya, wilayah ini jutaan tahun yang lalu adalah dasar laut, yang akibat pergeseran lempeng bumi baik secara tektonik, vulkanik dan kejadian alam lainnya mengakibatkan wilayah dasar laut ini muncul di permukaan.

Jadi tidak heran jika kondisi tanah di Gunungkidul didominasi oleh batu-batu karang dan kapur, bahkan sering kali masih ditemukan fosil-fosil kerang dan hewan laut lainnya.

Dengan kondisi demikian, tanah yang kering, tandus, berbatu, gersang dan banyaknya sungai-sungai bawah tanah seperti umumnya tanah karst, membuat sulitnya suplai air, pertanian di Gunungkidul pun tidak berjalan optimal.

Pertanian lebih banyak mengandalkan pengairan dari air hujan (sawah tadah hujan) yang sangat tergantung pada musim, dan kurangnya air bersih.

Kondisi tanah di Gunungkidul | Foto: Dok. Penulis

Selama ini upaya dari pemerintah setempat dalam meminimalkan krisis air adalah dengan mendistribusikan air dari sumber air Kali Puring (tempat satu-satunya sumber air yang dimanfaatkan dan didistribusikan, sebelum ditemukannya sumber air baru yang lebih besar di Goa Pulejajar ini) menggunakan mobil tangki ke penduduk.

Namun pasokan air dari mobil tangki tersebut sering terhambat, apa lagi di musim kemarau, karena debit air di sumber air Kali Puring semakin kecil debit airnya saat musim kemarau.

Dengan pemanfaatan sumber air baru yang debit airnya jauh lebih besar dari sumber air Goa Pulejajar melalui pengangkatan air ke permukaan dan dialirkan ke masyarakat, bisa membantu warga dalam memenuhi kebutuhan air. Baik kebutuhan air bersih untuk kehidupan sehari-hari, juga untuk kebutuhan pengairan pertanian.

Dari yang semula 90 persen persawahan mengandalkan air di musim hujan menjadi pertanian sepanjang waktu, digunakan untuk peternakan, budidaya ikan air tawar, dan lain sebagainya.

Pencarian sumber air

Kurangnya ketersediaan air inilah yang mendorong para pemuda desa yang tergabung dalam Kombi (Komunitas Merangkul Bumi) tergerak untuk mencari titik-titik potensi sumber air bersih di wilayah Gunungkidul.

Sebenarnya ada banyak sungai mengalir, namun jenis sungai ini adalah sungai bawah tanah. Untuk membawa air tersebut ke permukaan tanah memerlukan usaha yang tidak mudah. Inilah yang sedang diupayakan oleh para pemuda desa beserta komponen masyarakat lainnya.

Salah satu titik sumber air bawah tanah dengan jumlah air yang cukup besar berhasil ditemukan di dalam Goa Pulejajar di Pedukuhan Nglaban, Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Desa Jepitu adalah salah satu desa yang ada di Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul. Desa ini berjarak 40 kilometer di selatan Gunungkidul, berdekatan dengan Pantai Wedi Ombo. Daerah ini mengalami krisis air bersih hampir sepanjang tahun.

Desa Jepitu, Kec.Girisubo, Kab.Gunungkidul - D.I.Yogyakarta, bertanda X merah | Foto: peta-hd.com

Dukungan TNI

Ditemukannya sumber air dengan debit air yang besar di Goa Pulejajar memunculkan harapan baru pada masyarakat akan ketersediaan air, apa lagi di musim kemarau. Uji coba untuk mengalirkan air sungai dari bawah tanah ke permukaan pun dilakukan.

Berawal dari menggunakan pipa kecil atas swadaya masyarakat, air berhasil dinaikkan ke permukaan. Namun hanya bisa pada jangkauan yang sangat kecil, yaitu di sekitaran mulut goa.

Ikhtiar masyarakat pun berlanjut, mencoba untuk mengalirkan air ke tempat yang lebih jauh dengan debit yang lebih besar agar manfaatnya lebih dirasakan masyarakat.

Namun tentu saja hal ini membutuhkan biaya yang besar, mengingat lokasi Goa Pulejajar di dekat Pantai Wedi Ombo, yang lokasinya cukup jauh dari pemukiman warga.

Eksplorasi TNI bersama Kombi di Goa Pulejajar, Desa Jepitu, Gunungkidul
pict source : youtube.com channel : Simon Kamlasi

Gerakan SUCI merupakan gerakan untuk kembali ke kampung halaman, desa-desa, mengangkat serta memberikan solusi atas berbagai masalah yang terjadi di daerah/kampung halaman masing-masing. Juga sebuah gerakan kembali meneladani nilai-nilai nenek moyang kita, yang guyup rukun gotong royong, tanpa meminta balas jasa tertentu.

Pengangkatan air ke permukaan

Dari hasil eksplorasi yang dilakukan, ditemukan fakta bahwa sumber air utama yang ditemukan di Goa Pulejajar berjarak sekitar 1.300 meter dari mulut goa, dengan kedalaman 19 meter.

Beberapa kebutuhan mendesak adalah ketersediaan pipa dengan kapasitas besar, juga pompa untuk mengangkat dan mengalirkan air dengan debit yang lebih besar hingga lebih dekat dan mudah diakses oleh penduduk sekitar.

Kebutuhan pipa dan sarananya hingga air bisa dinikmati oleh penduduk merupakan sumbangan langsung dari Kasum TNI Letjen Joni Supriyanto.

Spesifikasi pipa baru | Foto: Dok. Penulis

Selamatan pemasukan pipa dan pengangkatan air bawah tanah

Pada hari Jumat (12/7) pukul 14.30 WIB telah dilaksanakan acara selamatan untuk mengawali kegiatan pemasukan pipa dari sumber air hingga ke permukaan.

Kegiatan ini dimaksudkan agar selama proses pipanisasi dapat berjalan dengan aman lancar tanpa gangguan dan hambatan.

Selain itu, kegiatan ini juga dimaksudkan sebagai ajang silaturahmi seluruh warga masyarakat sehingga dapat saling bahu membahu dan bekerja sama serta saling menjaga selama proses pipanisasi dan seterusnya.

Kerja nyata yang diperlihatkan oleh para pemuda di Goa Pulejajar Desa Jepitu, diharapkan juga menjadi contoh para pemuda lainnya, tidak banyak bicara tapi menghasilkan karya nyata yang bisa dirasakan manfaatnya oleh sebanyak-banyaknya masyarakat sekitar, sebagai salah satu bentuk mengisi kemerdekaan negeri.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi50%
Pilih TerpukauTerpukau50%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Sekarang, Ada Aplikasi Belajar Mengaji Online! Sebelummnya

Sekarang, Ada Aplikasi Belajar Mengaji Online!

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri Selanjutnya

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri

4 Komentar

  • hastira

    wah keren ini

    • Zakiatul Hidayati

      semoga menjadi tambahan semangat untuk membangun tanah kelahiran :)

  • RULY NINGSIH

    Gunungkidul ... tanpa spasi kak

    • Zakiatul Hidayati

      Terima kasih koreksinya. Salam :)

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.