Ternyata Ikan Asin Tertulis di Prasasti Jaman Mataram Kuno

Ternyata Ikan Asin Tertulis di Prasasti Jaman Mataram Kuno

BantenNews

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Biasanya ketika kita membeli sebuah makanan tradisional, seperti "Penyetan" misalnya, penjual menambahkan potongan Ikan asin di setiap porsinya. Ikan asin adalah olahan ikan yang sudah banyak dicicipi oleh masyarakat Indonesia. Namun olahan ikan tersebut masih kerap makanan kelas bawah.

Tapi kawan GNFI sudah tahu tentang sejarah Ikan Asin di Indonesia?
Dikutip dari Kompas.com, berikut adalah catatan singkat tentang sejarah Ikan asin :

1. Bermula dari Abad ke VIII masehi

Masyarakat Jawa sudah menyukai ikan asin sejak abad ke-VIII masehi. Seorang Arkeolog bernama Titi Surti Nastiti, menjelaskan melalui bukunya tentang sejarah Ikan asin yang berhubungan dengan perekonomian dan sosial masyarakat Mataram kuno.

Bukunya yang berjudul "Pasar di Jawa: Masa Mataram Kuno Abad VII-XI Masehi" tertulis bahwa ikan asin menjadi salah satu komoditas yang sering diperdagangkan oleh masyarakat Mataram Kuno sejak 13 abad yang lalu.

2. Tertulis di dua prasasti

Ia juga menjelaskan sejarah tentang ikan asin dari dua prasasti. Yakni Prasasti Pangumulan A (tahun 824 saka atau 902 Masehi) dan Prasasti Rukam (tahun 829 saka atau 907 Masehi)

3. Lebih dari satu jenis ikan yang digunakan

Pada Prasasti tersebut menjelaskan tentang jenis-jenis ikan yang dijadikan ikan asin pada masa itu.
"Jenis ikan yang diasinkan atau dendeng ikan, terutama jenis-jenis ikan laut seperti ikan kembung, ikan kakap, ikan tenggiri," tulis Titi yang dikutip dari Prasasti Pangumulan A.

Sumber : Matanaga

4. Disebut grih atau dendain pada masa itu

Pada Prasasti tersebut, ikan asin yang memiliki 2 sebutan, yakni grih (saat ini disebut gereh dalam bahasa Jawa) atau dendain untuk yang dikeringkan (saat ini dendeng).

5. Dipakai untuk hidangan upacara

Pada Prasasti Rukam, tertulis bahwa grih atau dendain digunakan sebagai hidangan yang disajikan pada upacara penetapan sima (tanah suci).

Dari sejarah tersebut, maka sudah ikan asin bukan sekedar makanan saja pada masa lalu. Namun juga sebagai hidangan untuk ucapan.

--

Sumber : Kompas.com, BantenNews, Matanaga

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga25%
Pilih SedihSedih13%
Pilih SenangSenang13%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau50%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
#GerakanSUCI: Wujudkan Ketersediaan Air dari Goa Pulejajar Gunungkidul Sebelummnya

#GerakanSUCI: Wujudkan Ketersediaan Air dari Goa Pulejajar Gunungkidul

Sejarah Hari Ini (1 Juni 1859) - Titik Awal Perniagaan Pelabuhan Pekalongan Selanjutnya

Sejarah Hari Ini (1 Juni 1859) - Titik Awal Perniagaan Pelabuhan Pekalongan

Fachrezy Zulfikar
@fachrezy

Fachrezy Zulfikar

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.