Menutup Aurat Pun Ada Tradisinya di Bima

Menutup Aurat Pun Ada Tradisinya di Bima

Budaya Rimpu © Kompas.com

Seorang wanita terlihat memakai kain sarung di seluruh tubunya, terkecuali kedua mata. Terlihat di foto yang diunggah sebuah akun Instagram. Ternyata, penggunaan sarung tersebut adalah budaya Rimpu suku Mbojo di Bima, Nusa Tenggara Barat.

Bagi wanita yang belum menikah, Rimpu dipakai dengan menutup seluruh wajah kecuali kedua mata, sedangkan, bagi wanita yang sudah menikah digunakan di bagian wajah yang masih terbuka. Rimpu sendiri merupakan pakaian khusus wanita di Bima untuk kegiatan sehari-hari seperti ke pasar.

Bima dikenal memiliki beberapa unsur budaya seperti Melayu, Bugis, Sasak dan lainnya. Bangsa Melayu-lah yang paling mempengaruhi adanya budaya Rimpu.

Bangsa Melayu yang dimaksud adalah Bangsa Melayu Purba yang mendiami wilayah pegunungan dan terpencil untuk menghindari pengaruh luar. kemudian etnis Melayu Baru, yakni warga yang sudah melakukan kontak hubungan dan sudah memeiliki percampuran secara biologi terhadap orang Bima sendiri. Biasanya bertempat tinggal di daerah daratan dan pesisir pantai.

Daerah Bima yang berada pada jalur pelayaran internasional mengakibatkan mudahnya budaya dari luar masuk. Seperti unsur budaya Hindu, Islam, dan Kristen. Budaya Islam menjadi yang paling tampak mempengaruhi wilayah Bima.

Wilayah Bima sendiri telah memegang keyakinan keagaman Islam dari para penguasanya yakni berdirinya kesultanan Bima. Dinobatkannya Abdul Kahir sebagai Sultan menambah dominasi tersebut. Sejak saat itu kesultanan Bima menerapkan budaya Islam. Termasuk salah satunya adalah budaya Rimpu.

Pada tahun 1640 wilayah Bima kedatangan etnis Melayu ketika Raja Salisi ditundukkan oleh Tureli Ngampo Manuru Suntu Jalaluddin bersama Karaeng Baroangin. Membawa 400 kapal perang Gowa (Makasar) menyerang Bima untuk mengembalikan legitimasi kekuasan Ma Bata Wadu.

Kemudian Ma Bata Wadu berganti nama menjadi Abdul Kahir setelah memeluk agama Islam bersama dengan Datu Ditiro dan Datu Ribanang datang ke Bima ketika Bima sudah bersih dari perlawanan Raja Salisi.

Penyebaran agama Islam kemudian diteruskan hingga pada tahun 1645 Datu Ditiro dan Datu Ribandang kembali ke Gowa. Kedua anaknya, Ince Nara Diraja dan Ince jaya Indra tidak ikut.

Kemudian sejak saat itu anak turunan Dato (Melayu) diistimewakan. Selanjutnya pada 1670 etnis Melayu kembali datang dengan kebudayaan baru. Mereka adalah orang-orang yang tidak sepaham dengan jatuhnya kekuasaan Gowa di tangan VOC. Akhirnya memilih untuk ke pulau Sumbawa.

Saat itulah Sultan Abdul Kahir Sirajuddin yang merupakan anak dari Sultan Abdul kahir memberikan Sori Kempa pesisir utara teluk Bima sebagai pemukiman baru. Di sinilah budaya-budaya yang mereka bawa ikut berkembang.

Kemudian karena terjadi banjir mereka berpindah ke Toloba, yakni tanah yang diberikan Sultan Abdul Kahir kepada gurunya dahulu tapi telah dikembalikan. Dari situlah budaya Rimpu ikut berkembang.

Rimpu dan tradisi melayu lainnya yang sudah berakulturasi kemudian disahkan oleh Hadat tanah Bima melalui rapat Paruga Suba bersama Sultan Abdul Khair Siirajuddin.

Pada abad 18–20 Rimpu masih digunakan oleh wanita Melayu dari anak Lebe (Imam dan Ulama). Penggunaan Rimpu semakin terlihat di tanah Bima pada 1920-an oleh wanita di Rasamae dan terus berkembang ke daerah Dompu pasca-letusan gunung Tambora tahun 1815 dan disebarkan melalui transmigrasi bercocok tanam. Rimpu disebut sebagai kanggih oleh suku Mbojo

Ada dua jenis rimpu, yakni Rimpu Colo dan Rimpu Pida. Rimpu Colo umumnya digunakan untuk wanita yang sudah menikah, sedangkan Rimpu Pida untuk yang belum berkeluarga.

Rimpu Pida | Sumber: msn.com
Rimpu Colo | Sumber: Wego.id

Kemudian Sagentu dan katente sebagai pelengkap. Sagentu untuk bagian bawah perempuan dan katente untuk bagian bawah laki-laki.

Pada zaman dahulu rimpu hanya memiliki satu warna, yakni berwarna merah tapi sekarang dikembangkan secara inovatif dengan bebagai corak dan warna. Berbagai macam warna tersebut didapat ari bahan tumbuh-tumbuhan atau lainnya.

Catatan kaki: mbojoklopedia.com | mbojoklopedia.com | journal.unj.ac.id | http://etd.repository.ugm.ac.id/

Pilih BanggaBangga33%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau67%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Dari Sarung, Suku Tengger Bisa Melihat Status Pernikahan Sebelummnya

Dari Sarung, Suku Tengger Bisa Melihat Status Pernikahan

Namanya Siomay Bentuknya Cilok, Makanan apa itu? Selanjutnya

Namanya Siomay Bentuknya Cilok, Makanan apa itu?

Kendita Agustin M.A
@kenditaagustin

Kendita Agustin M.A

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.