MT Haryono: Kepahlawanan yang Diabadikan Jadi Nama Jalan

MT Haryono: Kepahlawanan yang Diabadikan Jadi Nama Jalan

Letnan Jenderal MT Haryono © Kebudayaanindonesia.net

Sebagian besar masyarakat Indonesia mungkin hanya mengenal nama MT Haryono sebagai nama jalan yang ada beberapa kota, karena nama beliau biasa digunakan di jalan-jalan protokol.

Namun, apakah Kawan GNFI mengerti siapa sosok MT Haryono itu?

MT Haryono merupakan kepanjangan dari Mas Tirtodarmo Haryono. Ia adalah salah satu dari tujuh pahlawan revolusi Indonesia yang meninggal pada Tragedi Lubang Buaya.

Foto Letjend MT Haryono | Sumber: wikipedia.org

MT Haryono lahir di Kota Surabaya pada tanggal 20 Januari 1924, memiliki ayah bernama Mas Hasono Tirtodramo yang merupakan seorang asisten wedana di Kota Gresik. Kemudian, sang ayah dipindah tugaskan sebagai jaksa di Sidoarjo. MT Haryono sendiri lahir dalam perjalanan menuju Sidoarjo.

Pada masa pemerintahan Belanda, MT Haryono sempat mengenyam pendidikan di berbagai tempat. Sekolah pertama MT Haryono yaitu Europeesvhe Lagere School (ELS), kemudian melanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS).

Kedua sekolah itu merupakan sekolah bentukan Belanda. Ketika masa pendudukan Belanda telah usai dan berganti masa pendudukan Jepang, MT Haryono kembali melanjutkan pendidikannya di sekolah Ika Dai Gakko yang merupakan sebuah sekolah kedokteran pada masa pendudukan Jepang. Sayangnya, ia tidak melajutkan sekolahnya hingga selesai.

Aktif dalam segala kegiatan bela Tanah Air, mengantarkan MT Haryono menjadi seorang perwira. Tak hanya itu, beliau memiliki kemampuan fasih dalam tiga bahasa (Belanda, Inggris, dan Jerman) membuatnya mendapatkan peran yang cukup penting pada masa itu. Dari keahliannya, beliau disebut sebagai perwira penyambung lidah yang sangat dibutuhkan di berbagai perundingan.

Konferensi Meja Bundar l Sumber: kompas.com

MT Haryono pernah menjabat sebagai Sekretaris Delegasi Militer Indonesia pada Konferensi Meja Bundar, Atase Militer RI untuk negeri Belanda, dan terakhir sebagai Deputi III Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) yang akhirnya dianugerahi gelar Jenderal MT Haryono.

Perwira kelahiran Surabaya ini ikut bergabung dengan pemuda-pemuda lainnya untuk mempertahankan kemerdekaan RI usai diproklamirkan. Ia bergabung dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan memperoleh pangkat Mayor.

Namun, perjalanan hidup MT Haryono tak selalu berjalan mulus. Pada masa setelah kemerdekaan, banyak partai-partai yang mulai bermunculan. Salah satunya yakni partai komunis.

Partai tersebut sering melontarkan ide-ide yang dirasa cukup berisiko, seperti mempersenjatai kaum buruh dan tani atau yang biasa disebut dengan angkatan lima.

Akan tetapi ide-ide tersebut tidak disetujui oleh beberapa Perwira AD termasuk MT Haryono. Penolakan tersebut dilakukan karena takut akan adanya maksud lain, yakni mengganti ideologi Pancasila menjadi komunis.

Dengan penolakan tersebut, beberapa perwira tak terkecuali MT Haryono dimusuhi, hingga menjadi target pembunuhan Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam pemberontakan Gerakan 30 September 1965.

7 perwira korban G 30S PKI l Sumber: Suratkabar.id

Tepat pada tanggal 1 Oktober 2965 dini hari, MT Haryono beserta enam perwira lainnya yakni Jenderal TNI Anumerta Achmad Yani, Letjen TNI Anumerta Suprapto, Letjen TNI Anumerta S. Parman, Mayjen. TNI Anumerta Sutoyo S, dan Kapten Czi TNI Anumerta Pierre Tendean, diculik dan dibunuh secara membabi buta, kemudian jenazahnya dimasukkan kedalam sumur tua di daerah Lubang Buaya.

Ketujuh perwira yang tewas tersebut kemudian ditemukan dan segera dimakamkan secara layak di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Atas jasa-jasa yang telah diberikan MT Haryono kepada negara maka ia dianugerahi pangkat Letnan dan akhirnya menjadi Letnan Jenderal MT Haryono

Tugu kesaktian pancasila l Sumber: Dionsius arya bima suci

Dalam upaya menghormati ketujuh perwira tersebut, maka ditetapkanlah tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila dan sebagai hari libur nasional.

Tak hanya itu, lokasi pembunuhan kejam tersebut juga dibangun sebuah Tugu Kesaktian Pancasila yang ditujukan untuk mengenang jasa mereka.

Kini, jasa MT Haryono terus dikenang hingga namanya menjadi nama jalan di sebagian kota-kota Indonesia.


Catatan kaki: biografiku.com l tirto.id l merdeka.com

Pilih BanggaBangga33%
Pilih SedihSedih33%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi33%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Di Idulfitri Namanya Mudik, di Iduladha Namanya Toron Sebelummnya

Di Idulfitri Namanya Mudik, di Iduladha Namanya Toron

Ini Daftar Operator Telko yang Sudah Menjajal Jaringan 5G di Indonesia Selanjutnya

Ini Daftar Operator Telko yang Sudah Menjajal Jaringan 5G di Indonesia

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.