Mengenal Ikan Koi, Simbol Cinta dan Persahabatan

Mengenal Ikan Koi, Simbol Cinta dan Persahabatan

Ikan koi dalam kolam di salah satu rumah penghobi di Pendem, Kota Batu, Jawa Timur. Ikan ini sudah banyak dipelihara, dan dijadikan sebagai hiasan untuk mempercantik tampilan rumah © Foto: Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia

  • kan koi terkenal sebagai ikan peliharaan karena berwarna-warni cerah dan dianggap sebagai ikan pembawa keberuntungan, simbol cinta dan persahabatan.
  • Ikan koi masuk Indonesia sekitar tahun 1991 ketika Kaisar Jepang bernama Akihito memberi cinderamata puluhan ikan koi ke Presiden Soeharto.
  • Selain sebagai peliharaan, ikan koi juga bisa sebagai sumber penghasilan karena tingginya pangsa pasarnya dengan harga jual sampai jutaaan rupiah
  • Ikan koi merupakan salah satu komoditas ikan hias air tawar primadona di pasar internasional, dimana jumlah ekspor ikan hias di Indonesia masih yang tertinggi di dunia, dengan nilai eksopor US$ 27, 61 juta pada 2017

Bagi penghobi pemelihara ikan, tentu tidak asing lagi dengan jenis ikan koi. Ikan yang juga dikenal dengan sebutan karper tersebut memiliki nama ilmiah Cyprinus carpio. Sudah banyak yang memelihara baik itu dirumah makan, atau dijadikan hiasan untuk mempercantik tampilan rumah-rumah, ada yang ditaruh di dalam aquarium untuk dipajang di ruang tamu, dibuatkan kolam di halaman rumah, atau sebagai pajangan di dalam kamar untuk menemani istirahat.

Tidak hanya itu, ikan koi juga sering dijumpai di beberapa tempat wisata, untuk menambah kesan yang damai dan tentram. Salah satunya di Taman Rekreasi Selecta, Kota Batu, Jawa Timur.

Diiringi suara gemericik air yang mengalir dari pipa, ikan-ikan itu terlihat lihai berenang. Sesekali ada yang terlihat melawan arus, dan timbul ke permukaan air seolah sedang menyambut kedatangan wisatawan. Sebagian wisatawan nampak antusias melakukan swafoto dengan latar belakang ikan di dalam kolam atau aquarium yang berisi ikan mas dan ikan koi yang ada di taman wisata legendaris itu.

Lain di tempat wisata, di salah satu rumah makan Waroeng Bamboe yang berada di Kota Batu, juga dijumpai ratusan ikan koi warna-warni di dalam kolam berukuran besar. Ikan-ikan tersebut seolah menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelanggan yang datang. Sambil menunggu menu yang dihidangkan, para pengunjung bisa santai dan bermain-main dengan sekumpulan ikan yang konon dipercaya sebagai simbol cinta dan persahabatan itu.

Seekor ikan koi muncul dari dalam air. Ikan koi juga dikenal dengan sebutan karper, atau nama latinya adalah Cyprinus carpio | Foto: Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia

Membawa keberuntungan

Pada umumnya, ikan koi sering dijumpai diberbagai tempat. Terlepas dari itu, ikan koi juga bisa menjadi kesenangan tersendiri bagi para penghobi karena pola warnanya yang bermacam-macam, salah satunya seperti yang dirasakan oleh Fitra Agung Nugraha.

Pria asal Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu memilih memelihara ikan koi bermula ketika mencari referensi di internet tentang ikan yang bisa dipelihara. Kebetulan pada waktu itu dia baru selesai merenovasi rumahnya, dan membuat kolam minimalis. Untuk mempercantik rumah yang dia punya tersebut maka dipilihlah ikan koi sebagai hewan peliharaan.

“Pola warnanya yang putih, merah dan hitam kayaknya enak dilihat, kesannya tegas gitu, jadi saya suka” kata Fitra, mengawali ceritanya.

Dia mengaku, hobi memelihara ikan koi belum lama, baru 1,5 tahun. Fitra pun berbagi pengalaman, awal mulanya dia mengalami kesulitan karena masih belum mengerti soal bagaimana cara memelihara air dan menjaga sirkulasi untuk ikan koi, sehingga beberapa ikan yang dirawatnya itu mati.

Seiring berjalanya waktu dia mulai faham, pada akhirnya sisa ikan koi yang dia pelihara dari kecil tersebut bisa berkembang sampai saat ini. “Semula panjangnya 12 cm, sekarang ini ukurannya kurang lebih sekitar 48-50 cm,” imbuh pria yang merasa diuntungkan karena bisa menambah teman dari sesama penghobi ikan koi tersebut.

Sejumlah ikan koi berkelompok didalam kolam saat difoto pada malam hari. Ikan hidup pada air tawar ini yang mempunyai corak warna-warni | Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia
Beberapa literatur menjelaskan, ikan ini berasal dari Persia, lalu dibawa ke Jepang lewat Cina dan Korea | Foto: Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia

Ikan koi, selain dipercaya dapat membawa hoki atau keberuntungan tersendiri bagi penghobi. Dalam skala besar, dapat juga dijadikan sebagai sumber penghasilan untuk menghidupi kebutuhan keluarga. Seperti yang dirasakan Deky Arisandy, penghobi sekaligus pembudidaya ikan koi asal Pakisaji, Kabupaten Malang.

Deky mengaku, bisnis ikan koi selain bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup dalam sehari-hari, hasilnya juga bisa digunakan untuk menyekolahkan anak. Dia merasa beruntung, berkat ketekunanya, saat ini ada 10 kolam ikan koi yang dia garap, satu kolamnya rata rata berukuran 6×15 meter. Harga ikan yang dia jual pun beragam, untuk kualitas pasar dijual dengan harga Rp500 per ekor.

Sementara ikan koi yang memiliki kualitas kontes, dia banderol dengan harga mulai dari ratusan sampai jutaan rupiah. Pengalaman yang cukup berkesan baginya adalah, ketika ada seorang pengusaha dari Jakarta juga penghobi yang sama, pernah membeli ikan koi peliharaanya dengan harga Rp10 juta satu ekor.

Bagi Deky, bisnis ikan koi sangat prospek untuk kedepan, karena setiap tahun permintaan terus meningkat. Disisi lain, saat ini juga sering diadakan kontes ikan koi baik itu skala lokal maupun Nasional. Hanya saja untuk saat ini dia merasa terkendala dengan biaya ongkos pengiriman yang naik dua kali lipat dari sebelumnya, hal itu dinilai tidak sebanding dengan harga ikan koi yang dia kirim.

“Saya pernah dapat orderan dari Palu, harga ikanya Rp700 ribu per ekor, sementara biaya pengiriman sekarang ini kisaran Rp 1.400 ribu, atau bisa lebih. Ya rugi,” ujar Deky.

Dia melanjutkan, sebelumnya, dia bisa kirim ikan koi keluar daerah minimal empat kali dalam sebulan. Berhubung ongkos pengiriman saat ini mahal, jadi konsumennya mengalami penurunan 50 persen. “Rata-rata keberatan diongkos pengiriman, kalau tidak benar-benar hobi ya tidak jadi pesan,” imbuhnya.

Dalam waktu dekat, Deky sedang mempersiapkan untuk acara kontes ikan koi dengan skala nasional yang akan diadakan di kolam Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jatim.

Sementara itu, ada dua versi sejarah yang menjelaskan masuknya ikan koi ke Indonesia | Foto: Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia
Dua ekor koi didalam kolam saat difoto malam hari. Sekitar tahun 1991 Kaisar Jepang bernama Akihito memberi cinderamata puluhan ikan koi ke Presiden Republik Indonesia (RI) ke-2 | Foto: Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia

Warna-warni Ikan Koi

Di Jepang, ikan koi dinamakan Nishikigoi, kurang lebih bermakna ikan berwarna-warni. Di negeri sakura itu, ikan koi menjadi semacam simbol cinta dan persahabatan. Konon, ikan ini berasal dari Persia, lalu dibawa ke Jepang lewat Cina dan Korea. Mengalami perkembangan dengan pesat kurang lebih sekitar 160 tahun lalu.

Di Indonesia, ada dua versi sejarah yang menceritakan masuknya ikan Koi. Pertama, ikan koi mulai masuk ke Indonesia sekitar tahun 1991. Waktu itu, ketika Kaisar Jepang bernama Akihito memberi cinderamata puluhan ikan koi ke Presiden Republik Indonesia (RI) ke-2.

Versi kedua, dibawa oleh seorang penggemar ikan koi bernama Hani Moniaga pada tahun 1981-1982.

Corak warna dan motif yang dimiliki ikan koi yang beragam, maka tidak heran jika nama ikan yang hidupnya di air tawar ini dibedakan berdasarkan pola, bentuk tubuh dan corak warnanya. Diantaranya seperti jenis Shusui, Tancho, Shiro Utsuri, Matsuba, Ki Utsuri, Kumonryu, Asagi, Showa Sanshoku, Taisho Sanke, dan Kohaku, dll.

Ikan koi saat difoto pada malam hari di salah satu kolam milik penghobi di Pendem, Kota Batu, Jawa Timur. Di Jepang, ikan koi dinamakan Nishikigoi | Foto: Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia
Dua ekor ikan koi didalam kolam saat difoto malam hari. Ikan Koi dipercaya dapat membawa hoki atau keberuntungan tersendiri bagi penghobi | Foto: Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia

Salah satu Primadona ikan hias Air tawar

Ikan koi merupakan salah satu komoditas ikan hias air tawar yang sampai saat ini masih diakui menjadi salah satu primadona di pasar internasional, tergolong ikan hias kelompok mahal. Selain itu, harganya relatif stabil.

Adapun, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat, hingga saat ini jumlah ekspor ikan hias di Indonesia masih yang tertinggi di dunia. Hanya saja KKP merasa secara nilai masih kalah dengan negara tetangga, yaitu Singapura.

Badan Pusat Statistika (BPS) RI mencatat, ekspor ikan hias di Indonesia pada tahun 2017 mencapai US$ 27, 61 juta, atau tumbuh 12,5% dibandingkan tahun 2016 (US$ 24, 64 juta). Dalam 6 tahun terakhir, nilai ekspor tahun 2017 ini dianggap merupakan tertinggi dari tahun sebelumnya. Hal itu ditunjukkan, bahwa perdagangan komoditas ikan hias Indonesia terus mengalami perbaikan.

Sementara itu, 10 Provinsi yang menjadi pengekspor ikan hias terbesar pada tahun 2017 adalah Jawa Barat (27, 80%). DKI Jakarta (20,67%), Kalimanta Barat (17,31%), Bali (16,92%), Banten (6,46%), Kepulauan Riau (3,83%), Jawa Timur (3,57%), Kalimantan Selatan (1,56%), Sumatra Utara (0,38%), dan Sumatra Selatan (0,32%).

Sekumpulan ikan koi disalah satu kolam penghobi di Pendem, Kota Batu, Jawa Timur. Ikan koi namanya dibedakan berdasarkan pola, bentuk tubuh dan corak warna. Diantaranya seperti jenis Shusui, Tancho, Shiro Utsuri, Matsuba | Foto: Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia
Ikan koi merupakan salah satu komoditas ikan hias air tawar yang sampai saat ini masih diakui menjadi salah satu primadona di pasar internasional. Merupakan ikan hias kelompok mahal | Foto: Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia

Untuk wilayah provinsi, pada tahun 2017 yang mengalami pertumbuhan positif nilai ekspor ikan hias yaitu DKI Jakarta, Kalimantan Barat, Banten, Kepulauan Riau, Jawa Timur, Kalimantan Selatan dan Sumatra Selatan. Sementara, untuk Provinsi Jawa Barat, Bali dan Sumatra Utara dianggap mengalami pertumbuhan negatif atau penurunan nilai ekspor.

Adapun untuk ekspor, ada 10 negara utama yang menjadi tujuan ekspor ikan Hias Indonesia. Diantaranya adalah China, USA, Japan, Singapora, United Kingdom, Taiwan, Jerman, Belanda, Korea dan Perancis.

Berdasarkan data BPS, pada 2018 terlihat bahwa ekspor ikan hias Indonesia 2017 lebih dominan diekspor ke China, yaitu mencapai 27,50 persen dari total nilai ekspor ikan hias di Indonesia. Tahun 2017 nilai ekspor ikan hias ke China juga dianggap mengalami pertumbuhan sebesar 23,67 persen dibandingkan tahun 2016.


Catatan kaki: Ditulis oleh Falahi Mubarok dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Pilih BanggaBangga67%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi33%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Ini Ragam Cara Meraup Ikan Cuma-cuma di Pengambengan Jembrana Sebelummnya

Ini Ragam Cara Meraup Ikan Cuma-cuma di Pengambengan Jembrana

Kain Gringsing, Kain Termahal Di Indonesia Dan Serat Akan Makna Selanjutnya

Kain Gringsing, Kain Termahal Di Indonesia Dan Serat Akan Makna

Vita Ayu Anggraeni
@ayuvitaa

Vita Ayu Anggraeni

I work here because I value positivity. In the midst of social media era I wish that everyone builds harmony through positivity, so I start from myself.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.