Air Terjun Tunaohok Potensi Wisata Kampung Leng di Rimba Egon Ilimedo

Air Terjun Tunaohok Potensi Wisata Kampung Leng di Rimba Egon Ilimedo

Batu-batu besar yang berada persis di depan air terjun Tunaohok menjadi tempat favorit pengunjung untuk berfoto dengan latar belakang air terjun © Foto : Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia

  • Kampung Leng merupakan salah satu dari tiga kampung selain Waibukang dan Kokongpuat yang masyarakatnya sejak turun temurun menetap di dalam kawasan hutan lindung hingga sekarang.
  • Keberadaan air terjun Tunaohok di kampung ini tentunya bisa dimanfaatkan menajdi sebuah obyek wisata yang menarik wisatawan dan memang selalu saja ada wisatawan asing yang berkunjung ke tempat ini.
  • Selain menikmati keindahan air terjun Tunaohok, wisatawan juga bisa menyaksikan kehidupan masyarakat dusun Leng yang menetapa dalan kesederhanaan di dalam hutan.
  • Masyarakat bisa mengelola air terjun dan alamnya untuk wisata berbasis hutan yang bisa memberikan pendapatkan bagi masyarakat karena telah mengantongi izin Hutan Kemasyarakatan.

Potensi air terjun sebagai sebuah destinasi wisata di kabupaten Sikka bisa dihitung dengan jari. Berbeda dengan air terjun lainnya, air terjun Tunaohok berada di rimba kawasan hutan lindung Egon Ilimedo.

Air terjun ini berada di kampung Leng, pemukiman di dalam kawasan hutan lindung. Kawasan tersebut telah mendapat ijin kelola perhutanan sosial dengan skema Hutan Kemasyarakatan (HKm).Lokasinya di desa Wairterang kecamatan Waigete.

“Air terjun ini dinamakan Tunaohok.Tuna bahasa lokal untuk belut sementara Ohok merupakan bunyi suara katak yang biasa terdengar khususnya saat malam hari,” sebut Marianus Nong Lehan (32) kepada Mongabay Indonesia, pertengahan Juni 2019 lalu.

Menurut Marianus, sering ada wisatawan asing yang datang berkunjung ke air terjun ini. Biasanya didampingi oleh guide lokal dari cottage atau penginapan di pesisir pantai desa Wairterang kecamatan Waigete.

Pengunjung melintasi kali Tunaohok di dalam kawasan hutan Lindung HKm Wairtopo dusun Leng desa Wairterang kecamatan Waigete untuk menuju air terjun Tunaohok | Foto: Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia

Berjalan Kaki

Air terjun Tunaohok tergolong masih perawan. Untuk menjangkaunya butuh perjuangan ekstra. Pasalnya, air terjun ini berada di dalam kawasan hutan lindung yang jauh jalan raya sehingga harus ditempuh dengan berjalan kaki.

Dari desa Nangatobong kecamatan Waigete, perjalanan ke air terjun ditempuh dengan berjalan kaki, melewati puluhan hektar sawah warga.

Air yang mengalir di saluran air persis di sisi kanan persawahan terlihat jernih. Perjalanan pun dimulai dengan menyusuri saluran air. Harus berhati-hati menjejakan kaki di atas saluran air yang terkadang licin ditumbuhi lumut.

“Kalau melewati desa Nangatobong perjalanannya lebih cepat. Jaraknya hanya sekitar 3 kilometer dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak,” sebut Marianus.

Selepas areal persawahan, perjalanan dilanjutkan melewati sebuah kali selebar sekitar 3 meter. Hamparan hutan dengan pepohonan tinggi menjulang berusia puluhan tahun pun menyambut, tanda batas kawasan hutan lindung.

Pohon Ketapang dan Ketimis (Protium javanicum) berdiameter satu meter bersanding dengan pepohonan lokal lainnya. Semuanya berdiamater lebih dari 50 sentimeter.Sisa madu hutan yang telah dipanen di cabang pohon Ketimis masih terlihat jelas.

“Kalau dari desa Wairterang jalannya lebih mendaki dan terjal dibandingkan dari desa Nangatobong. Perjalanan paling memakan waktu sejam untuk tiba di air terjun Tunaohok,” kata Marianus.

Usai melewat tanjakan dengan kemiringan 30 derajat menyusuri hutan lindung sejauh sekitar 3 kilometer, kebun mente mulai terlihat. Hampir semua pohonya terlihat sedang berbunga.

Bebatuan besar masih terdapat di sepanjang jalur kali Tunaohok desa Wairterang kecamatan Waigete kabupaten Sikka yang berada di dalam kawasan hutan lindung Egon Ilimedo | Foto: Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia

Wisata Alam

Air terjun Tunaohok tergolong merupakan destinasi wisata yang kurang populer. Bahkan dinas Pariwisata kabupaten Sikka pun tidak menjadikannya sebagai sebuah destinasi wisata. Namanya pun belum pernah diketahui.

Tapi bagi para pemilik penginapan dan cottage di pesisir pantai Wairterang kawasan Gugus Pulau Teluk Maumere, nama air terjun ini cukup populer. Banyak wisatawan direkomendasikan untuk melihat keindahannya yang tersembunyi.

Hendrikus Sukardi pemilik Sunset Cottage kepada Mongabay Indonesia mengakui, banyak wisatawan asing yang menginap di tempatnya selalu direkomendasikan berkunjung ke air terjun Tunaohok.

Menurutnya, wisatawan yang suka petualang sangat menyukai destinasi ini sebab tempatnya masih perawan. Untuk menjangkaunya pun harus berjalan memasuki kawasan hutan lindung dan butuh waktu lama.

“Selain melihat air terjun, wisatawan asing juga sangat senang karena bisa melihat secara langsung kehidupan masyarakat di dalam kawasan hutan yang jauh dari gemerlap kehidupan modern,” ungkapnya.

Wisatawan juga kata Hendrikus, bisa melihat monyet ekor panjang serta mendengar kicauan aneka burung yang masih dijumpai di dalam kawasan hutan.

Areal persawahan dan juga pohon lontar yang sedang diambil niranya untuk dijadikan arak (minuman alkohol lokal) menjadi sebuah pemandangan yang menarik untuk dilihat.

“Pemerintah seharusnya mengembangkan konsep wisata alam agar masyarakat juga diedukasi untuk mencintai lingkungan serta menjaga habitat satwa yang ada di kawasan hutan lindung,” ucapnya.

Patrisius warga Wairterang yang biasa mengantar wisatawan asing mengaku para backpacker sangat senang diajak menyusuri hutan. Air terjunnya setinggi± 15 meter ini pun berada di dalam hutan dan air kalinya sangat jernih dan bersih.

“Rata-rata yang kesana hanya wisatawan asing saja yang suka petualang. Rata-rata anak muda karena jalannya menanjak dan harus berjalan kaki. Tapi wisatawan asing sangat suka karena suasana kampung dan air terjunnya masih alami,” tuturnya.

Air terjun Tunaohok yang berada di hutan lindung Ehon ilimedo kawasan HKm Wairtopo kampung Leng desa Wairterang kecamatan Waigete kabupaten Sikka yang belum dikelola menjadi obyek wisata | Foto: Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia

Jaga Kelestarian

Hery Siswandi Kepala bidang Konservasi dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelolaan Hutan kabupaten Sikka menjelaskan, Izin Usaha Pemanfaatan (IUP) Hutan Kemasyarakatan (HKm) Wairtopo desa Wairterang kecamatan Waigete sudah terbit.

HKm Wairtopo diresmikan dengan SK Menteri Kehutanan No.6639/Men LHK-PSKL/PSL.0/12/2017 tertanggal 6 Desember 2017. HKm Wairtopo seluas 1.000 hektar dengan jumlah anggota sebanyak 206 orang.

Ada 6 kampung dalam kelompok Hkm Wairtopo yakni Wodong. Wairhekang dan Watubala yang berada di luar kawasan hutan namun masyarakatnya memiliki kebun di dalam hutan llindung.

“Sementara 3 kampung atau blok lainnya yakni Wairbukang, Leng dan Kokongpuat masyarakatnya menetap di area perbukitan di dalam kawasan hutan,” jelas Hery.

Keberadaan air terjun leng sebutnya, bisa dikelola menjadi salah satu aset wisata bagi warga kampung Leng karena masuk di kawasan HKm dan sudah ada izin. Jadi kelompok masyarakat pemegang ijin bisa melakukan pengelolaan jasa lingkungan.

Kalau ada pihak lain yang mau bermitra dan mengelola air terjun ini, maka wajib membuat Nota Kesepahaman dengan kelompok HKm dan UPT KPH Sikka.

“Tentunya harus memperhatikan aspek menjaga kelestarian hutan. Wisatawan pun bisa ke air terjun tersebut tetapi tetap harus menjaga kelestariannya,” pesannya.

Berandus Tobi, ketua RT di kampung Leng berharap agar pemerintah bisa membantu membenahi dan menata air terjun ini dengan melibatkan masyarakat. Bila air terjun ini dikembangkan jadi salah satu obyek wisata maka masyarakat bisa mendapat tambahan penghasilan.

Namun Bernadus meminta agar jangan sampai merusak kawasan hutan dan wilayah lahan garapan milik warga. Bertahun-tahun masyarakat menjaga kelestarian hutan dan setia tinggal di dalam kawasan hutan tanpa penerangan dan tentram.

“Perlu dikembangkan jadi obyek wisata tapi tetap menjaga kelesatrian hutan dan lingkungan sekitar. Jangan sampai keberadaan wisatawan menganggu kenyamanan dan ketentraman warga yang berdiam di dalam kawasan hutan,” pintanya.

Untuk mencapai air terjun Tunaohok pengunjung bisa menggunakan mobil angkutan umum dengan membayar Rp.20 ribu dan turun di kantor desa Nangatobong. Perjalanan selanjutnya ditempuh dengan berjakan kaki.

Bisa juga mengendarai sepeda motor ke arah kecamatan Waigete di sebelah timur kota Maumere hingga ke desa Nangatobong sejauh sekitar 35 kilometer. Dari kampung Leng, wisatawan hanya berjalan kaki sejauh sekitar 500 meter menyusuri kali.

Selain air terjun Tunaohok, di sebelah kiri di dekat kampung Wairbukang sejauh sekitar 500 meter, juga terdapat air terjun Wair Horet.


Catatan kaki: Ditulis oleh Ebed de Rosary dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Geliat Ekonomi Orang Seberuang di Lingkar Saran Sebelummnya

Geliat Ekonomi Orang Seberuang di Lingkar Saran

Selain Bumilangit, Ini Cinematic Universe Asal Indonesia Lainnya Selanjutnya

Selain Bumilangit, Ini Cinematic Universe Asal Indonesia Lainnya

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.