Belanja Bukan dengan Rupiah di Pasar Minggon Jatinan

Belanja Bukan dengan Rupiah di Pasar Minggon Jatinan

Pasar Minggon Jatin © Daka Tour

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Kota yang terkenal dengan batik dan kuliner khas Jawanya, mana lagi kalau bukan kota Pekalongan. Salah satu kota yang terletak di utara Jawa Tengah. Sebelum dibangun jalan tol Surabaya–Jakarta, kota ini sangat ramai dikunjungi atau disinggahi pemudik atau masyarakat yang melewati jalur pantai utara.

Pekalongan sempat menjadi jaringan kota kreatif dari UNESCO dalam kategori seni rakyat dan kerajinan. Pada Desember 2014 lalu, kota ini pernah dijuluki World’s City of Batik karena dinilai batik dari Pekalongan mempunyai keunikan tersendiri dan coraknya yang variatif.

Tak hanya produksi batiknya yang indah, kuliner dari kota ini juga tak kalah uniknya. Sebut saja nasi megono, nasi yang dihidangkan dalam setiap waktu ini berisi irisan nangka dan sambal dengan campuran bumbu kelapa.

Saat dihidangkan, umumnya nasi megono dalam keadaan hangat dan dicampur petai atau ikan bakar. Nasi megono ini berasal dari kata mergo yang berarti sebab dan ono yang bermakna ada.

Makanan-makanan tradisional ini mulai hilang seiring perkembangan zaman. Melihat hal itu, pemerintah Kota Pekalongan mengadakan acara atau semacam pasar kecil guna mengembalikan makanan-makan khas Pekalongan.

Sejak 2018 lalu, pemerintah menetapkan Hutan Kota Rajawali yang terletak di kabupaten Batang sebagai pusat kuliner tradisional Pekalongan. Usaha pemerintah dalam mengembangkan UMKM sukses diminati para penduduk Pekalongan maupun luar Pekalongan.

Sejak dibuka Pertengahan April 2018, Pasar Minggon Jatinan sudah dipeuhi masyarakat yang ingin menjajal dan bernostalgia dengan jajanan lawas. Baru beberapa jam setelah dibuka, semua makanan sudah laku terjual.

Pasar ini bernama Minggon Jatinan, berasal dari kata mingguan atau berarti menghabiskan hari minggu dan jatinan berasal dari jati yang berarti dikelilingi pohon jati.

Saat ini, total dari makanan yang dijual di pasar ini berjumlah 27 jenis makanan yang berbeda. Tak hanya nasi megono, kuliner khas Pekalongan lainnya seperti nasi jagung, srabi,kopi, kopi tahlil, garang asem, nasi uwet, nasiliet sangit, rebus-rebusan, dan semacamnya juga banyak disediakan.

Bupati Batang, Wihaji, mengharapkan adanya inovasi dan kreativitas dalam penyajian makan kuno ini, tanpa mengubah cita rasa dan kekhasan makanan itu sendiri.

“Minggon Jatinan salah satu program untuk mendukung Visit to Batang 2022 sebagai surganya Asia untuk back to nature atau kembali ke alam,” paparnya.

Acara ini tidak hanya menyajikan kuliner-kuliner lawas saja, namun juga menyediakan aneka permainan tradisional seperti egrang, bakyak, gasing dan lainnya. Penjual di pasar ini menggunakan pakaian tradisional khas Jawa.

Kemudian yang tak kalah uniknya dari pasar ini adalah sistem pembayarannya yang memakai koin tradisional atau koin kreweng. Satu koin kreweng dihargai senilai Rp 2.000 yang bisa ditukarkan untuk membeli makanan di pasar ini.

Sembari menikmati makanan, pengunjung bisa berfoto ria bersama keluarga dan menikmati pemandangan layaknya di dalam hutan. Suasana yang tawarkan seperti pada zaman kerajaan.

Sumber: Thia Soediro

Kemasan saat penyajian tidak menggunakan plastik, namun menggunakan kemasan alami seperti daun pisang atau daun jati guna menguragi sampah plastik. Kegiatan di pasar Minggon Jatinan ini berhasil mencapai penghasilan Rp 1,6 juta per UMKM. Angka ini sangat berpengaruh dalam pertumbuhan ekonomi kecil.


Catatan kaki: kumparan.com

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga70%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli10%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi20%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Merawat Gigi Secara Tradisional Ala Orang Indonesia Sebelummnya

Merawat Gigi Secara Tradisional Ala Orang Indonesia

Indonesia Ternyata Punya 26 Milyar Lobster Bertelur yang Siap Jadi Cuan Selanjutnya

Indonesia Ternyata Punya 26 Milyar Lobster Bertelur yang Siap Jadi Cuan

kevin naufal
@kevin_naufal

kevin naufal

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.