Belanja Bukan dengan Rupiah di Pasar Minggon Jatinan

Belanja Bukan dengan Rupiah di Pasar Minggon Jatinan
info gambar utama

Kota yang terkenal dengan batik dan kuliner khas Jawanya, mana lagi kalau bukan kota Pekalongan. Salah satu kota yang terletak di utara Jawa Tengah. Sebelum dibangun jalan tol Surabaya–Jakarta, kota ini sangat ramai dikunjungi atau disinggahi pemudik atau masyarakat yang melewati jalur pantai utara.

Pekalongan sempat menjadi jaringan kota kreatif dari UNESCO dalam kategori seni rakyat dan kerajinan. Pada Desember 2014 lalu, kota ini pernah dijuluki World’s City of Batik karena dinilai batik dari Pekalongan mempunyai keunikan tersendiri dan coraknya yang variatif.

Tak hanya produksi batiknya yang indah, kuliner dari kota ini juga tak kalah uniknya. Sebut saja nasi megono, nasi yang dihidangkan dalam setiap waktu ini berisi irisan nangka dan sambal dengan campuran bumbu kelapa.

Saat dihidangkan, umumnya nasi megono dalam keadaan hangat dan dicampur petai atau ikan bakar. Nasi megono ini berasal dari kata mergo yang berarti sebab dan ono yang bermakna ada.

Makanan-makanan tradisional ini mulai hilang seiring perkembangan zaman. Melihat hal itu, pemerintah Kota Pekalongan mengadakan acara atau semacam pasar kecil guna mengembalikan makanan-makan khas Pekalongan.

Sejak 2018 lalu, pemerintah menetapkan Hutan Kota Rajawali yang terletak di kabupaten Batang sebagai pusat kuliner tradisional Pekalongan. Usaha pemerintah dalam mengembangkan UMKM sukses diminati para penduduk Pekalongan maupun luar Pekalongan.

Sejak dibuka Pertengahan April 2018, Pasar Minggon Jatinan sudah dipeuhi masyarakat yang ingin menjajal dan bernostalgia dengan jajanan lawas. Baru beberapa jam setelah dibuka, semua makanan sudah laku terjual.

Pasar ini bernama Minggon Jatinan, berasal dari kata mingguan atau berarti menghabiskan hari minggu dan jatinan berasal dari jati yang berarti dikelilingi pohon jati.

Saat ini, total dari makanan yang dijual di pasar ini berjumlah 27 jenis makanan yang berbeda. Tak hanya nasi megono, kuliner khas Pekalongan lainnya seperti nasi jagung, srabi,kopi, kopi tahlil, garang asem, nasi uwet, nasiliet sangit, rebus-rebusan, dan semacamnya juga banyak disediakan.

Bupati Batang, Wihaji, mengharapkan adanya inovasi dan kreativitas dalam penyajian makan kuno ini, tanpa mengubah cita rasa dan kekhasan makanan itu sendiri.

“Minggon Jatinan salah satu program untuk mendukung Visit to Batang 2022 sebagai surganya Asia untuk back to nature atau kembali ke alam,” paparnya.

Acara ini tidak hanya menyajikan kuliner-kuliner lawas saja, namun juga menyediakan aneka permainan tradisional seperti egrang, bakyak, gasing dan lainnya. Penjual di pasar ini menggunakan pakaian tradisional khas Jawa.

Kemudian yang tak kalah uniknya dari pasar ini adalah sistem pembayarannya yang memakai koin tradisional atau koin kreweng. Satu koin kreweng dihargai senilai Rp 2.000 yang bisa ditukarkan untuk membeli makanan di pasar ini.

Sembari menikmati makanan, pengunjung bisa berfoto ria bersama keluarga dan menikmati pemandangan layaknya di dalam hutan. Suasana yang tawarkan seperti pada zaman kerajaan.

Sumber: Thia Soediro
info gambar

Kemasan saat penyajian tidak menggunakan plastik, namun menggunakan kemasan alami seperti daun pisang atau daun jati guna menguragi sampah plastik. Kegiatan di pasar Minggon Jatinan ini berhasil mencapai penghasilan Rp 1,6 juta per UMKM. Angka ini sangat berpengaruh dalam pertumbuhan ekonomi kecil.


Catatan kaki: kumparan.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

KN
AI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini