Mercusuar Cikoneng, Saksi Bisu Pembuatan Jalan Anyer-Panarukan

Mercusuar Cikoneng, Saksi Bisu Pembuatan Jalan Anyer-Panarukan

Mercusuar Cikoneng © instazu.com

Kata Anyer tentu sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Pasalnya Anyer merupakan bagian dari sejarah kerja rodi yang dilakukan oleh Herman Willem Daendels yang saat itu menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Sekilas informasi mengenai jalan raya hasil kerja paksa, pembuatan jalan ini meliputi jalan Anyer hingga Panarukan yang mencapai panjang hingga seribu kilometer.

Tujuan utama pembangunan jalan ini adalah untuk kepentingan militer, ekonomi, dan komunikasi. Dampak positif yang dapat diambil dari pembangunan jalan ini yaitu perjalanan Anyer-Panarukan yang dapat memakan waktu hingga satu bulan dapat dipercepat hanya menjadi 3-4 hari saja.

Jalan Anyer-Panarukan pada masa sekarang biasa dikenal dengan sebutan Jalan Pantura (Pantai Utara).

Terbentang dari ujung barat sampai ujung timur Pulau Jawa, jalan ini dianugerahi gelar The Grote Postweg. Jalan raya Anyer-Panarukan pada saat itu biasa disebut juga dengan jalan raya pos. Akibat pembangunannya, banyak korban berjatuhan karena kerja paksa.

Di balik pembuatan jalan Anyer-Panarukan tersebut, tersimpan fakta lain yakni bangunan Mercusuar Cikoneng yang menjadi titik nol awal pembuatan jalan Anyer-Panarukan.

Menara mercusuar Cikoneng l Sumber: istimewa

Mercusuar Cikoneng dibangun pada tahun 1885 oleh Belanda. Menara ini terletak di Kampung Bojong, Kecamatan Cikoneng. Memiliki tinggi 75,5 meter menara ini sempat mengalami perbaikan karena terkena letusan Gunung Krakatau pada saat itu.

Bangunan mercusuar ini berwarna serba putih dan memiliki 18 tingkat yang dihubungkan dengan 286 anak tangga dan memiliki luas ruangan hanya sebesar 2,5 meter.

Di puncak menara terdapat lampu yang berfungsi untuk penunjuk kapal-kapal yang melintasi perairan Laut Banten bagian utara.

Lokasi mercusuar yang baru ini berbeda 500 meter lebih ke daratan dari bangunan mercusuar yang lama, sedangkan untuk pondasi mercusuar yang lama dijadikan sebagai tugu titik nol kilometer.

Untuk mencapai puncak menara ini dibutuhkan tenaga ekstra dikarenakan ruangan menara yang tidak terlalu besar dan ditambah harus melewati 286 anak tangga.

Pemandangan dari atas mercusuar | Sumber: korantangerang.com

Namun jika telah sampai ke puncak menara, semua rasa lelah akan terbayarkan oleh keindahan pemandangan yang disugukan dari atas Mercusuar Cikoneng ini.

Hamparan laut dan pantai yang terbentang luas tersaji dari atas mercusuar tersebut.

Akan lebih indah lagi jika mengunjungi mercusuar ini di sore hari menjelang matahari terbenam, pemandangan sunset pun menyambut kedatangan para pengunjung.

Birunya laut bisa dilihat dari Mercusuar Cikoneng | Sumber: detik.com

Tak hanya pemandangan lautnya saja, dari atas mercusuar juga dapat melihat pemandangan jalan Anyer dan perbukitan hijau yang terbentang luas.

Kiprah mercusuar ini juga pernah menembus perfilman internasional, ketika masuk film The Last Days yang disutradarai oleh Sam Miller (1968).

Di balik keindahan alam yang tersaji dari atas Mercusuar Cikoneng ini, tersimpan cerita sejarah yang begitu mendalam dan berarti bagi masyarakat Indonesia.

Catatan kaki: situsbudaya.id l kumparan.com l indonesiakaya.com

Pilih BanggaBangga33%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang67%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Pecel Lele: Rasanya Menggoyang Lidah, Spanduknya Memikat Mata Sebelummnya

Pecel Lele: Rasanya Menggoyang Lidah, Spanduknya Memikat Mata

Sebuah Makna “Unity in Diversity” untuk Indonesia Selanjutnya

Sebuah Makna “Unity in Diversity” untuk Indonesia

Atika Puji
@atikaapjpw

Atika Puji

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.