PRUSA, Sebuah Pengabdian PPI Bursa Untuk Indonesia

PRUSA, Sebuah Pengabdian PPI Bursa Untuk Indonesia
info gambar utama

Perhimpunan Pelajar Indonesia di Bursa - Turki (PPI Bursa) telah sukses melaksanakan kegiatan berbasis pengabdian masyarakat bernama Pelajar Bursa untuk Indonesia (PRUSA) pada tanggal 16-22 Agustus 2019 di Desa Mekarmanik, Kecamatan Bojongmanik, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Kegiatan seminggu lamanya ini merupakan program kerja tahunan Divisi Sosial, Budaya dan Olahraga PPI Bursa yang ditargetkan untuk membangun desa-desa tertinggal sebagai bentuk pengabdian mahasiswa diaspora di Bursa untuk Indonesia. Dalam susunan kepanitiaannya, PRUSA juga terbuka pada mahasiswa di luar wilayah Bursa untuk menjadi relawan. Bersama-sama, 28 panitia dan 15 relawan menyukseskan kegiatan PRUSA perdana ini. Dalam PRUSA ini juga dihadirkan tamu undangan dari Turki sejumlah empat orang; Erol Öztamur (Founder International Damla Association), Umut Kılıç (Co-Founder International Damla Association), Canan Çakır (Guru SMA Internasional Imam Hatip) dan Meryem Ğülce (Siswa Bursa Nilüfer NOSAB).

PRUSA dalam proses perencanaan hingga pelaksanaannya menemukan banyak hambatan, terkait domisili panitia yang tersebar di Indonesia, bahkan ada yang di Turki, Jerman dan Tiongkok. Selain terkendala jarak, waktu persiapan yang singkat juga sempat membuat harapan PRUSA diatur rendah-rendah. “Perjuangan dimulai saat perekrutan panitia membentuk Keluarga Besar PRUSA, dilanjut pembahasan konsep dan detail acara yang tidak bisa berpapasan secara langsung untuk dibahas, dikarenakan domisili tinggal para panitia PRUSA tidak satu lokasi. Perjuangan amat kian terasa disaat acara berlangsung, di mana kesungguhan hati dan niat tulus ikhlas mengabdikan diri secara bersama pada negeri diuji saat itu,” Usamah Taqiyuddin, Ketua Panitia PRUSA menceritakan tantangan yang ia hadapi sebelum dan selama PRUSA berlangsung. “Tantangan adalah bukan hambatan apalagi keluh kesah yang harus disesalkan, tetapi lebih kepada kesungguhan untuk memperjuangkan dan menyukseskan,” pungkasnya.

Meski dalam pelaksanaannya tidak mudah, PRUSA berhasil membangun 5 sektor utama di Desa Mekarmanik; Pendidikan, Ekonomi, Kesehatan, Sosial Budaya dan Pariwisata. Dalam bidang pendidikan, ada sesi talkshow yang diisi oleh Panji Aziz Pratama (Founder dan CEO Isbanban Foundation) dan sharing session mengenai beasiswa pendidikan di Turki oleh Sidqy Waliyya (Siswi Hüdavendigar Imam Hatip International High School) dan Annisa Firdaus (Mahasiswi Uludağ University), pendidikan di Tiongkok oleh Arief Budiman (Mahasiswa Wuxi Institute of Commerce) dan pendidikan di Jerman oleh Hazrat Ayesha Radheya (Mahasiswi Julius-Maximillian Universität Würzbug) serta pembelajaran bahasa Turki langsung oleh Canan Cakır (Guru Hüdavendigar Imam Hatip International High School) dan Meryem Gülce (Siswi Bursa Nilüfer NOSAB Elementary School).

Dalam sektor ekonomi, ada seminar mengenai kewirausahaan di usia muda oleh Rahmat Hidayat (Ambassador Leader Club Halal Network International). Juga ada praktik ekonomi dan penanaman 100 bibit durian, yang kemudian 10% persen hasil panennya akan dialokasikan untuk beasiswa pendidikan anak Desa Mekarmanik. Dalam sektor kesehatan, ada seminar kesehatan tentang sanitasi oleh dr. Fadlika Harinda dan sosialisasi menyikat gigi oleh drg. Ufo Pramigi serta pengobatan gratis oleh Dompet Dhuafa. Sedangkan dalam sektor sosial budaya, ada kegiatan silang budaya antara budaya Indonesia dengan Turki.

Budaya Indonesia dikenalkan oleh Sanggar Tari Dispar Lebak dan Kang Nong Banten, sedangkan budaya Turki dikenalkan langsung oleh Erol Öztamur (Founder & Chairman International Damla Association) dan Umut Kılıç (Co-Founder & Vice Chairman International Damla Association). Kegiatan tidak hanya dilakukan di Desa Mekarmanik, lebih luas dari itu, panitia PRUSA memiliki misi untuk mengenalkan tempat pariwisata kepada orang-orang Turki. Perkampungan Adat Baduy, Pantai Tanjung Lesung dan Curug Putri menjadi destinasi mereka dalam sektor pariwisata. Di samping 5 sektor di atas, PRUSA juga membangun sistem pengairan di Desa Mekarmanik untuk memberikan solusi atas kelangkaan air yang kerap menjadi masalah.

Kehadiran PRUSA diharapkan menjadi salah satu solusi atas masalah keterbelakangan desa-desa di Indonesia dan menjadi jembatan aspirasi antara warga desa dengan pemerintah daerah. Lebih dari itu, PRUSA juga diharapkan bisa mengikat hubungan diplomasi Indonesia dan Turki menjadi lebih erat, seperti yang dituturkan oleh Erol Öztamur, “Aku bisa memastikan hubungan Turki dan Indonesia jadi lebih erat berkat PRUSA. Terutama pengetahuan orang-orang Indonesia yang tinggal di Desa Mekarmanik. Mereka jadi tahu dan cinta Turki. Aku pun merasa senang berada di Indonesia bersama teman-teman PPI Bursa. Teman-teman PPI Bursa sudah melakukan hal mulia yang saya harap semua pemuda di dunia melakukan hal yang sama.”

Sumber : PPI Bursa

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini