"Mempertahankan Harga Diri dengan Tradisi"

"Mempertahankan Harga Diri dengan Tradisi"

Ilustrasi keberagaman budaya Indonesia © Bukubiruku.com

“Tradisi mempertahankan harga diri dan menyelesaikan permasalahan dari Indonesia”

Judul salah satu unggahan foto di sebuah akun Instagram menarik perhatian saya. Pasalnya, tradisi yang dimaksud cukup mengerikan karena dengan perkelahian.

Manusia memang memiliki caranya sendiri untuk mempertahankan harga dirinya. Baik melalui prestasi yang dia ciptakan hingga tindakan yang menunjukkan bahwa dirinya berharga lainnya.

Di Indonesia beberapa daerah memiliki tradisinya sendiri untuk mempertahankan harga diri mereka. Termasuk tradisi Carok dari Madura dan dari Sulawesi Selatan yakni tradisi Sigajang Laleng Lipa yang baru saya temukan dalam unggahan sebuah akun Instagram tersebut.

Tradisi Carok dari Madura

Bagi masyarakat Madura, tradisi carok memiliki makna yang mendalam walaupun berkaitan dengan kekerasan dan berkaitan dengan perilaku saling menyakiti yang juga menggunakan benda-benda tajam.

Dalam bahasa Kawi Kuno, carok berarti perkelahian, dengan celurit sebagi senjatanya. Tradisi ini muncul di pulau Madura pada abad ke-18 Masehi pada zaman penjajahan Belanda.

Senjata celurit | Sumber: Lontarmadura.com

Tradisi tersebut dilakukan apabila harga diri merasa terinjak oleh orang lain. Carok dilakukan apabila adanya pelanggaran kesopanan, penghinaan, dan persoalan-persoalan yang emosional.

Pertarungan carok dapat dilakukan dengan duel satu lawan satu atau ngonggai dan dapat dilaksanakan ramai-ramai bersama banyak orang. Penikaman dari belakang atau nyelep juga kerap dilakukan.

Masyarakat Madura mengenal istilah “Lakona daging bisa ejai’, lokona ale tada’ tmbana kajaba ngero’ dara” yang berarti daging yang terluka masih bisa dijahit, tapi jika hati yang terluka tidak ada obatnya kecuali minum darah.

Pada tahun 1970-an carok dilakukan dengan satu lawan satu atau ngonggai, tapi setelah 1970-an carok dilakukan dengan nyelep menjadikannya lebih brutal.

Pelaksanaan carok juga bersyarat yakni orang yang merasa harga dirinya terluka mendatangi rumah yang membuat masalah untuk memberikan peringatan secara baik-baik.

Intinya, coba diselesaikan secara kekeluargaan, barulah ketika tidak ada jalan keluar maka carok dilaksanakan setelah tiga kali adanya pertemuan tapi tidak berbuah hasil.

Biasanya orang yang terluka harga dirinya akan membawa celurit ke pembuat masalah dan menentukan kapan carok dilaksanakan. Sebelum melaksanakan carok, mandi besar wajib dilakukan sebagai tanda bahwa mereka siap mati.

Cara meletakkan celurit juga memiliki makna, biasanya meletakkan celurit di bawah tulang rusuk bagian kiri agar mudah mengambilnya saat duel dimulai.

Tempat terpencil menjadi pilihan dan memang sengaja menghindari pemukiman agar tidak ada yang menyaksikan duel tersebut, sehingga keluarga di rumah hanya bisa berdoa jika keluarga pulang dengan baik-baik saja berarti dia menang tapi jika yang pulang adalah celuritnya berarti kalah. Pemenanglah yang membawa celurit tersebut ke rumah.

Saat ini carok sudah jarang dilakukan karena masyarakat Madura pun menyadari adanya kekerasan sebagai tindakan melanggar agama dan negara.

Tradisi Sigajang Laleng Lipa

Tradisi Sigajang Laleng Lipa atau dikenal juga dengan Sitobo Lalang Lipa, dilakukan dengan baku tikam atau assigajangeng.

Tradisi ini sudah kerap dilakukan sejak zaman kerajaan Bugis ketika dua belah pihak berseteru, tapi merasa sama-sama benar dan tidak mau harga dirinya terinjak. Masyarakat Bugis memiliki sifat yang disebut siri yakni menjunjung tinggi rasa malu mereka akan merasa malu ketika harga diri mereka terinjak.

Sigajang Laleng Lipa | Sumber: Kumparan.com

Masyarakat Bugis juga mengenal istilah “jika siri suda diijak maka jalan terakhir yang dilakukan yaitu massigajang laleng lipa atau bertarung dalam sarung menggunakan badik.

Apabila masalah yang dihadapai oleh kedua pihak tidak dapat diselesaikan, maka cara terakhir adalah dengan baku tikam tersebut. Masyarakat Bugis melaksanakan tradisi tersebut dengan memilih jagoan dari keluarga sebagai perwakilan dari keluarga.

Mereka akan menggunakan badik, yaitu senjata khas masyarakat Bugis. Badik dulu digunakan sebagai alat pertanian dan pertahanan diri ketika merasa terancam.

Senjata ini dulu dinamakan Kalio, dan seiring berjalannya waktu berganti nama menjadi badik, dan berfungsi sebagai alat penjagaan diri atau siri.

Senjata Badik | Sumber: Liputan6.com

Konon badik memiliki unsur magis karena diberi kutukan di dalamnya dan dilumuri racun yang kuat, hingga pernah mengalahkan pasukan Jepang dan membunuh para bangsawan yang berkhianat. Badik juga dipercaya dapat menjaga bayi dari makhluk halus atau manusia jahat, sehingga seorang anak Bugis sudah dipersiapkan sebilah badik.

Selain bertarung menggunakan badik, masyarakat Bugis akan bertarung di dalam sarung. Sarung difungsikan sebagai batas arena pertandingan.

Selain sebagai batas arena pertandingan, sarung juga sebagai simbol persatuan dan kebersamaan suku Bugis Makassar. Kedua orang yang sedang saling tikam di dalam sarung tersebut berarti menunjukkan diri mereka ada di dalam satu tempat dan ikatan yang menyatukan atau ikatan kebersamaan antar manusia.

Hasil akhir dari tradisi tersebut tidak akan melahirkan dosa warisan dan tidak ada persoalan lain yang timbul akibat pertarungan tersebut. Dengan begitu tidak akan ada pertarungan lanjutan setelah berakhirnya sigajang laleng lipa.

Pertarungan tersebut diiringi dengan musik tradisional sebagai pertunjukan yakni suling dan gendang sebagai tanda pertarungan dimulai. Badik sebagai senjata diselipkan di pinggang, setelah pertarungan dimulai saling menyabet badik.

Kalau dulu bisa dibiarkan hingga dua-duanya terluka, tetapi untuk sekarang sebagai warisan budaya masyarakat Bugis dan sebagai pertunjukkan.

Biasanya jika sudah mulai bertarung dan terlihat akan terbawa emosi, maka ada yang menenangkan. Sarung yang dikenakan oleh pemain bisa robek karena sabetan dari badik.

Tradisi di atas memang terlihat mengerikan, tetapi setiap tradisi memiliki makna yang mendalam bagi suku yang melaksanakannya. Bisa menjadi warisan budaya yang unik untuk Indonesia.

Sumber: kumparan.com | intisari.grid.id | budaya-indonesia.org | kumparan.com | jawapos.com | etnis.id | suarasosial.com | boombastis.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau100%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Uniknya Deretan Perhiasan Tradisional Khas Aceh Sebelummnya

Uniknya Deretan Perhiasan Tradisional Khas Aceh

Titipan Harapan Golongan Hutan Pada Jokowi di Periode Kedua Kepemimpinannya Selanjutnya

Titipan Harapan Golongan Hutan Pada Jokowi di Periode Kedua Kepemimpinannya

Kendita Agustin M.A
@kenditaagustin

Kendita Agustin M.A

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.