Museum Sang Nila Utama: Pusat Studi Sejarah Melayu di Pekanbaru

Museum Sang Nila Utama: Pusat Studi Sejarah Melayu di Pekanbaru
info gambar utama

Minggu lalu saat saya ke Singapura, saya menyusuri Singapore River sambil mendengarkan pemandu tur saya menceritakan sejarah negara itu. Kemudian ia menunjukkan terdapat lima patung tokoh pendiri Singapura yang terletak di pinggir sungai.

Pandangan saya langsung tertuju pada patung Pangeran Sang Nila Utama. Di sana tertulis asalnya yang ternyata dari Palembang. Tidak hanya itu, ternyata di Pekanbaru pun terdapat museum yang menggunakan nama yang sama dengan pangeran ini, lho!

Lima patung pendiri Singapura | Sumber: Jolygram
info gambar

Perjalanan awal museum Sang Nila Utama

Sebenarnya nama museum ini adalah Museum Negeri Riau, namun masyarakat lebih mengenal dengan Museum Sang Nila Utama.

Dibuat di awal tahun 1990, kini museum ini memiliki lebih dari 5.000 koleksi. Mulai dari koleksi naskah kuno, mata uang dan stempel, hingga hewan-hewan yang diawetkan.

Semua koleksi ini merujuk pada sejarah peradaban Melayu di Sumatra, disebabkan karena Riau adalah pusat budaya Melayu di Indonesia. Museum ini didirikan karena banyaknya benda-benda dan sumber daya alam yang harus dilestarikan.

Pengumpulan benda di museum ini telah dilakukan sejak tahun 1977 sebelum akhirnya mulai dibangun pada tahun 1984.

Pemandangan dalam museum | Sumber: Objek Wisata Riau
info gambar

Siapa Pangeran Sang Nila Utama?

Sang Nila Utama adalah pangeran dari Palembang yang menemukan pulau Temasek yang kini menjadi Singapura di tahun 1299.

Ia merupakan keturunan dari pasangan Sang Sapurba dan Wan Sundaria, anak dari Demang Lebar Daun, sang penguasa Palembang saat itu.

Kemudian Sang Nila Utama menikah dengan Wan Sri Bini dan menjadi raja di Bintan sebelum akhirnya pindah ke Singapura.

Patung Sang Nila Utama di Singapura | Sumber: Wikipedia
info gambar

Museum Sang Nila Utama dulu dan kini

Sebelum dibuka, museum ini dibangun dalam beberapa tahap selama dua puluh tahun.

Dimulai dengan pembebasan lahan seluas 19.930 meter persegi, kemudian dilanjut dengan membangun beberapa ruang untuk kantor dan pameran benda koleksi.

Setelah diresmikan di tahun 1990, kepala museum baru terpilih empat tahun kemudian, yaitu Prof. DR. Edi Sedyawati, tepatnya pada 9 Juli 1994.

Kegiatan yang dilaksanakan di museum dibagi menjadi dua, yaitu kegiatan pembinaan museum dan yang berhubungan dengan masyarakat.

Lokasi museum ini di Jl. Sudirman, Pekanbaru, Indonesia. Buka setiap hari pukul 08:00-13:00 WIB dan gratis untuk umum.

Catatan kaki: Kebudayaan Indonesia | Riaumagz

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

NG
AI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini