Jember Fashion Carnival (JFC) Kehilangan Dynand Fariz

Jember Fashion Carnival (JFC) Kehilangan Dynand Fariz

Jember Fashion Carnival 2019 © google.com

Tanpa perlu dijelaskan, orang Jember pasti akan langsung tahu apa itu Jember Fashion Carnival atau JFC.

Ajang peragaan busana ini digagas oleh Dynand Fariz, seorang perancang busana kelahiran Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo Jember. Orang Jember patut bangga karena JFC tidak hanya sekadar menjadi pertunjukan karnaval lokal, melainkan telah menjadi ajang berlevel nasional.

Presiden Jokowi pernah hadir di pagelaran JFC tahun 2017. JFC bahkan telah menjadi ajang internasional. Hal ini terbukti bahwa JFC menduduki peringkat pertama sebagai karnaval terbaik se-Asia dan peringkat ketiga di dunia, setelah Rio de Janiero Carnival di Brasil dan Pasadena Flower Carnival di Los Angeles Amerika Serikat.

Karnaval JFC digelar pertama kali tahun 2003. Hingga kini JFC akan memasuki perhelatan ke-18 kalinya. Pada tahun 2019 ini, JFC sedianya akan diselenggarakan 31 Juli hingga 4 Agustus 2019 mendatang, dan rencananya akan diikuti oleh 6.000 orang peserta.

Tahun ini, JFC mengambil tema “Tribal Grandeur” atau “Keagungan Suku-Suku Bangsa”. Dengan tema tersebut, akan ditampilkan rancangan karnaval fesyen dari 8 suku terkemuka di dunia, termasuk di Indonesia.

Suku-suku bangsa yang akan diangkat antara lain Suku Aztec dari Meksiko, Suku Mongol dari Mongolia, Suku Zulu dari Afrika Selatan, Suku Viking dari Norwegia, Suku Karen dari Thailand, Suku Hudoq atau Dayak Kalimantan Timur dan Minahasa dari Indonesia Serta Suku Polinesia.

Menteri Pariwisata, Arief Yahya, mengapresiasi keberadaan festival karnaval produk Jember tersebut dan berharap agar kehadirannya mampu menginspirasi festival karnaval lainnya di daerah untuk mampu mencapai level serupa.

Namun sayang perhelatan JFC ke-18 pada Agustus mendatang, akan berlangsung tanpa keikutsertaan presiden sekaligus pendirinya. Dynand Fariz, sang pendiri, meninggal dunia pada 17 April 2019 di RS Jember Klinik karena infeksi saluran pernafasan di usia 55 tahun.

Dynand Fariz meninggal dengan mengukirkan karya besar yang membanggakan masyarakat Jember di mata dunia. Namun ada satu cita-cita Dynand Fariz yang belum tercapai yakni terwujudnya Museum Karnaval di Kabupaten Jember.

Ia menginginkan Jember memiliki sebuah museum yang nantinya memajang aneka kostum karnaval yang pernah ditampilkan oleh JFC dan karnaval-karnaval di kota lain di Indonesia.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau100%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Bondowoso, dari Kota Tape Jadi Republik Kopi Sebelummnya

Bondowoso, dari Kota Tape Jadi Republik Kopi

Namanya Siomay Bentuknya Cilok, Makanan apa itu? Selanjutnya

Namanya Siomay Bentuknya Cilok, Makanan apa itu?

shulhan kholidi
@shulhan87

shulhan kholidi

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.